Kembali Menjejak Tanah Merah



minggu terakhir di januari 2017 jadi minggu yang luar biasa buat saya. senin pagi, saya baru aja mendarat dari Lombok dan memutuskan langsung ngantor dengan bawaan seabrek. udah kayak orang minggat dari rumah, aslinya sih emang belum pulang ke rumah selama empat hari lima malam. sampai kantor, dapet kabar kalau ditunjuk jadi PIC sebuah event yang bakal diadakan seminggu lagi. pikiran langsung ke mana-mana. belum lagi saya mesti ngerekap kerjaan yang dua hari sempat saya tinggalkan. mana badan udah capek banget karena selama di Lombok saya banyak melakukan kegiatan outdoor. nggak lama kemudian, datang kabar nggak enak dari samarinda, pakdhe saya masuk rumah sakit.

esoknya, hari selasa, saya coba lalui dengan kepala dingin dan hati tenang. bekerja di start up itu menuntut kita untuk bergerak cepat. makanya selama selasa kemarin saya berusaha merunut dan menelaah informasi apa saja yang sudah saya lewatkan. too bad, ternyata banyak banget.

rabu, besoknya lagi, saya udah nggak jet lag. pagi-pagi udah semangat banget buat gangguin anak kantor. pas lagi bercanda, tiba-tiba teman saya dapet telpon. ayahnya baru saja meninggal dunia. sekantor langsung hening. suddenly we covered with gloomy feeling. di tengah kabar duka dari teman itu, saya juga dapat kabar kalau kondisi pakdhe saya makin memburuk. beliau baru saja masuk icu. tapi di sela kemumetan itu saya berhasil curi-curi waktu buat makan siang di luar barang dua jam. just because i need some fresh air to refresh my mind over this messy situation. pulang kerja, mestinya saya ikut melayat ke rumah teman saya tadi di mojokerto, tapi apa daya izin dari orang tua tak kunjung diberikan. alhasil saya pulang dan ketika sampai di rumah – bener-bener baru sampai – tiba-tiba kabar duka kembali menghantam saya : pakdhe baru saja berpulang. malam itu juga saya pesan tiket, ngemasukin baju dan peralatan traveling yang baru kemarin saya unpack dari tas yang sama. semua berjalan cepat, sama cepatnya dengan pikiran saya yang blingsatan ke sana ke mari.
pakdhe saya itu udah saya anggap seperti orang tua kandung sendiri, itulah kenapa saya memanggilnya “bapak”. karena dulu ketika masih kecil, ayah saya kerja jauh dari rumah. jadi ketika saya sakit, beliau lah yang gupuh mengantar saya ke dokter, mengobati saya, bahkan merawat saya hingga sembuh – sampai nginep di rumah segala padahal besoknya mesti kerja. pun ketika saya kesulitan mengerjakan PR dan tugas sekolah, saya hanya perlu menelpon beliau dan dalam hitungan menit pakdhe udah sampai di rumah dan siap membantu. beliau adalah sosok yang pintar, mau tanya pelajaran apapun, pasti tahu jawabannya. dan, yang tak bisa saya lupa pula, beliau adalah sosok yang suka bercerita. jika saya kesulitan tidur, misalnya, pakdhe akan datang dan mendongengkan berbagai cerita, lengkap dengan beragam nyanyian daerah. masa kecil saya benar-benar menyenangkan berkat beliau. makanya, ketika kabar kematian itu menghampiri, saya seperti ditinggal ayah sekali lagi.
esoknya pagi-pagi sekali saya berangkat ke bandara, too bad penerbangannya didelay. kesel abis! demi apa sih penerbangan pagi bisa didelay? kan kampret. alhasil yang mestinya sampai di samarindanya sore jadi kepending sampai malam. maklum, bandaranya ada di balikpapan, 2-3 jam perjalanan menuju samarinda, kota di mana saya dan pakdhe dulu berdomisili bersama. ketika saya sampai di rumah duka, pakdhe udah nggak ada. literally nggak ada karena jenazahnya sudah dikuburkan pagi tadi. sedih banget karena nggak sempat ketemu sama sekali. tapi ya mau gimana lagi, saya mau marah juga nggak bisa. dulu, ketika ayah saya meninggal pun begini nasibnya, saya terlalu lama menghabiskan waktu di jalan. untungnya kala itu saya masih sempat bertemu ayah – lebih tepatnya semua orang menunggu kedatangan saya sebelum ayah dimakamkan.
