Kolaborasi #FoodyIDxWinonaRianur

Jika Tuhan mengabulkan semua doamu, sudah siapkah kamu menerima semuanya?

Dulu saya pernah bertanya-tanya, apakah akan ada brand/produk yang mau berkolaborasi dengan artwork saya? Pikiran tersebut pernah saya simpan dalam folder mengkhayal babu. Sekedar sadar diri kalau saya bukan anak DKV, cuma anak teknik yang belakangan ini nyemplung di dunia seni, baik literasi maupun ilustrasi. Semua dilakukan secara otodidak, berantakan, dan menimbulkan banyak komentar. It’s okay, namanya juga proses belajar dan bertumbuh.

Khayalan babu saya tersebut masih tersimpan rapat sampai kemudian salah seorang Human Foody menghubungi saya dan menyatakan keinginan website penyedia direktori info makanan di Indonesia tersebut tertarik untuk membeli karya saya. WOW! Pas pertama kali ditelpon saya sempet butuh sekian detik untuk mikir ulang, “bentar, ini nggak salah sambung kan?”

Ternyata enggak!

Tuhan emang punya caranya sendiri untuk membukakan pintu kesempatan demi terwujudnya doa yang bahkan sempat terlupa.

Semua berawal dari keisengan saya untuk ikut lomba menulis foody. Salah satu kriteria untuk menang adalah jumlah share artikel di facebook. Sadar kalau tidak banyak teman saya yang aktif berfacebook, akhirnya saya bikin beberapa ilustrasi tentang makanan asli Indonesia untuk diupload di Instagram. Harapannya agar teman-teman di Instagram juga bantu ngeshare. Ujung-ujungnya saya nggak menang, tapi alhamdulillah dapat seperangkat official merchandise FoodyID dan voucher MAP 150.000.

Saya kira semua sudah selesai, tapi ternyata enggak. Beberapa hari setelahnya saya ditelpon dan diajak berkolaborasi untuk memeriahkan campaign ulang tahun ke dua Foody Indonesia. Semua artwork yang saya pakai untuk share artikel pada Juli lalu akan dipakai untuk cover note book official merchandisenya Foody di bulan Agustus. Nggak perlu mikir lama-lama, saya langsung YES!

Sumpah, pengalaman pertama yang mengagetkan sekali!

Saya akhirnya tahu seperti apa rasanya menandatangani kontrak kerjasama sebagai penyedia jasa/barang setelah selama ini umumnya menjadi client. Ada deg-deg seeeerr takut client ga puas gituuu.. Karena sebagai client kita biasanya menaruh ekspektasi yang tinggi (gw rasa ini karma sih, karena kalau jadi client suka cerewet). Saya juga akhirnya tahu gimana rasanya terjebak di penantian mencairnya invoice. Saya juga jadi ngeh gimana rasanya lihat gambaran sendiri terpampang nyata dan dibagikan ke orang-orang. Beban moralnya berkali lipat. Muncul pertanyaan “gimana pendapat orang-orang yaaa? Nyesel gak ya foody kolaborasi sama gue?”

Sempat ada rasa haru ketika lihat gambaran sendiri berubah bentuk dari kertas klepek-klepek menjadi cover note book yang bisa dipakai jadi media tulis sehari-hari. Oh, wow, begini rasanya melihat karya berubah bentuk. Priceless! Barangkali ini juga yang dirasakan para penulis ketika ratusan lenbar draft naskahnya berubah bentuk jadi sebuah novel dan dinikmati banyak orang (soon to be nih, aminkan dong, gaeesss). Mungkin ini juga yang selalu dirasakan penyedia jasa desain sampul buku (sementara itu orang-orang selalu ngejudge buku dari sampulnya).

Ternyata tak hanya kesempatan, Tuhan juga menitipkan banyak rasa pada kolaborasi ini. Kalau dipikir-pikir impactnya nggak besar buat Foody, toh hanya sekedar gambar di cover note book. Tapi buat saya ini bisa jadi pencapaian sendiri. Ujung-ujungnya jadi mikir, Tuhan aja bersedia mengabulkan mimpi hambanya, even itu mimpi lama yang bahkan terlupakan. Trus masa kita nggak mau memperjuangkan mimpi-mimpi besar? Lelah memang untuk berdoa dan berusaha. Capek rasanya untuk kembali bangkit setelah dicibir berkali-kali. Tapi, Tuhan mboten sare. Akan tiba waktunya. Akan hadir saatnya. Sekarang tinggal kembali ke diri kita sendiri, siapkah untuk menerima perwujudan doa yang selama ini dihaturkan?

Leave a Reply