Kerajinan Tangan

5 Hal yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Teh

Saya suka teh. Biasanya saya ngeteh pakai perasan lemon atau madu, tapi seringnya tanpa gula. Kalau lagi makan di luar atau sekedar nongkrong pun seringnya saya pesan teh tawar. Kebiasaan saya ini kerap memunculkan pertanyaan dari orang sekitar, “Kenapa teh tawar sih, Win? Diet gula ya?” Kalau lagi males, saya menjawabnya dengan sekali angguk. Kalau enggak, ya saya jawab dengan, “Teh tawar lebih enak dari teh manis, tau. Ada sepat-sepatnya gituuuh!” (ngomongnya a la iklan air mineral yang ada manis-manisnya itu). Nah, gara-gara keseringan minum teh tanpa gula, lidah saya jadi lebih peka terhadap rasa teh. Jadi ngeh kalau teh di kedai ini kurang enak, sementara teh di warung sono warbiyasak.
Lalu beberapa waktu kemarin saya ketemu Mbak Inez, si kakak perempuan ketemu gede itu ngajak saya untuk datang ke workshop bertema Tea Tasting 101 di Oost Koffie & Thee. Di pikiran saya workshop ini akan berlangsung layaknya Afternoon Tea khas London gitu – ngeteh cantik – makanya saya mengiyakan. Bahkan seminggu sebelum acara saya sempet nge-WA Mbaknez untuk tanya jam berapa workshop dimulai yang kemudian dijawab “Masih minggu depan, Non -.-”

Mon

maap, aing kelewat semangat HAHAHA.
Tea Tasting 101
Ternyata setelah sampai di Oost Koffie & Thee pada 13 maret 2016 lalu, apa yang melayang-layang di kepala saya langsung lenyap. Workshop yang diisi langsung oleh Widyoseno Estitoyo, sang pemilik café sekaligus pemilik Havelteh, sukses mematahkan perkiraan saya. Tea tasting di sini ya berarti belajar terminologi teh sekaligus mencoba langsung beragam seduhan jenis teh. Hot and cold brew.
Jadi sebenarnya teh itu apa sih?
Nih saya jelaskan 5 hal yang perlu kamu ketahui dari teh :

1. Teh Berbeda dari Wedang

Teh sebenarnya adalah minuman yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun tanaman Camellia Sinensis yang sudah dikeringkan. Inget ya, dari Camellia Sinensis. Kalau minuman hasil seduhan daun mint, bunga rosela, atau jahe itu sebenarnya bukan teh, melainkan wedang. Masyarakat kita emang masih suka menyamakan teh dan wedang padahal dua minuman itu berbeda. Kayak aku dan kamu gitu deh, beda.
Teh Campuran
Tanaman teh sendiri awalnya dibudidayakan di Cina, lalu menjalar ke Jepang serta kawasan Asia lain, kemudian diimpor oleh Eropa serta Amerika. Nah, Afrika kan nggak termasuk di daerah penyebaran tuh, makanya masyarakat Afrika yang kepengin minum teh biasanya membuat minuman seduhan dari semak-semak yang dikeringkan. Kasihan ya 🙁 tapi kalau nggak gitu mereka nggak bakal sekreatif ini. Bayangkan, nyeduh semak belukar lho! Trus dulu di awal kemunculannya, teh itu barang mahal yang biasa dikonsumsi untuk pengobatan dan minuman para bangsawan, jadi rakyat jelata yang pengin ngeteh juga harus memutar otak. Salah satu caranya adalah dengan mencampurkan daun teh dengan beras atau jagung lalu dikeringkan bersama. Dulu cara ini dipakai sebagai upaya penghematan, tapi sekarang beras dan jagung justru dipakai untuk memperkaya rasa teh. Bahkan ada yang mencampur teh dengan bunga-bungaan seperti mawar dan melati. Ada juga yang dicampur dengan buah, semisal pisang.

2. Daun Teh Sangat Sensitif

Penyimpanan Teh

Kayak perasaan kamu ya, sensitif

Meski sama-sama memiliki kafein, ternyata untuk masalah sensitifitas, teh jauh berbeda dari kopi lho. Kalau kopi memiliki aroma kuat dan sering dipakai untuk menghilangkan atau meredam aroma barang lain, teh justru kebalikannya. Daun teh malah dapat dengan mudah menyerap udara, cahaya, dan bau-bauan di sekitarnya. Makanya kita nggak boleh asal taruh kalau mau aroma serta rasa teh tetap terjaga. Sebaiknya disimpan di tempat kedap udara dan tidak terpapar cahaya langsung. Sifat daun teh yang kering dan renyah juga bisa berubah jika diletakkan di ruangan terbuka. Emang susah-susah gampang kok merawat teh itu, sudah saya bilang kan, mirip dengan perasaan.

