Memanusiakan Manusia,  Tamasya

Harus Banget Travelling?

Bali, yuk?

Beberapa waktu lalu saya menemukan postingan salah seorang selebgram di kolom explore yang menggelitik kalbu. Oke, lebay. Cuma foto dan caption yang bikin saya ketawa kosong aja sih. Si selebgram ini membagi pemikirannya tentang kiat menikmati hidup. Ujarnya, dulu ia pernah menemukan kutipan singkat berbunyi “collect moment, not things” yang berhasil mengubah pemikirannya 180 derajat. Menurutnya, selagi masih muda kita harus banyak menabung pengalaman dan cerita melalui travelling. Uang itu jangan dihabiskan dengan membeli barang ini itu, tapi harusnya dipakai untuk jalan ke sana dan ke situ. Begitupun ketika sudah punya pasangan, jangan membahagiakan mereka dengan barang, melainkan dengan pengalaman travelling bareng. Singkatnya, ia merasa travelling itu penting.

Sejujurnya, apa yang ia bagikan itu nggak salah. sah-sah saja. Toh tidak melanggar ketentuan apapun dan tidak mengusik kenyamanan siapapun. Tapi nggak tau kenapa, belakangan saya suka skeptis dengan postingan macam itu – that’s why I write this hahaha. Anak muda zaman sekarang emang rasanya kurang afdol kalau tanggal merah nggak diisi dengan plesiran sambil pamer foto di media sosial. Level kekerenan bisa naik 10 point kalau punya hobi travelling. Rasa-rasanya jumlah lokasi wisata yang pernah dikunjungi kini jadi variable penting untuk menentukan strata sosial seseorang. Makin jauh, makin banyak punya penggemar

Tuntutan pergaulan ini juga yang – entah kalian sadar atau tidak – jadi memaksa kita untuk menghalalkan segala cara untuk tetap bisa eksis. Penghasilan yang tiap bulan kita dapat, seringnya tidak terbagi adil ke dalam pos-pos yang sudah dirancang. Keinginan untuk menabung dengan gampangnya terabaikan. Yang harusnya udah bisa cicil kebutuhan di masa depan malah dipakai untuk cicil tagihan jalan-jalan long weekend bulan lalu. Bahkan nggak sedikit lho yang terang-terangan berhutang ke orang lain karena budget untuk vacation lebih besar dari pendapatan. Bayangin deh, hanya untuk keinginan tersier aja masa mesti berhutang?!

Miris? Banget.

Guys, mbok ya kalau mau tampak gawls tuh menyesuaikan kemampuan juga. lapar mata lihat postingan orang lain sih boleh, tapi jangan kemaruk gitu dong 🙁 aku kan jadi cedih melihat mantemanku seperti ituh hiks.

Sebenarnya tujuan saya nulis ini cuma pengin meluruskan quote “collect moment, not things” di atas. Selagi masih muda dan masih unyu-unyu, kita emang lebih baik cari pengalaman sebanyak-banyaknya. Moment di sini bukan berarti harus pergi jauh ke ujung dunia tiap kali tanggalan berubah warna jadi merah. Cara terbaik untuk mengumpulkan atau collect moment adalah dengan life in present. Tiap moment, apapun itu, akan jadi berkesan jika kita mampu menikmatinya dengan benar. syukuri apa yang sudah ada. hargai apa yang terjadi saat ini, either it’s sad or happy moments. Nikmati apa yang sudah berhasil didapat. Sesederhana itu doang sih menurut saya. Jika kita bisa menghargai hal simple, apapun jadi menyenangkan dan menenangkan. Tak butuh harus naik pesawat jet menuju Iceland sambil mendengarkan Sigur Ros di iPod, cukup makan ketoprak di warung kaki lima sambil dengerin pengamen nyanyi dangdut koplo aja bisa bikin bahagia kok. Serius.

Membahagiakan pasangan pun tak melulu harus dengan staycation or vacation or cation-cation lainnya. Kadang cuma nonton DVD di rumah sambil ngemilin rujak bisa jadi pengalaman tak terlupakan kok. Kalau bosan di rumah, nggak perlu lah jauh-jauh ke Jepang hanya untuk cari hiburan. Coba jalan-jalan aja ke taman kota, kebun binatang, atau pasar malam, pasti ntar suntuknya hilang. Sedikit cerita, pakdhe dan budhe saya adalah dua tipe orang yang paling nggak tahan diam di rumah. Tapi mereka nggak pernah gegabah untuk mengeluarkan uang demi mengilangkan suntuk. Alhasil, tiap malam sebelum tidur mereka suka jalan-jalan bareng keliling kota naik vespa kesayangan. Jalan yang dilewati itu-itu aja, yang dilihat juga itu-itu doang, tapi karena mereka berdua bisa menikmati setiap moment dengan benar, tiap pulang ke rumah rasanya selalu bahagia. Seperti ada beban yang berhasil dilepas dan akhirnya mereka bisa tidur dengan lelap.

Sejujurnya, travelling itu nggak salah. Saya juga suka kok jalan-jalan. Hanya saja mengharuskan travelling untuk dapat terus bahagia itu keliru menurut saya. Kamu bisa kok berbahagia dengan hanya duduk diam bersama selembar kertas, asal kamu tau bagaimana menjadi asik dengan keterbatasan. Toh, percuma juga kaki ini melangkah jauh jika hati dan pikiran tetap terasa kosong. Untuk apa melalangbuana jika saat kembali pulang masih terasa ada yang kurang. Lagi pula membeli barang tak melulu berarti boros dan melihat pemandangan di kota lain tak berarti beban hidup hilang.

Jika memang bahagiamu genap dengan memiliki sesuatu, maka carilah (kalau bisa, buat dengan tangan sendiri – dijamin, pleasurenya berkali lipat!). Jika senangmu jadi utuh dengan jalan-jalan, silakan menjelajah (tapi jangan sampai berhutang ya). Kalau saya sih lebih riang jika bisa membagi kisah dengan seseorang, untuk itu saya mencari ia yang siap mendengarkan. Yuk!

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

clear-fix">