Tamasya

Hello, Sun!

Hola! Pertengahan Desember lalu saya akhirnya ke Bromo! Yeah! Setelah berkali-kali hanya berakhir jadi wacana, akhirnya sampai jugaaaaa. Here’s the story!

bromo - bukit teletubbies
a rare view
Ngikut outing anak kantor sebelah

Sebel karena kantor sendiri nggak bikin outing akhir tahun? No prob for me, karena berkat kekuatan bulan akhirnya bisa menyusup ke acara liburan kantor tetangga (which is kantor temen sendiri). Agak impulsive sesungguhnya. Karena sebenernya tahu kalau teman saya mau ke bromo udah dari lama, tapi 2-3 hari sebelum berangkat saya basa basi nanya lagi. Lalu akhirnya diajak dan beneran ikut.

Rombongannya nggak begitu banyak sih, hanya belasan orang karena cuma satu departemen. Berangkat dari kantor (Surabaya) hari Sabtu pagi. Saya bener-bener nggak tahu itinerarynya seperti apa, bakal tidur di mana, ke sana naik apa, semua bener-bener blank. Pokoknya ikut berangkat aja deh.

Lewat Probolinggo

Jadi saya kira kalau mau ke Bromo ya masuknya lewat malang lalu ke tengger. Tapi ternyata enggak. Karena destinasi pertama yang akan kami kunjungi adalah Air Tejun Madakaripura. To be honest, air terjun isn’t my thing. Jalur trekking yang panjang (bener aja, bolak balik 8 km sendiri) dan serba bebatuan bikin saya sempat nggak happy. Tapi karena dilakoni rame-rame akhirnya jadi kerasa ringan sebab semua serba dibercandain. Jalanan super panjang yang harus dilewati hanya dengan jalan kaki pun terbayar dengan air terjun yang ternyataaaaa cakep abis! Ada dua air terjun di Madakaripura ini. Di antaranya tentu saja ada sungai berhias bebatuan yang kalau salah injak bisa bikin keseleo berkepanjangan.

air mancur madakaripura
air mancur madakaripura

Kami sampai di Madakaripura mendekati sore hari. Ketika masuk dan bayar HTM sebesar Rp 15.000 petugas di sana sudah mewanti-wanti kalau bentar lagi hujan dan hulu sungai bakal banjir. Itulah kenapa saya dan rombongan nggak lama-lama di sana, takut hanyut berjamaah.

Gelap-gelapan di Tengger

Setelah basah-basahan (karena ternyata jas hujannya nggak ngefek sama sekali), kami pun menuju penginapan di Tengger. Matahari udah mulai pamit dan udara mulai dingin. Pas nyampe penginapan, bener aja dong, hujan sejadi-jadinya. Udahnya kedinginan karena air terjun, keluar mobil kehujanan pula. Kelar dah tuh. Menggigil rame-rame. Pas masuk penginapan dan mulai ngantre mandi, tiba-tiba.. mati lampu. Fine, antrian mandi pun buyar. Kita semua pada ganti baju doang tanpa mandi.

Setelah pada kering dan nggak ngerti mau ngapain karena listrik padam, akhirnya kami berusaha menjadi AGT alias anak gaul tengger. We explore the village by walking. Jalan-jalan, liat kiri kanan, udah kayak lagu naik-naik ke puncak gunung. Ngobrol tipis-tipis sama warga. Beli beberapa barang untuk muncak besok, seperti beanie, dkk. Kegiatan jalan-jalan sore kami pun berakhir setelah kehangatan menghampiri dalam wujud semangkuk bakso. And, yes, bakso malang never fail me.

Pas kenyang, pas listrik nyala. Siapa yang nggak happy ye kan? Kami pun balik ke penginapan dengan wajah cerah meski badan mulai kerasa pegel-pegelnya. Sampai di penginapan, kami main beberapa games. Some of them adalah andalan saya ketika ngajar di Kelas Inspirasi. Tapi, oke lah.. main sama anak kecil dan main dengan orang dewasa emang beda rasanya. At least we can shout to each other dan laugh out really loud together.