3. Teh Dibedakan Berdasar Proses Pengolahannya

Empat Jenis Teh

Walaupun berasal dari satu tanaman tapi teh memiliki banyak jenis lho. Ada teh putih, teh hijau, oolong, dan teh hitam. Yang membedakan keempatnya adalah proses pengolahannya. Jadi, untuk menjadi teh siap seduh, pucuk dan/atau daun teh yang sudah dipetik masih harus melewati beberapa tahap, di antaranya pelayuan, oksidasi, penggulungan, dan pengeringan.

Daun teh putih mengalami pemrosesan yang paling sedikit dari semua jenis teh. Dengan proses yang lebih singkat, teh putih memiliki antioksidan tertinggi dan dipercaya mempunyai khasiat yang warbiyasak. Dalam proses pengolahannya, daun teh putih memang sengaja dihindarkan dari sinar matahari agar pembentukan klorofil tidak terjadi. Karena spesial dan berkhasiat itu lah teh putih diproduksi lebih sedikit dibandingkan jenis teh lain. Akibatnya harga daun tehnya menjadi jauuuuuh lebih mahal jika dibandingkan teh lainnya.
Berbeda dengan teh putih yang pengolahannya dikit banget, teh hijau justru dioksidasi dalam waktu satu hari. Daunnya diambil dari pucuk paling segar yang segera diolah hari itu juga. dauh teh hijau yang sudah melalui oksidasi akan digulung dan dikeringkan. Proses penggulungannya pun macam-macam, ada yang digulung panjang lalu ketika diseduh akan mekar menjadi lembaran dan ada juga yang dibentuk seperti bola-bola kecil atau biasa disebut gun powder. Teh ini juga memiliki banyak khasiat lho. Buat kamu yang lagi diet pasti sering kan disarankan untuk minum teh hijau? Itu karena teh ini dipercaya mampu mengikat lemak dan mencegah beragam jenis kanker.
Daun Teh Kering
Sementara itu teh oolong adalah daun teh yang dioksidasi selama 2-3 hari. Lebih lama dari teh hijau namun lebih singkat dari teh hitam. Oolong sendiri sering disebut sebagai teh banci karena sebenarnya termasuk teh hijau (70%) tapi memiliki beberapa sifat teh hitam (30%). Labil gitu deh dia. Daun Camellia Sinensis yang dipakai untuk oolong adalah 3 daun teratas yang kondisinya tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Tuh, kan, dia ada di zona abu-abu lagi. Tapi tenang, soal khasiat, oolong dipercaya mampu menjaga kesehatan kulit dan tulang. Biar labil tapi tetap oke.
Nah, kalau teh hitam lain lagi cerita pengolahannya. Daun teh hitam melalui proses oksidasi yang ptidak sebentar, bisa sampai satu bulan. Lama ya? Banget. Karena oksidasi yang lama itu lah daun teh yang awalnya hijau berubah menjadi kecoklatan dan setelah melalui proses pengeringan akan menjadi kehitaman. Sebagian orang menyebut teh hitam sebagai teh merah karena ketika diseduh akan menghasilkan minuman berwarna merah. Ini nih teh umum yang biasa kita pesan untuk menemani beragam menu makanan. Mau itu soto, nasi pecel, sampai rujak cingur pun temannya teh hitam.

4. Tiap Jenis Teh Punya Cara Seduh Sendiri

Penyeduhan Teh
Selain punya cara pengolahan sendiri, tiap teh punya cara penyajian sendiri lho. Kemarin Mas Seno bahkan menyuguhkan dua cara seduh untuk tiap teh, yaitu dengan air panas dan air dingin. Jadi kalau ditotal ada delapan cara berbeda untuk minum teh. Kalian udah bisa bayangkan gimana kembungnya saya di workshop kemarin kan?
Jadi, karena tiap teh punya karakteristik dan rasa yang berbeda maka kita harus memperlakukan mereka berbeda-beda pula. Kalau salah bisa-bisa rasanya akan berubah, yang harusnya ada grassy-nya malah bisa berubah jadi rasa besi. Khan ndak asyiq. Menurut Mas Seno, teh putih baiknya diseduh dengan air bersuhu 80oC-85oC selama 3 – 5 menit agar rasa manis dan harum alaminya tetap terasa. Kalau teh hijau diseduh dengan air bersuhu 80oC-90oC selama 3 – 4 menit agar rasa grassy-nya tidak hilang. Oolong bisa diseduh dengan air bersuhu 85oC-90oC selama 3 – 4 menit agar efek grassy dan sepatnya nggak berubah. Sementara itu teh hitam bisa diseduh dengan air bersuhu 85oC-95oC selama 3 – 4 menit agar sepatnya kian terasa.
Hot and Cold Brew
Kalau nggak punya termometer, gimana cara ngukur temperatur airnya, Win? Kata Mas Seno, kita bisa mengukur suhu air dari gelembung didihnya. Jika gelembung didihan air masih ada di dasar panci dan ukurannya kecil-kecil, berarti suhu air masih di kisaran 70oC-80oC. Nah, kalau gelembungnya udah besar dan berada di permukaan air, berarti suhunya sudah sampai di 90oC-100oC. Kalau pengin coba seduh teh dengan air dingin juga boleh lho! Untuk kita yang biasa menyeduh teh dengan air panas, cara ini pasti terkesan aneh. Proses penyeduhannya emang lebih lama karena daun teh tidak langsung mengeluarkan warna seperti ketika dicampur dengan air panas. Tapi ternyata not bad kok hasilnya. Kemarin peserta workshop diberi kesempatan langsung untuk mencoba hot and cold brew. Teh putih yang diseduh secara panas dan dingin akan menghasilkan rasa yang berbeda. Yang panas rasa dan aromanya lebih sweet ketimbang dingin. Kalau teh hijau yang diseduh dengan air panas akan terasa lebih sepat. Sementara teh hitam justru tidak terlalu kentara perbedaannya saat panas dan dingin.
Oh iya, ada hal lain yang perlu diingat. Teh putih tidak boleh terlalu lama diseduh dengan air panas karena akan mengeluarkan rasa pahit seperti besi. Maka baiknya setelah 5 menit air seduhan dipisahkan dari daun tehnya. Kalau teh hitam sih sah-sah saja mau diseduh sepanas dan selama apapun. Tahan banting mah kalau teh hitam.

