Jadi, Sebenarnya Sampean Asli Mana?

Saya sering banget dapat pertanyaan tersebut tiap kali order ojek/taksi online. Obrolan yang mengalir antara saya dan driver seringnya berakhir dengan rasa penasaran tentang dari mana saya berasal. Saya tahu, umumnya mereka menyimpan tanya sejak kali pertama saya bicara. Kok nggak medhok ya? Kok logatnya kayak bukan dari sini ya? Sebenarnya nggak cuma sama driver doang sih, tiap kali kenalan dengan orang baru pasti mereka bakal menanyakan hal yang sama.

Lalu saya bakal jawab apa? I simply answer it with “dari Indonesia.” Biasanya mereka bakal ketawa, lalu kembali mengajukan pertanyaan yang sama.

Di balik fenomena ini sebenarnya saya agak terusik. Ada apa sih dengan gaya bicara saya? Ada apa sih dengan asal saya? Ada apa sih dengan orang-orang yang masih suka ngeriweuhin masalah suku? Saya lebih suka mengaku sebagai orang Indonesia walaupun darah saya berakar dari satu rumpun. Namun domisili saya yang sempat berpindah-pindah dan budaya merantau yang melekat di keluarga besar lantas membuat orang-orang salah tafsir tentang dari mana saya berasal.

“Saya lahir di Kalimantan, Pak.”

“Keluarga saya banyak di Bali, Mas.”

“Iya, saya udah lama nggak pulang ke Jakarta.”

Tiga kalimat di atas akan melahirkan ekspresi yang berbeda dari pendengar. Ada yang mendadak jadi irit bicara, ada yang jadi makin rame, ada yang cuma “oh..” See? Bagaimana pembahasan soal asal muasal yang lekat dengan masalah persukuan jadi faktor yang begitu mudahnya mengubah suasana. Ini karena kita, orang Indonesia, masih suka ngejudge orang berdasarkan keturunannya. Orang dari pulau ini dianggap kasar. Orang yang beda dari sukunya sendiri dianggap membahayakan. Orang yang datang dari desa dianggap kampungan. Orang yang berasal dari kota dianggap sombong dan nggak punya tata krama.

Itulah kenapa saya nggak suka membahas suku dengan orang baru. Sama seperti membahas agama, hal-hal kayak gitu nggak bisa dijadikan bahasan di pertemuan pertama. Keduanya memang membentuk identitas, namun tak lantas mendefinisikan pandangan. Kita sering lupa kalau seseorang bisa terbentuk dari banyak pengaruh, mulai dari pendidikan, kehidupan sosial, sampai ke masalah hidup. Kita juga sering lupa kalau asal itu letaknya di awal, sementara kita semua sedang berjalan menuju akhir.

Sekarang sih saya sudah tinggal di kota besar di mana masyarakatnya lebih terbuka dengan perbedaan, namun asal kalian tahu hal-hal kayak gini masih nggak berlaku di beberapa daerah. Mungkin udah ada yang pernah baca tulisan saya tentang menjadi minoritas. Di situ saya cerita tentang bagaimana identitas asli justru membahayakan hidup. Itu lho, gara-gara itu lho, saya nggak suka dikotak-kotakkan seperti itu. Iya, yang berdasar suku, agama, dan hal-hal bersifat keyakinan kayak gitu.

Padahal Indonesia sudah 72 tahun merdeka, Sumpah Pemuda sudah lama diikrarkan, tapi kita-kita yang punya kewajiban untuk menjaga keutuhan malah makin santer memecah belah. Nggak heran sih kalau kita gampang banget dijajah dengan budaya asing berkedok globalisasi, toh kita masih gampang menjatuhkan saudara sendiri. Kalau kata perumpamaan, kita nih masih nyaman untuk jadi sebatang lidi, belum siap jadi sapu lidi yang lebih kuat.

Makanya sampai saat ini saya masih nyaman menjawab pertanyaan, “jadi sebenarnya sampeyan asli mana?” dengan “asli Indonesia.” Kalau pun ditertawai dan kembali ditanyai, saya biasanya nanggepin dengan “emang saya keliatan ada bule-bulenya gitu ya?” biasanya mereka bakal ketawa lagi. Serius deh, di mana letak lucunya mengaku asli Indonesia?

Leave a Reply