Hello, sun!

Pukul empat pagi keesokan harinya kami berangkat ke bromo menggunakan beberapa mobil jeep hardtop. Mata masih ngantuk, nyawa masih ngawang-ngawang, tiba-tiba diminta jalan kaki nanjak ke spot sunrise. Kaget banget! Hahaha. Badan masih pegel-pegel, langkah masih oleng, tiba-tiba diminta menaiki banyak anak tangga. Ngos-ngosan banget. Trip kali ini bener-bener nampar saya banget, jadi pengingat untuk lebih banyak olahraga di 2018 biar stamina lebih baik.

sunrise bromo
hello, sun!

Akhirnya setelah bolak-balik ditawari naik kuda aja sama abang-abang di sana, kami sampai di spot sunrise dan mendapati pemandangan yang luar biasa. Saya bukan pecinta senja, hanya penikmat yang cuma bisa melongo tiap liat matahari tenggelam. Bagi saya, sunset itu cantiknya luar biasa. Saya beneran nggak nyangka kalau sunrise juga punya sisi magicnya sendiri. Kedamaian yang hadir di dua waktu tersebut berbeda, namun melahirkan rasa syukur yang sama. Kehangatan mentari pagi menyapu wajah saya lembut pagi itu. Cahayanya berlarian bersama angin pegunungan. Indah banget!

Orang-orang banyak yang sibuk foto-foto di sana, sementara saya (lagi-lagi) cuma bisa melongo selama beberapa menit. Merekam segala yang disuguhkan Tuhan pagi itu dalam ingatan otak yang kapasitasnya nggak seberapa ini. Menyaksikan awan dan kabut saling berkelindan, melahirkan embun-embun kecil yang turun berselancar di daun-daun. Menyenangkan sekali rasanya bisa ada di atas sana.

Menyapa Gunung Bromo

Ketika matahari mulai meninggi, kami memiih turun. Di perjalanan turun itu saya jadi keinget-inget sama Rinjani. Yha, namanya juga sama-sama pegunungan yha. Entah deh, saya selalu suka perpaduan pegunungan hijau dengan langit biru cerah di atasnya. Sebuah kontras yang sudah lama tidak saya temukan sejak meninggalkan Kalimantan.

Kami lalu melanjutkan ke bukit teletubies untuk… makan cilok. Fine, nggak apa-apa. Di kaki Rinjani kemarin juga dingin-dingin yang dimakan adalah cilok. Emang penyebaran abang-abang cilok sangat merata di Indonesia ya. Bangga saya.

bukit teletubbies bromo

Short story, kami menikmati kaki Bromo dengan full foto-foto. Wisatawan banget lah pokoknya sebelum kemudian nanjak lagi ke kawah bromo yang ngantrenya udah ngalah-ngalahin ngantre BPJS Kesehatan. Saya nggak nanjak ke kawahnya sih, cuma sampe candi aja trus makan pop mie di warung. Ternyata rasa pop mie kalau diseduh di rumah, di kantor, dan di kaki bromo itu beda ya. Di tempat yang terakhir bisa sambil lihat kuda sliweran, kadang kudanya pup juga. Berfaedah.

Pulang dengan bahagia

Setelah puas main debu, kami kembali ke penginapan untuk ngelurusin badan dan ngehabisin cemilan. Karena nggak lucu kan segala makanan yang dibawa akhirnya dipulangin lagi. Walhasil perut makin kenyang, mata makin kendor. Menjelang sore kami akhirnya balik ke Surabaya. Kalau perjalanan berangkat kami pada rame ngomongin setnov hingga teori bumi datar, ketika pulang sepi sesepi-sepinya karena pada tepar.

greenery

At the end of the day, we’re happy! (meskipun ketika sampai pada ngeluh pengen bolos kerja besok seninnya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *