Belajar Mengatur Keuangan a la Millennials

Saya akhirnya sampai pada tahap di mana mengatur keuangan terasa begitu tricky. Akhirnya, setelah bertahun-tahun hanya menengadahkan tangan dan selalu menunggu aliran dana dari orang tua, alhamdulillah sekarang punya sumber penghasilan sendiri. Tapi tentu saja amanah ini disertai dengan “gileeee, ternyata ngatur duit itu ga segampang yang gue kiraaaaaa..”

Ini semua berawal dari emak yang bulan puasa lalu tiba-tiba mengaudit keuangan saya. Diawali dengan pertanyaan singkat “udah punya tabungan berapa?” saya pun dikuliti habis-habisan. Saya pun cuma diam pasrah. Ke mana semua duitnya? Kenapa nggak bisa nabung? Entaaaah~

Iya, iya tahuu.. Generasi millennials seperti saya ini emang susahnya minta ampun untuk menyisihkan sebagian uangnya demi savings. Selalu saja mengalir lagi keluar dengan mudahnya untuk menyalurkan hasrat dan keingintahuan, bisa jadi untuk traveling, mencicipi beragam hidangan resto/café kekinian, beli gadget terupdate, datang ke workshop ini itu. Banyak. Terlalu banyak kebutuhan, keinginan, dan tuntutan sosial yang perlu ditunaikan. Sampai-sampai kita lupa kalau banyak hal yang semestinya ada di nomor atas justru terjun bebas dalam tingkatan prioritas. Sebut saja rumah, kendaraan, asuransi kesehatan, dana jaga-jaga, dan lainnya. Saya nggak menyalahkan kamu dan kita kok, emang trendnya aja yang lagi seperti itu.

Di tengah keresahan saya terhadap “ke mana aja duit gue selama ini?” tiba-tiba saya menemukan kompetisi menulis bertemakan keuangan. Hadiahnya juga lumayan. Temanya juga cukup luasa sehingga bisa dikulik dari banyak sisi. Tapi nggak lucu dong kalau saya menulis soal keuangan tapi nggak bisa mengelola keuangan sendiri? Alhasil saya konsultasi dengan teman yang sekarang nyemplung di dunia keuangan. Apa sih yang perlu kita lakukan agar duit ga melulu habis? Bagaimana sih cara memulainya? So, here are some tips:

  1. Pisahkan rekening untuk menabung dan rekening untuk pengeluaran sehari-hari

Tips pertama ini terhitung ampuh. Saya sudah berhasil nyoba langsung. Walaupun pada awalnya terasa seperti kemalingan karena tiba-tiba uang harus pindah tempat, tapi kalau sudah terbiasa akhirnya fine-fine aja.

Jadi tiap habis gajian, segera pisahkan/sisihkan sebagian uangmu untuk tabungan. Mau ga mau. Harus. Kita jadi dipaksa untuk mengelola uang yang tersisa agar mampu mencukupi semua kebutuhan dan keuangan. Seorang teman saya bahkan ada yang langsung menarik tunai semua gajinya untuk kemudian dipisahkan berdasarkan pos-pos tertentu. Bakal lebih hemat lagi tuh.

 

  1. Catat semua aliran uang, baik yang masuk maupun keluar

Males banget nggak sih mencatat semua aliran uang? Jadi mesti bawa buku ke mana-mana gitu? Eh, enggak. Ada banyak cara untuk mempermudah kok. Zaman sekarang ada banyak banget aplikasi mobile yang menyajikan solusi tersebut. Saya sendiri pakai weple money. Selain di iOS juga ada di android, hanya saja UI/UXnya sedikit berbeda. Logonya yang icon celengan babi yaaa..

Dengan bantuan aplikasi kita bisa lebih gampang untuk input semua informasi pengeluaran, misal malam ini nongkrong di café trus lanjut nonton, nah ya udah semuanya dicatat deh. Untuk makan habis berapa, tiket nonton berapa, cemilan di dalam bioskop berapa, taksi online berapa, dll. Pas awal mungkin berasa rempong banget kudu input satu-satu, kudu inget tadi beli apa aja, tapi pas udah lihat report dan sadar seberapa besar pengeluarannya, dijami bakal tobat untuk beli hal-hal yang ga penting deh.

 

  1. Manfaatkan produk bank

Bank sebagai penyedia jasa penyimpanan uang sebenarnya punya banyak banget produk. Tentu sifatnya win-win solution ya. Buat yang merasa ribet untuk punya dua rekening, bisa cari produk bank yang otomatis memotong saldo per bulannya untuk tabungan. Bagi yang lebih kalem dalam hal pengeluaran mungkin bisa nabung sendiri untuk kemudian didepositokan setelah terkumpul banyak. Kalau kata emak, semua duit tabungan, baik itu menggunakan produk bank atau enggak, harus dianggap uang hilang. Nggak boleh diingat-ingat lagi.

 

  1. Investasi

Buat yang tabungannya udah mulai banyak, bisa lho mencoba untuk berinvestasi. Caranya ada banyaaaaak banget. Tapi sebelum menitipkan uang, pastikan investasi tersebut bukan abal-abal atau bodong. Or at least pastikan kamu paham aturan mainnya, jangan hanya karena ingin ikut-ikutan.

Ada sedikit saran, kalau emang belum berani untuk investasi tapi mau mengamankan uang, coba beli emas saja. Yaa, sebenarnya risky juga sih karena penjagaannya lumayan. Tapi kalau mampu beli yang batangan, bisa banget lho dititipkan ke ANTAM. Pada dasarnya itu kembali ke pilihan masing-masing sih, apalagi semua bentuk investasi menawarkan passive income yang berbeda-beda.

 

Beberapa tips di atas sebenarnya cuma serangkaian langkah preventif. Toh semuanya balik lagi ke diri masing-masing karena tiap orang keperluannya berbeda-beda meskipun akar masalahnya sama : selalu merasa kekurangan uang. Oh iya, satu tips lagi dari seorang teman tentang gimana caranya agar nggak merasa “selalu kekurangan” yaitu dengan cari rezeki yang halal dan kerja yang jujur. Eh, apa hubungannya? Gini deh, kalau kita melakukan pekerjaan yang halal, maka uang yang sampai di kita pun halal dan berkah. Apapun yang diberkahi Tuhan pasti memberikan manfaat, baik untuk diri sendiri, keluarga yang dinafkahi, maupun orang sekitar. Jadi berapapun pendapatan yang kita terima akhirnya akan dikeluarkan untuk kebaikan juga. Dan, bukankah segala kebaikan akan kembali datang sebagai kebaikan? Kita seringnya lupa bahwa kenikmatan bukan hanya dari uang, tapi juga kesehatan untuk bisa terus mencari nafkah. Bukan begitu?

Leave a Reply