just for your information, saya sudah lama banget nggak ke samarinda. hampir empat tahun. dan saya begitu menyesali kenapa baru balik lagi ke pulau bertanah merah ini di saat berduka. seakan gue baru bakal pulang ketika orang yang nungguin gue udah nggak ada. saya paham banget, tanpa perlu diutarakan, pakdhe begitu merindukan saya. bayangin aja, dulu selama 16 tahun hampir tiap hari kami ketemu. buka puasa bareng, ngemall bareng, nonton tv bareng. lalu tiba-tiba saya kuliah di surabaya dan perlahan hubungan kami merenggang. intensitas tatap muka dan komunikasi kami kian berkurang. bodohnya saya lebih mementingkan dunia kemahasiswaan dibandingkan keluarga. bahkan ketika pada akhirnya keluarga inti saya ikut pindah ke surabaya, saya pun paham bahwa pakdhe melepaskan kami dengan berat hati. but life should go on and i can’t stick to my old life. i need to move forward and i choose surabaya.
setelah empat tahun nggak pulang, kemarin saya sempat limbung dihantam gelombang kenangan. (cie, bahasa gue). mulai dari kisah masa kecil di rumah yang dulu, masa-masa sekolah, teman-teman hingga cem-ceman, belum lagi mimpi-mimpi winona kecil yang kebanyakan tertinggal di sana. it’s weird when you come home but it didn’t feel like home anymore. saya empat hari di samarinda dan anehnya rasa yang muncul tidak lagi sama dengan ketika pulang empat tahun lalu. saya merasa seperti tamu yang sekadar mampir lalu pergi. datang hanya karena ada keperluan, bukan untuk melepas lelah dan bercerita banyak hal soal perjalanan panjang. 
aneh, padahal akar saya di sana.
ketika mampir menjenguk ayah, tak lagi ada sedu sedan seperti empat tahun lalu. saya nggak bakal lupa duduk berjam-jam di samping makam ayah sebab terlalu takut untuk benar-benar pindah ke Surabaya, benar-benar jauh, benar-benar tak bisa ziarah tiap hari. berat sekali rasanya ketika saya harus balik badan dan melangkah pergi meninggalkan ia yang saya cintai setengah mati. namun ketika kembali lagi ke samarinda, saya seperti menjadi winona baru dengan rasa rindu yang wajar. tak lagi meletup-letup dan tak lagi diselimuti sesal yang sedemikian mengikat. barangkali saya sudah cukup dewasa untuk paham bahwa di dunia ini kematian adalah hal yang biasa. kehilangan sudah bukan lagi hal yang menyakitkan. perpisahan juga tak perlu selalu ditangisi.
apa sebenarnya ada yang salah dengan saya?
kembali menjejak tanah merah ternyata tak melahirkan rasa mendalam seperti yang saya ekspektasikan. bisa jadi momentnya kurang pas. atau bisa jadi momentnya memang sudah tidak akan pernah pas lagi.
lucunya hal ini juga saya rasakan pada circle pertemanan. “aku di samarinda nih, ngumpul yuk!” sebegitu mudahnya untuk mengumpulkan teman-teman saya. we talk, sing, and laugh together till the night comes. senang rasanya ketika kumpul bareng, sampai-sampai waktu berlalu begitu cepatnya. namun lepas dari itu saya kembali merasa hampa. seakan yang sudah teman-teman lakukan untuk menghibur saya terasa sia-sia. 
*hela napas panjang*
padahal dari segi tata kota, samarinda tidak berubah banyak. meskipun sekolah saya udah dirobohkan dan dijadikan taman kota, meskipun rumah saya dulu udah jadi milik orang, dan tempat nongkrong saya dulu udah terlalu penuh dengan cafe kekinian, tapi samarinda di mata saya tetap lah sama. beda, sangat jauh berbeda dengan samarinda yang ada di hati saya.
dulu, ada seorang teman yang pernah bilang ke saya bahwa suatu kota akan menyimpan kenangannya sendiri, jika pada akhirnya kenangan tersebut mengusikmu, maka buatlah kenangan baru yang menyenangkan. ah, nampaknya sudah terlalu sulit menghidupkan keriaan di samarinda. tiap sudutnya selalu beraroma masa lalu – masa yang ingin saya tinggalkan jauh-jauh. terlalu banyak yang sudah saya”selamat tinggal”-kan, hingga akhirnya ketika saya menjejak kembali, saya merasa seperti orang asing.
sebenarnya ada suara kecil di hati saya yang kerap berbisik pelan “mari pulang lagi”. ingin rasanya diri ini mengamini, namun sesuatu di balik dada saya masih terlalu enggan untuk kembali. rasanya atmosfer samarinda masih terlalu sesak, membuat saya pengap dan kehabisan napas, kehabisan akal, dan kehabisan daya. kota itu telah meluluhkan saya, melemahkan kewarasan, dan menguarkan aroma masa lalu yang terlalu kuat.
ingin, tapi tak ingin.
mungkin bukan dalam waktu dekat,
mungkin tidak tahun ini,
mungkin saya memang belum siap untuk pulang, bahkan setelah empat tahun berlalu.

Leave a Reply