Cerita di balik How To Script A Kiss – #TheScriptProject2



Hai, halo.
Beberapa di antara kalian mungkin ada yang pernah tahu #TheScriptProject2. Barangkali karena tagar itu pernah rajin riwa-riwi di timeline social media saya, dari Instagram sampai Twitter, dari Facebook sampai Path, dari Blog satu ke Blog yang lain. #TheScriptProject2 sendiri adalah nama proyek nulis yang saya, Putri Widi, Dzulfikar Adi Putra, Sulung Lahitani, dan Tengku AR garap selama lebih dari satu tahun. Kenapa dinamakan seperti itu? Karena di proyek tersebut kami mengajak penulis, baik yang amatir maupun yang sudah dewa, untuk menulis cerita pendek yang terinspirasi dari lagu-lagu band kenamaan Irlandia, The Script. Lalu kenapa ada 2-nya? Karena ini adalah kali ke dua kami menjadikan The Script sebagai muse menulis.

Dulu, sekitar tahun 2012 saya dan Putri sudah pernah nulis #TheScriptProject. Antologi kami terbit dengan judul Heart’s Script. Melihat antusias teman-teman penulis yang kece, kami pun berinisiatif untuk bikin proyek kedua. Lagian waktu itu The Script, band idola kami, kebetulan baru launching album. Pas banget! Akhirnya kami berdua menambah pasukan, ngajak tiga cowok penulis untuk turut meramaikan. Eh, nggak tahunya penulis yang ikutan juga makin banyak dari proyek sebelumnya! Ada lebih dari 200 naskah yang masuk ke email saya. Ngeriiiiwww~
Padahal publikasi kami nggak heboh-heboh amat. cuma lewat Twitter dan Instagram. Di Twitter biasanya kita minta tolong RT dari akun-akun blogger sementara di IG kita sengaja pakai cara nulis cerbung di caption. Seru juga lho ternyata nulis di Instagram. Jadi tiap minggu kita nulis berantai. Yang dipikirin juga bukan cuma ceritanya, tapi gambar yang akan diupload serta kesesuaiannya dengan lagu-lagu The Script. Ah, apa gue bikin model kek gituan lagi ya? Hahahahaha *ketawa evil*
Oke, back to the topic. Sampai mana tadi? Oh, sampai 200 naskah. Nah, dari 200 itu kan nggak mungkin kita terbitin semua, harus diseleksi dulu. Awalnya kita sepakat untuk menerbitkan 24 karya saja, sesuai jumlah lagu-lagu the script di dua album terakhirnya. Ya bayangin aja tuh gimana rasanya menyusutkan 200 sekian jadi 24 doang. Cuma 10% yang bakal kepilih. Seleksinya sengaja kami lakukan berkali-kali. Kalau nggak salah sampai tiga atau empat kali. Sumpah, itu butuh perjuangan syekaliii.. Apalagi posisi kelima penggagas yang serba berjauhan. Ada yang di Jakarta, Busan, Surabaya, dan Manado. Pokoknya proyek ini benar-benar bergantung pada kecanggihan teknologi deh.
Singkat cerita kami akhirnya berhasil menemukan naskah-naskah terbaik yang berpotensi menyayat-nyayat perasaan para pembaca. Mwahahahaha! *seneng banget bikin perasaan orang jungkir balik* dan, akhirnya yang diterbitkan lebih dari rencana awal. Setelah dipikir, dipikir, dan dipikirin lagi akhirnya yang akan dibukukan ada 30an naskah. Untuk ukuran antologi, 30an naskah itu terhitung banyak banget. Tapi kami nekat aja, toh yang kepilih juga bukan naskah sembarangan.
Nah, setelah itu kami masuk ke tahap selanjutnya, yaitu editing. Jujur aja, kami butuh jeda waktu untuk merefresh kembali pikiran yang selama berminggu-minggu berkutat pada naskah-naskah yang sudah ada. Alasannya sederhana, kami ingin bisa mengedit naskah tersebut dengan kondisi seperti belum pernah membaca sebelumnya. Ini salah satu hal yang bikin pengerjaan makin lama sih. Di waktu yang sama kami juga pengin di buku nanti ada ilustrasi yang mendukung beberapa kisah. Jadi lah kami nyari-nyari ilustrator. Sayangnya, proses ini nggak berjalan dengan mudah. Nemu ilustrator kece, eh dianya nggak mau sama tawaran kita. Nemu lagi kenalan ilustrator, eh kitanya yang nggak sreg. Setelah diskusi sana sini dan sadar kalau sudah banyak waktu yang terbuang akhirnya diputuskan kalau yang akan membuat ilustrasi di buku kami nantinya adalah : saya.
MWAHAHAHAHA!


