Uncategorized

How to Make A Viral and Shareable Content

Seminar Ruang Ide & Kecendiakawanan Pemuda
Senin lalu saya main ke UPN lhooo.. For the first time! Akhirnya menjejakkan kaki di kampus orang yang letaknya (bagi saya) ada di ujung dunia itu. Ternyata jauh bener dari rumah. Kirain deket, taunya enggak. Soalnya kan dulu biasa bolak balik ke ITS dan ITATS, tapi ternyata jarak dari dua kampus tersebut ke UPN pun lumayan. Jalannya luruuuuuuusss aja ngelewatin Merr. Ampe bosen-bosen deh tuh. Sekalinya nyampe juga bingung masuknya lewat mana. Nemu gedungnya dari luar tapi nggak tahu cara menggapainya. Udah masuk gedungnya pun salah masuk, mestinya masuk di pintu dekat meja resgistrasi tapi saya malah masuk lewat pintu keluar. Gini deh kalau Winona disuruh ke tempat yang belum pernah dikunjungi : ribet sendiri.
Sebenarnya tujuan saya datang ke seminar ruang ide ini adalah untuk mendukung (ceileh) TEDx Tugu Pahlawan yang jadi salah satu pengisi acara. Salah seorang temen saya anak TEDx dan kita janjian untuk ketemu. Eh, ternyata dia baru datang siang banget.. TEDx-nya baru ngisi lepas jam 12 siang sementara saya udah duduk manis di ruangan dari jam 8 pagi. Lama? Bwanget! Untungnya selama empat jam tersebut acara diisi oleh teman-teman Hipwee yang super seru. Jadi saya nggak bete deh, malah dapat ilmu bermanfaat yang akan saya bagi pada kalian di sini.
Apa saja yang Winona dapatkan di Seminar Ruang Ide & Kecendiakawanan Pemuda?
Banyak!

Ada dua pembicara Hipwee yang berhasil bikin saya melek soal menulis, yaitu Fanbul Prabowo selaku Social Media Strategist & Community Manager Hipwee dan Silvia Ayudia selaku Top Writer Hipwee. Over all dua pentolan Hipwee si website kekinian anak muda indonesia itu mengisi waktu empat jam untuk menjelaskan karakteristik masing-masing media sosial sebagai platform untuk terhubung dengan pembaca sekaligus cara mengenal dan mendekatkan diri ke pembaca.

