• Kata dalam Buku

    Segeralah Membaca Buku

    sumber gambar Dewasa ini kita bisa mendapatkan informasi apa saja dan dari mana saja. Nggak perlu capek-capek baca buku dan menelusuri tiap kalimat demi bisa mendapatkan informasi yang kita cari. Cukup dengan sebuah device dan koneksi internet, rasanya kita sudah menggenggam dunia. Ya nggak? Coba pikir deh, mau tahu kabar pemilihan presiden Amerika Serikat tinggal buka situs portal berita. Mau tahu cara bikin kue untuk ulang tahun pacar bisa cari di YouTube. Mau tahu kabar kekinian seputar artis bisa buka Facebook dan Twitter. Butuh hiburan? Ada film dan musik. Materi belajar di sekolah / kampus pun bisa di dapat di Wikipedia. Mau meningkatkan skill? Tinggal sign up ke beragam online…

  • Kata dalam Buku

    Kepulangan Bang Toyib

    #1 Malam mulai larut ketika kakiku menjejak tanah kampung kita, kampung di mana aku dan kamu tinggal. Fitiya, sebelas purnama sudah aku meninggalkanmu, juga si Buyung anak kita. Selama itu pulalah aku hanya sekali berkabar padamu. Teringat kala berpamitan denganmu di ujung kampung sebelum melepas kepergianku. “Abang merantau kemanakah? Berapa lama aku harus melewati malam tanpa cakap ringan kita di selasar rumah?” “Tak ‘kan lama Fitiya, tak eloklah kau takut sebelum menjalaninya. Abang akan baik-baik saja di pulau seberang,” kugamit tangan istriku dan kulihat tangis ketika kecup ini menyentuh keningnya. “Lekaslah pulang jika tabungan telah cukup, Bang,” tangan kami makin rapat tak ingin saling terlepas. Berat langkah kaki tinggalkan keluarga…

  • Kata dalam Buku

    Adrian – Cerpen Kolaborasi Part 5

    “Sialan, ganteng-ganteng kok nggak punya mata! Dan apa dia bilang tadi? Dinda? Dari mana dia tau namaku?” aku menggerutu sementara Indira membantuku berdiri setelah ditabrak lelaki tak tahu diri tadi. Karena keteledorannya, hampir semua mata yang ada di perpustakaan segera menoleh ke arahku, satu-satunya pelaku yang menghasilkan bunyi gedebuk di pintu masuk. “Sudah ah, toh kamu baik-baik saja. Dia terburu-buru karena dipanggil dosen pembimbing. Kalau enggak, pasti nggak mungkin bikin kamu kesal kaya gini,” jelas Indira sambil membawaku berjalan menuju tempat kami duduk berdua sebelumnya. “Kamu kenal dia?” tanyaku dengan nada sinis, “Kok aku nggak pernah liat muka kayak gitu ya? Ish! Ya ampun, malu banget deh jatuh di perpustakaan…

  • Kata dalam Buku

    Adrian – Cerpen Kolaborasi Part 4

    Enam bulan sudah hatiku patah, kepingnya berserakan, dan mungkin takkan dapat disatukan. Rasa sakitnya bahkan pernah membuatku jera untuk jatuh cinta lagi. Namun beberapa minggu belakangan ada rasa yang berbeda. Sekarang aku sudah bisa menertawakan kebodohan masa lalu,  kala malam-malam sunyi kerap kuisi dengan menangisi dia yang meninggalkanku. Senyum kini mulai terkembang kembali, wajah kembali berseri. Jujur kuakui, salah satunya karena kembali kurasakan rindu. Tapi ini rindu bukan sembarang rindu, rindu pada dia yang tak pernah bertemu dindaadinda, Adinda Prameswari.             Waktu luangku kini lebih banyak kuhabiskan mengecek dashboard Tumblr serta rajin merefreshnya,barangkali ada postingan Dinda yang terbaru. Membaca puisinya membuat aku seolah bisa ikut menyelami kedalaman deritanya, ikut menikmati…