5. Side Dish Berbeda untuk Tiap Teh

Bagi saya ngeteh itu ya cuma minum teh. Masak air, seduh, minum selagi hangat. Baru kemarin di Tea Tasting 101 saya tahu kalau tiap teh itu punya pilihan side dish-nya sendiri.
Camilan yang Pas Saat Minum Teh
Teh putih, si dewinya segala teh itu paling baik dinikmati tanpa side dish. Nah, lho, tadi katanya mesti pakai camilan? Iya, itu untuk tiga yang lain. Untuk teh putih yang punya rasa dan aroma manis sebaiknya tidak dinikmati bersama makanan apapun agar kealamianya terasa. Kalau tetap pengin ngunyah, kamu bisa menikmati teh putih bersama sponge cake yang aroma dan rasanya tidak terlalu kuat.
Teh hijau boleh dikonsumsi bersama side dishyang memiliki aroma yang tidak terlalu tajam. Misal pie atau canapé yang manis. Tapi camilannya jangan terlalu banyak ya. Kan teh hijau dipercaya mampu menurunkan berat badan. Kalau nyemil > ngeteh ya bubar jalan laaah.. Jarum timbangan pasti melaju ke kanan.
Gimana kalau teh oolong? Hmm, karena teh yang satu ini mirip dengan teh hijau, maka teman ngetehnya pun nggak jauh beda. Mau sama kue lumpur, pisang goreng, atau roti juga nggak apa-apa. Akan lebih ahzeg lagi kalau ngetehnya ditemani cewek manis seperti saya (eh, gimana?)
Berbeda dari tiga temannya, teh hitam justru bisa dipadupadankan dengan hampir semua jenis makanan, bahkan yang beraroma tajam seperti daging sekalipun. Ini karena teh hitam punya karakteristik rasa sepat yang kuat sehingga mau dinikmati bersama side dish yang berasa kuat pun tidak akan mengurasi keaslian rasa teh hitam.

Kesimpulan

Oleh-oleh dari Workshop : Havelteh

Setelah ikutan workshop Tea Tasting 101 bersama Mas Seno di Oost Koffie & Thee akhirnya pikiran saya tercerahkan. Minuman yang biasa saya konsumsi pagi sore itu ternyata bwanyaaaaak banget jenisnya. Berbeda-beda pula proses pengolahan, penyeduhan, dan teman ngetehnya. Bahkan saya jadi tahu kalau rosela yang kadang saya seduh itu ternyata bukan teh. Pfft. Kena tipu abang penjualnya nih.

Oh iya, Mas Seno juga sempat berpesan kalau mau ngeteh baiknya menyeduh dari daun keringnya langsung, jangan dari teh kemasan siap minum yang biasa dijual di pasaran. Karena kita kan nggak tahu kalau minuman dalam botol dan kardus itu beneran teh atau bukan. Kalau nyeduh sendiri di rumah, minimal kita bisa lihat keaslian teh dengan menggunting tea bag-nya. Atau, kalau malas nyeduh sendiri, kamu bisa mampir ke Oost Koffie & Thee di Jalan Kaliwaron No. 60, Gubeng, Surabaya. Dijamin semua teh di sana asli. Wong ketika masuk café-nya aja langsung disambut kaleng-kaleng teh yang berjajar rapih kok. Gih ke Oost, siapa tahu ketemu Mas Seno dan bisa belajar ngeteh langsung 😀
Oost Koffie & Thee

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

clear-fix">