Fanbul Prabowo
Jadi, dewasa ini masyarakat indonesia sudah sangat melek internet. Pebisnis kini tak lagi punya cita-cita punya gerai di pusat perbelanjaan, melainkan punya followers satu juta. Penulis juga tak melulu soal menerbitkan buku, tapi juga bisa berkarya dengan menulis konten. Desainer pun tak perlu harus melamar ke majalah jika ia bisa di-hire secara freelance untuk membuat cover album musisi. Zaman sudah mulai berubah. Pun kini konsumen / pembaca / penikmat seni lebih nyaman berbelanja / membaca / mencari inspirasi lewat dunia maya. Bahkan saat ini satu orang bisa jadi pengguna aktif di lebih dari 5 akun media sosial. Itulah kenapa sebagai creator kita dituntut mampu menjaring massa lewat berbagai sosial media. Eits, tapi sebelumnya, kita harus mengenali fungsi tiap platformnya terlebih dulu. Jangan sampai punya 5 akun tapi isinya sama semua karena hasil share dari satu akun utama. Itu mah nge-spam namanya.
Facebook. Siapa yang nggak pernah pakai Facebook? Kayaknya mamang-mamang penjual cendol di pinggir jalan pun udah jadi pengguna aktif medsos satu ini. Selain gratis, Facebook juga memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi penggunanya untuk berinteraksi dengan siapapun. Dulu saya suka banget nih main FB. Nge-tag foto. Komen-komen nggak jelas di postingan teman. Chat lewat messenger yang isinya ngegosipin orang sambil spam sticker. Bahkan dulu ada zaman di mana saya suka banget ngutak-atik akun FB teman yang ter-log in di komputer laboraturium, kerjaannya nge-add orang-orang nggak dikenal, ganti tanggal lahir teman (dan besok tiba-tiba notif FBnya rame sama ucapan selamat padahal ultahnya masih 6 bulan lagi), sampai ganti profpic teman pakai gambar-gambar hantu. Bentar, kok gue nakal bener ya? Salah fokus pula. Oke, balik ke penjelasan Fanbul soal Facebook. Jadi menurutnya, Facebook adalah platform terbaik untuk menggaet massa. Lewat FB lah Hipwee bisa dikenal orang banyak, tumbuh dan berkembang berkat like organik, dan mendapatkan 20.000 pageviews per hari lewat share link yang dilakukan pembaca. Menurutnya FB adalah sosial media terbaik untuk melakukan hard selling. Di sini kita bisa memberikan segala informasi dalam bentuk apapun : tulisan, gambar, video, pokoknya apapun! Tapi, perlu diingat, FB kurang cocok untuk soft selling dan daily conversation yaaa.. jadi kalau mau engage ke pembaca sebaiknya kita gunakan platform lain.
Twitter. Nah, ini medsos kesukaan saya sejak lima lima tahun terakhir. Selain informasi yang lebih banyak ketimbang FB, twitter juga membuat kita bisa ngobrol dan merasa dekat dengan siapapun. Mau nyamber obrolan selebtwit, bisa. Mau mention Pak Presiden, silakan. Bahkan mau cuap-cuap sama band idola pun monggo. Ini karena Twitter bersifat direct conversation. Jadi bagi creator yang ingin membangun keakraban dengan pembaca, ngobrol lah di Twitter. Lempar satu topik per hari dan dapatkan respon followers yang seru-seru. Oh iya, ada satu hal yang nggak boleh dilupakan, bahasa percakapan di offline dan online itu berbeda lho yaa. Lelucon yang kita anggap lucu saat diucapkan langsung bisa jadi garing banget di dunia maya. Susah-susah gampang sih, tapi bisa dipelajari kok.
Instagram. Social media yang kemarin sempat ramai karena diisukan akan mengubah algoritmanya ini juga harus kamu jadikan senjata untuk menggaet masa. Gimana caranya? Ya dengan share foto lah! Tapi di FB dan Twitter kan juga bisa upload foto, Win? Ho oh, tapi fungsi foto di Instagram adalah untuk soft selling. Kalau kamu pemilik olshop, Instagram sebaiknya digunakan untuk memamerkan foto sehari-hari di mana produkmu biasa digunakan, bukan jadi katalog. Kalau kamu penulis konten, jadikan Instagram sebagai tempat untuk mengupload foto quote atau meme yang berhubungan dengan topik tulisan. Ingat lho, di Instagram nggak bisa share link, jadi jangan harap dapat banyak klick dari IG.
