Berlari Mencari Distraksi

 

Kemarin saya baru baca sebuah artikel yang bagus banget, tapi sayangnya lupa URLnya karena baca lewat ponsel di sela-sela jam kebangun tengah malam. Artikel tersebut berhasil menampar saya karena isinya adalah soal kecenderungan kita untuk mencari distraksi hidup melalui internet. Jadi, seperti yang udah kita pahami benar, internet itu punya sisi baik dan buruk. Di dalamnya terdapat begitu banyak informasi yang berasal dari segala sisi jagat raya. Meski tiap platform sudah berusaha membantu filterisasi informasi untuk penggunanya, namun sebaik-baiknya penyaring adalah diri sendiri.

Jika dikelompokkan, ada dua jenis informasi yang tersebar di internet, ada yang bersifat mendidik dan menghibur. Educate vs entertain. Di antara keduanya mana yang informasinya paling sering kita nikmati? You choose. Setiap orang, sadar atau tidak, dipaksa untuk mengkonsumsi informasi. Sekarang masalahnya adalah lu mau ngambil informasi yang model gimana, yang bisa bikin pinter atau yang cuma buat kepoin orang? Once again, you choose.

Saya nggak munafik sih, postingan orang-orang tuh emang banyak banget yang bikin penasaran. Rasa-rasanya internet, utamanya social media, sudah seperti panggung pembuktian. Isinya tentang siapa yang paling cakep, paling kaya, dan paling bahagia. Tanpa sadar kita kepengin melakukan hal yang sama, yaitu membuat orang terkesima dengan kehidupan kita. Gara-gara tuntutan tersebut, kita jadi suka banget kepo dengan urusan orang, menunggu-nunggu updatean dari orang itu, bahkan kalau nggak ada kabar, langsung berhembus gosip-gosip yang nggak enak didengar. Coba hitung deh, dalam sehari kamu menghabiskan berapa jam untuk sekedar entertain diri sendiri dengan nontonin gerak-gerik orang lain?

Banyak. Ada banyak sekali waktu terbuang.

Padahal waktu tersebut bisa banget lho dipakai untuk exploring something new di internet. Misalnya nontonin video tutorial and creating new thing, or maybe new project? Nyari inspirasi atau justru belajar masak. Kalau suka sinematografi, coba cari online coursenya deh.. buanyaaaaaak banget! Kalau suka nonton drama korea, coba cari scriptnya trus print. Jadi pas nonton, kita bisa sekalian belajar pronounce bahasa hangul. Internet itu luasnya masya Allah. Lu mau nyari apapun, ada. Nyari jodohpun konon bisa. Terus kenapa nggak kita pakai buat belajar aja kan?

Mungkin ada di antara kalian yang berpikiran kalau di internet itu banyak hoax, ga semua informasi bakal berguna. Iya, bener kok. Saya setuju banget. Internet itu emang udah kayak buah simalakama. Kalau nggak bisa nahan diri, bisa bablas kebawa arus informasi busuk. Menurut saya sih salah satu cara ampuh untuk menangkal hoax itu ya dengan memperkaya wawasan agar nggak gampang memperbesar hal remeh. Kalau kita banyak baca dan banyak belajar, maka kita juga akan mudah dikibuli orang. Nggak bermaksud gimana-gimana, tapi saya emang suka gemes kalau denger bunda cerita tentang satu informasi hoax. Kalau udah gini, saya suka langsung tanya “info itu dari siapa?” lalu saya tanya-tanya lagi soal si penyebar dan tempat di mana beliau menyebar info tersebut. Sekedar background checking aja sih. Setelah itu saya cari lagi tuh informasi untuk kemudian konfirmasi ke bunda tentang keabsahan berita tadi. Agak ribet, tapi ini emang harus dilakukan sebelum pikiran orang-orang terdekat saya berubah keruh dan emosinya gampang tersulut.

Jadi intinya gini, zaman sekarang kita emang suka banget nyari distraksi dari dunia nyata ke dunia maya. Iya kan? Kamu juga kan? Soalnya saya emang sering banget. Kalau lagi males berinteraksi dengan orang asing, saya lebih nyaman menghindari kontak mata dengan menunduk memandang gadget sambal menyumbat telinga. Kalau lagi butek di kantor juga sering tanpa sadar ngambil handphone dan ngecek updatean di media sosial. Kalau udah mau tidur juga kayaknya nggak afdol kalau nggak searching dulu. Rasa-rasanya berinternet udah bukan lagi hal yang dilakukan saat waktu luang, ya nggak sih? Malah jadi kayak kebutuhan primer setelah sandang, pangan, papan, dan kasih sayang. Makanya tujuan saya nulis ini sebenarnya cuma pengin menyadarkan kamu, lebih tepatnya kita, untuk lebih pintar dalam mengonsumsi informasi. Mau hanya sekedar info hiburan tanpa isi atau yang mendidik meski memerlukan effort buat mikir. You choose. Keduanya mungkin nggak bakal ngasih efek signifikan dalam waktu dekat, tapi bakal kerasa banget setelah dalam waktu lama.

Pada akhirnya semua kembali lagi ke kita. Mau nyari distraksi model apa, yang bisa membangun dan mengantarkan kita pada hal-hal baru atau sekedar memuaskan rasa penasaran yang semu?

You choose.

Leave a Reply