• Memanusiakan Manusia,  Senandika

    Detoxing from Smartphone

    My phone is broken. Sudah lama banget sih rusaknya, tapi emang saya anaknya males gonta ganti saat sudah nyaman, alhasil itu hape nggak juga diganti. Padahal orang-orang di sekitar udah memandang hape saya dengan prihatin. Jenis smartphone yang saya pakai sejak 3 tahun lalu adalah iphone 5s. udah cinta mati sama hape satu ini. Ukurannya pas di tangan, fiturnya juga bagus (lebih dari cukup, malah), dan nggak pernah rewel sama sekali. Satu-satunya alasan yang membuat dia koit dan tak lagi berfungsi adalah … bolak balik kebanting. Ada kali tuh 5 kali kebanting, lepas dari tangan lalu jatuh bebas menghantam lantai. Dari yang awalnya tahan banting, sampai akhirnya nggak tahan lagi…

  • Memanusiakan Manusia,  Senandika

    Katarsis Pertama

    Beberapa waktu lalu saya ikut sebuah workshop healing. Bukan sebagai peserta, tapi sebagai penyelenggara. Kala itu saya hanya ingin acara berjalan lancar, tapi ternyata Tuhan memberi lebih. Di kesempatan kali itu saya justru bertemu lalu berbincang banyak dengan seorang psikolog yang akhirnya mengubah cara pandang saya mengenai kehilangan dan keikhlasan. Namanya Mbak Fini, seorang perempuan dan ibu yang kesehariannya diisi dengan membantu sesame untuk keluar dari masalah hidupnya. Siang itu saya menemani beliau makan. Di atas meja bundar yang letaknya di pojok ruangan itulah kemudian saya mendapat banyak sekali insight baru dari Mbak Fini. Katarsis namanya. Menurut Wikipedia, catharsis is the purification and purgation of emotions—particularly pity and fear—through art…

  • Memanusiakan Manusia,  Senandika

    Jadi, Sebenarnya Sampean Asli Mana?

    Saya sering banget dapat pertanyaan tersebut tiap kali order ojek/taksi online. Obrolan yang mengalir antara saya dan driver seringnya berakhir dengan rasa penasaran tentang dari mana saya berasal. Saya tahu, umumnya mereka menyimpan tanya sejak kali pertama saya bicara. Kok nggak medhok ya? Kok logatnya kayak bukan dari sini ya? Sebenarnya nggak cuma sama driver doang sih, tiap kali kenalan dengan orang baru pasti mereka bakal menanyakan hal yang sama. Lalu saya bakal jawab apa? I simply answer it with “dari Indonesia.” Biasanya mereka bakal ketawa, lalu kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Di balik fenomena ini sebenarnya saya agak terusik. Ada apa sih dengan gaya bicara saya? Ada apa sih…

  • Memanusiakan Manusia,  Senandika

    Menelinga

    Pernah nggak sih kamu sebal dengan seseorang hanya karena mereka nggak bisa diajak berkomunikasi dua arah? Saya sering. Buat saya komunikasi itu penting. Cara berkomunikasi pun nggak hanya sebatas menyampaikan kabar, tapi juga soal mendengarkan. Dewasa ini semua orang bersemangat mengungkapkan isi kepala namun masih enggan untuk menerima pendapat orang lain. Dunia terlalu bising, sesak dengan omongan-omongan yang kebanyakan kosong tak berisi. Jalan-jalan ramai, tempat publik ramai, media sosial ramai, kepala pun ramai. Kita seakan berlomba menjadi paling lantang namun sering tanpa sadar merendahkan mereka yang memilih tak berbunyi. Polusi suara di mana-mana, membuat kita lupa bahwa Tuhan menciptakan tiap manusia dengan satu mulut dan dua telinga. Bukankah perbandingan jumlah…

  • Memanusiakan Manusia

    Setelah Segala Drama, Akhirnya Ngajar Lagi

      Kurang lebih satu bulan lalu saya kembali ambil bagian dalam kegiatan Kelas Inspirasi. Mungkin udah ada yang pernah baca curhatan saya tentang pengakuan dosa karena mengundurkan diri dari dua Kelas Inspirasi lalu. Nah, kali ini saya nggak mundur lho. Akhirnya, saya benar-benar bisa hadir walaupun hanya dua sesi. (Ckck, sok sibuk bener ya gue. Kesannya jadi kayak malah main-main di acara serius kayak gini.) Sebenarnya agak complicated sih. Jadi pekan itu harusnya saya di Jakarta. Semua agenda hingga akhir pekan siap saya batalkan. Segala plan tentang Kelas Inspirasi sudah terbang entah ke mana. Boro-boro mikirin KI, kerjaan aja udah nggak saya pikirin. Tapi, sekali lagi, Tuhan selalu punya cara…

clear-fix">