Tumblr. Platform blog kesukaan saya ini menurut Fanbul juga bisa kamu gunakan untuk consumer appreciation. Pemilik olshop bisa mengupload pembeli yang sedang menggunakan produk di Tumblr. Penulis bisa share link tulisan lewat platform blogging satu ini. Nantinya followers tinggal love dan reblog aja kalau mereka suka dengan postingan kita. Saya pernah tuh ngerasain masa-masa di mana puisi-puisi saya di-reblog orang entah siapa karena tulisan saya mewakili perasaannya saat itu. Dan, sampai sekarang beberapa followers Tumblr saya malah ada yang jadi teman beneran :p
Silvia Ayudia
Selain memahami karakteristik tiap media sosial, ada satu hal penting soal menulis konten yang nggak boleh kamu lupakan, yaitu mengenali pembaca. Percuma kan udah nulis, udah share di socmed, eh tapi tetap nggak jadi viral hanya karena topik yang kita bahas nggak sesuai dengan apa yang followers inginkan. Silvia Ayudia selaku top writer Hipwee menjelaskan beberapa cara jitu to make a viral and shareable content, di antaranya :
Menentukan tema. Sebagai penulis kita dituntut untuk peka mengamati sekitar. Cari tema-tema menarik yang berpotensi disukai pembaca hingga nantinya mereka sukarela untuk turut membagikan link dan mengajak teman-temannya ikut membaca. 
Cari trend di media sosial. Nggak semua hal yang lagi heboh di dunia nyata bakal ramai diperbincangkan di dunia maya lhoo.. Di komplek perumahanmu mungkin lagi hot-hotnya bahas pemilihan ketua RT, tapi tema tersebut dijamin nggak akan shareable kalau ditulis jadi artikel. Sering-sering ngecek timeline FB, Twitter, Instagram, dan LINE deh. Atau, kalau kamu nggak bisa online tiap saat, tiap pagi coba cek Google Trend aja. Tapi biasanya beritanya udah agak basi sih kalau lewat Google Trend, yaaa kamu angetin deh biar masih enak dinikmati.
Buat tulisan dengan sudut pandang berbeda. Pernah dengar istilah bad news is a good news, nggak? Biasanya berita yang hot itu yang kontroversial, misal soal biduan yang salah menyebutkan lambang pancasila dan sempat viral selama hampir seminggu di hampir semua media. Kalau kamu mau menuliskan hal yang sama agar dapat page views yang banyak sih sah-sah saja, namun baiknya menulis dari sudut pandang berbeda. Tujuannya sederhana : biar nggak kebawa arus. Di tengah perputaran informasi setidaknya kita berusaha tampil beda agar orang-orang lebih notice.
Fokus pada judul. Untuk membuat satu artikel viral kita harus, kudu, mesti, wajib memperhatikan judul. Karena kalau judulnya aja udah nggak menarik, gimana pembaca bisa penasaran sama isinya? Ilmu meramu judul ini susah-susah gampang. Ada penulis yang suka nulis judul singkat tapi mewakili seisi artikel, tapi ada juga yang modelnya kayak Aan Mansyur yang kalau nulis judul panjangnya ngalah-ngalahin Tol Cipali. Saya sendiri adalah tipe orang yang suka nulis judul pendek karena pengin sok misterius, namun ternyata itu nggak menjual banget hahahaha. Pantes blog gue nggak berkembang, kagak ada yang tertarik baca gara-gara judul doang nih kayaknya *sedih*
Fanbul dan Silvia kemarin berhasil membuka mata saya soal dunia kepenulisan artikel. 2011 lalu padahal saya pernah jadi kontributor di salah satu portal web teknologi. Tapi zaman itu saya masih polos dan belum ngerti apa-apa jadi ya cuma nulis doang. Sehari satu artikel. Capek? Iya, apalagi kalau ada tugas lain numpuk dan editor udah nagih artikel.. hwaa rasanya pengin kagebunshin! Ujung-ujungnya saya nyerah dan nggak lanjut nulis padahal fee-nya oke banget. Sekarang nyesal deh. Tahu gitu diterusin. Hitung-hitung bisa bantu saya membangun habit menulis one day one post dan bikin artikel viral. Sekarang baru nyoba nge-blog lagi dan puyeng minta ampun karena ternyata ngeblog itu luar biasa ribet :)) ih, kesel deh kenapa dulu bego banget ada kerjaan bagus malah dilepas. Tapi nggak apa-apa deh, saya coba lagi meski terseok-seok. 
Hmm, nulis di Hipwee aja apa ya? Lumayan ada moderatornya jadi bisa dibantu kalau kesulitan. Trus siapa tahu ntar bisa kayak Silvia yang jadi top writer gitu. Hmm..

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

clear-fix">