Memanusiakan Manusia,  Senandika

Buta warna dan Tugas Melukis

Adik saya buta warna. Sayangnya kami sekeluarga baru mengetahui hal ini ketika ia sudah beranjak dewasa. Bukan tak peduli, tapi dulunya kami kira tak ada yang salah dengan kedua matanya. Buktinya beberapa kali ia sempat memenangkan kejuaraan menggambar saat masih TK dan awal SD. Beberapa piala dan piagam berhasil ia bawa pulang, membuat kami semua bangga tak terkira. Siapa sangka kini si bungsu justru tak bisa menyebutkan nama warna ketika saya mengambil sebuah benda dan bertanya “Ini warna apa, Dik?”
Sebagai kakak, saya jelas merasa sedih. Saya dan si bungsu adalah dua anak yang sama-sama suka menggambar. Dia suka mencontoh apa yang saya lakukan. Dulu dia suka membaca karena hampir tiap waktu lihat saya membaca. Kini ia jadi ikut suka menggambar karena kakaknya lagi keranjingan segala hal yang berhubungan dengan watercolor dan lettering. Ketika saya mengambil sketchbook, watercolor pack, dan satu set kuas, ia akan mengekor. Ketika saya mengisi gelas dengan air untuk bahan cat air, ia akan sibuk mencari-cari drawing pen. Kami suka menggambar, tapi kami kurang suka dengan kondisi di mana adik kebingungan saat memilih warna. Setelah mensketsa biasanya ia akan bertanya apa warna yang cocok untuk monster yang baru selesai digambarnya. Jika saya jawab kuning, maka ia akan kembali bertanya yang mana warna kuning itu.

Menurut artikel online yang saya baca (kami nggak pernah periksakan ke dokter sih, karena emang nggak ada keluhan) tampaknya kebutaan warna yang adik punya adalah bawaan genetik. Soalnya pakdhe dari keluarga ibu juga ada yang buta warna. Si bungsu ternyata tak sendirian. Tapi kalaupun ia satu-satunya yang buta warna dalam keluarga besar, saya akan berusaha membuatnya merasa tak berbeda. Saya tak akan pernah bosan menjawab pertanyaan, “Mbak, ini warna apa ya?” dan belajar mengurangi intensitas menyuruhnya mengambilkan barang dengan keterangan warna.
Sekarang dia sudah kelas IX SMP. Lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan diri untuk menghadapi kelulusan. Suatu hari ia pulang ke rumah dan bercerita, “Mbak, aku disuruh buat lukisan di kanvas untuk nilai ujian praktik kesenian.” Saya yang mendengarkan sambil jalan pun cuma jawab, “Ya udah beli kanvas dan acrylic deh.” Kemudian ia kembali bicara, “Tapi bantuin ya. Aku kan nggak tau warna.” Seketika langkah saya terhenti. Ada rasa yang nyelekit di dalam dada ini. “Yo, tenang ae,” jawab saja pura-pura acuh.
Berhari-hari dia bingung menentukan objek gambar. Tanya bolak balik ke saya yang seumur-umur belum pernah gambar di kanvas. Bolak-balik cerita kalau temannya gambar galaxy dengan cara blending warna. Saya bilang jangan ikut arus, nanti malah nggak kelihatan bagusnya di mana. Akhirnya saya menyarankan untuk menggambar Surabaya saja. Siapa tahu gurunys tertarik untuk memajangnya di dinding sekolah, kan lumayan. Ia pun setuju. Namun setelah menggambar selama beberapa hari, rencana untuk membuat Surabaya pun gagal dan justru menjadi gambar kota yang ada Godzillanya xD
Dan, ini lah jadinya! Dua kota dan dua monster. Bisa dilihat dari dua sisi sekaligus : atas dan bawah.

Selama pengerjaan yang memakan waktu berhari-hari, saya sempat bikin time lapse. Tujuannya awalnya cuma buat lucu-lucuan aja sih tapi ternyata justru time lapseini yang bikin dia semangat terus untuk lanjut melukis. Sampai akhirnya dia sendiri yang menyiapkan dan mengatur posisi kamera, dia juga yang menggambar, dan dia juga yang milih warna sendiri. Deket-deket akhir dia udah nggak minta masukan soal warna lagi. Entah emang beneran tahu atau dia PD aja mencampurkan segala warna. Mungkin dia pikir semua warna sama aja, nggak peduli tabrak sana sini xD

Hari ini gambaran berjudul Reverse itu dikumpulkan. Semoga dapat nilai yang baik. Kalau saya sih suka dengan dua kota dan dua monster itu. Percaya deh, teman-temannya nggak mungkin bikin gambar begitu *kakak yang terlalu ke-PD-an* Tapi berapapun nilai yang ia dapat nantinya, sejauh ini saya udah bangga melihat ia bisa mengisi penuh kanvas ukuran 40 x 50 itu sendirian. Iya, adik saya yang buta warna itu.

8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

clear-fix">