Ini kali pertama saya membuat ilustrasi / visualisasi dari cerpen. Sulit-sulit gampang ternyata. Karena nggak semua cerpen akan diilustrasikan, jadi saya pilih acak. As you know gue orangnya random banget, jadi yang dipilih beneran acak tanpa ada kepentingan apapun. Jadi buat yang cerpennya nggak dapet jatah gambar, percayalah kalau itu sudah ketentuan semesta. Proses pengerjaan ilustrasi nggak makan waktu lama sih. Awalnya sketsa di sketchbook, trus difoto (gak punya scanner, hiks), trus gue tracing pakai adobe illustrator, habis gitu gue fill color pakai photoshop. Udah gitu doang. Mungkin karena black and white sih ya jadi ringkes. Gak kebayang bakal selama apa kalau warna-warni. Bisa tujuh tahunan kali baru kelar soalnya gue payah banget kalau disuruh matching color. Pfft.
Oke, ilustrasi kelar, desain kaver sekarang. Untuk yang satu ini Putri yang handle karena dia punya kenalan desainer asal Solo, namanya Jung Jawa. Namanya lucu. hasil desainnya bagus, kita semua suka banget karena emang sesuai banget dengan isi buku. Keren deh! Gue pengen bisa jago ngedesain cover juga tapi belum nemu mentor dan belum bisa nyisihkan waktu buat belajar gituan (alesan doang).
Balik ke editing. Dari setahun lebih proyek ini dilaksanakan, hampir 60% habis buat editing naskah final. Ini murni karena penggagas pada sibuk semua plus domisilinya terpencar. Belum lagi harus menyesuaikan jam, perbedaan waktu, dan segala macemnya yang berimbas banyak pada timeline pengerjaan. Hiks, maaf ya teman-teman penulis atas lamanya proses pengerjaan buku kita ini *sungkem*. Percayalah, di proses ini bukan cuma kalian aja yang kesal nungguin, semangat penggagas juga mulai turun, turun, dan turun. Sampai akhirnya – gue juga lupa karena apa – proyeknya jalan lagi dan tiba-tiba ngebut ngahahaha.
Akhir 2015 editing selesai. Awal 2016 saya ngelayout. Kelar semuanya, saya upload deh di Nulisbuku. Februari 2016 akhirnya terbit. Yay! Tapi nggak sampai situ, cuy. Penggagas berencana untuk menjual buku dalam dua model. Pertama, buku doang. Ke dua, buku plus merchandise (totebag dan postcard). Untungnya zaman itu saya udah kenal Canva, jadi semua proses desain saya buat di sana. Sungguh, terpujilah team yang mengembangkan Canva ini. kalian keren sekaliiii!!!
Paket buku plus merchandise ini kami jual dengan sistem pre-order karena semuanya dibuat secara on demand. Taunya yang pesan melebihi ekspektasi! Kami sampai buka dua gelombang untuk sistem po ini. bahkan gue sendiri nggak dapet lho cuy hiks sedih amat. saya cuma beli buku satu eksemplar sebagai kenang-kenangan doang. Sekedar tanda kalau pernah ikut berkontribusi di karya tersebut. Bahkan menariknya satu copy How To Script A Kiss sampai di tangan salah satu ilustrator idola saya, yaitu Bli Ara @talkingtothewalls kyaaaaa! (makasih Mas Tengku udah ngirimin satu ke Bli Ara hehehe. Sumpah aku kaget banget pas liat buku kita ada di IG Bli Ara)


Short story ternyata How To Script A Kiss udah terbit hampir setahun lalu. Cepet bener waktu bergulir yaa. Rasanya kemarin masih rempong menyelesaikan project satu ini bahkan pernah telpon-telponan sama mas tengku malem-malem cuma buat curhatin gimana nasib naskah teman-teman ini. Udah deh, pokoknya seru banget proses pengerjaannya.
Dan, alasan kenapa saya baru menuliskan cerita ini sekarang adalah karena baru saja ada seseorang yang ngirim email ke saya dan tanya gimana cara order How To Script A Kiss. Langsung throwback gituuuu.. Trus saya jadi kangen bikin project lagi, nulis lagi, nerbitin buku lagi. Karena meski serempong apapun, melahirkan sebuah karya itu selalu nagih. Ada kepuasan sendiri di dalamnya. Ada rasa yang tertinggal. Ada kepingan kenangan yang tersimpan.
Jadi, ada yang mau ngajak saya bikin buku lagi, nggak?

Leave a Reply