Kerajinan Tangan,  Senandika

Dikagumi oleh Para Pencibir

Tulisan ini sedikit banyak akan berbau sarkasme. Maaf sebelumnya. Saya berusaha seoptimal mungkin untuk mengurangi intensitas sarkas kok, serius. Tapi kali ini izinkan saya menyindir sepuasnya ya? Please!

Saya suka gambar dari kecil. Simply because my parents always support me to do everything that I love. Gambar di kertas, di dinding, di manapun. Orang tua saya akan selalu ngomel ketika crayon , spidol, atau pensil warna saya satu per satu hilang, namun mereka akan tetap membelikan penggantinya. Mereka sadar benar bahwa anak kecil memang porsinya adalah untuk bermain. Winona kecil jarang sekali menonton TV, beda dengan teman seusianya yang betah nongkrongin layar kaca. Makanya sekarang kalau dengar teman-teman cerita tentang acara TV zaman dulu, saya suka enggak paham sendiri. Karena sejak dulu kegiatan saya ya bermain. Membaca buku dongeng, menggambar, main brick, bernyanyi, dan sebagainya.

Hampir semua kebiasaan masa kecil itu masih saya pertahankan hingga kini. Jarang nonton TV, masih suka bernyanyi dengan nada ke sana ke mari, masih bahagia liat biasa tiap kali liat Lego, masih suka kagum ketika membolak-balik buku dongeng, dan tentu saja saya masih berteman akrab dengan kegiatan menggambar. Beberapa teman ada kok yang menganggap saya ini kekanak-kanakan karena bagi mereka umur segini udah enggak zaman bergaul dengan mainan semacam itu. Ya, itu sih terserah mereka. Kalau bagi saya sih justru hidup mereka yang membosankan. Bagaimana tidak, hidup kok cuma diisi dengan make up dan foto selfie. Please!


Serius deh, apa pola pikir saya yang salah ya selama ini? Kenapa jarang sekali saya temui teman seusia yang masih suka mengeksplorasi hal baru? Kebanyakan sudah terjebak di kehidupan yang (kata mereka) settle. Pulang kerja dipakai nongkrong sambil pacaran. Jam istirahat dipakai buat bergosip. Akhir pekan dipakai buat tawaf mal. Kok saya tidak seperti itu ya? Sebenarnya saya nggak peduli sama kehidupan orang lain, as long as they didn’t bother me. Namun akan beda kasusnya kalau mereka mulai mengutak-atik atau sok mengomentari apa yang saya suka. Seperti, “Kamu ngapain sih suka gambar-gambar begitu?”, “Kayak anak kecil aja!”, “Hidupmu selow banget ya?”, “Ngapain beli kuas gambar sebanyak itu sih? Mending juga beli kuas make up”.

Duh, rasanya pengin ngaplok! Ya sudah, saya juga enggak pernah protes tiap kali muka kaliam menor karena make up berlapis-lapis! Pernah, gitu ,saya mengomenyari hobi pencitraan kalian di media sosial padahal saya tahu kehidupan kalianyang sebenarnya seperti apa? Dude, please!

Barangkali sudah setahun saya tutup telinga dengan komentar yang bolak balik ngatain hobi saya ‘receh’ banget. Beberapa orang terdekat pun ada yang tidak mendukung kok. Mereka bilang gambar saya jelek. Kata mereka saya cuma membuang waktu. Ada juga yang bilang “Kapan kamu bakal punya pasangan kalau waktu luang dipakai untuk gambar begitu?”

Astaga, jahat banget sih kalian ini.

Saya tahu kok gambaran saya masih level 0. Enggk bakal ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan senpai lain. Lettering saya juga masih berantakan. Untuk dipandang saja masih belum pantas, apalagi mendapatkan penghasilan dari sana. Tenang, saya sadar diri kok. Tanpa kalian ejek, saya sudah paham. Cuma mbok ya enggak usah sampai dikata-katain gitu. (menghela napas panjang)

Untung dasarnya saya ini bebal. Keras kepala banget. Akun Instagram tetap saja saya penuhi dengan artwork. Dari yang cuma modal pensil, drawing pen, watercolor, sampai acrylic. Dari enggak ada yang peduli sampai sekarang banyak yang ngelike. Dari dulu banyak yang ngomongin saya diam-diam sampai sekarang sudah hapal banget harus tanya siapa kalau mau bahas art supply.

Huh, dasar manusia.

Lucu aja, gitu, kalau mengingat kembali bagaimana dulu banyak sekali yang mencibir, sementara saya cuma bisa mengelus-elus dada Adam Levine (eh, gimana?). Terus, cuma modal maju-terus-pantang-mundur selama setahun, sekarang para pencibir itu malah mulai jadi fans[n4] .Dulu, dia yang bilang hidup saya selow banget sekarang malah bertanya brush pen apa yang saya pakai untuk lettering karena dia ingin buat juga. Dia yang dulu bilang saya kayak anak kecil, sekarang malah minta saya buatkan gambar. Eh, terus, yang dulu bilang gambar saya enggak menjual malah pengin[n5]  order buat desain undangan nikahnya.

MWAHAHAHAHAHAHA~
*ketawa jahat a la nenek lampir*

Sebenarnya kesimpulan dari tulisan ini sih sederhana : just do whatever you love. Karena apapun yang kamu lakukan – baik yang kamu suka maupun tidak – akan tetap dikomentari oleh orang lain. People will talk about you whether you did well or not. Some of them will trying hard to take you down while the others will always cherish you up. Kita cuma perlu pintar-pintar memilih mau mendengarkan suara yang mana. Toh pada akhirnya yang menjalani juga kita semdiri, bukan mereka, para penonton. Jadi walaupun ada sebagian orang yang menertawakanmu, jangan langsung patah semangat. Kill them with success and bury them with smile.

Santai aja, lah!

Tulisan ini juga dipublikasikan di laman web Forum Lingkar Pena Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

clear-fix">