Memanusiakan Manusia,  Senandika

Lacuna, Inc. dan Move On

I’m in my period – you know, this situation when a woman like me feel so emotional because of hormonal thing (at least once per month). Yap, that thing. My PMS has already passed, but the gloomy feeling still covering me until now. I told my good friend that I didn’t feel good. Guess what? Tiba-tiba ada abang gojek muncul di depan rumah dengan sekotak donat di tangannya. I was surprised! Ternyata teman saya tadi yang repot-repot pesen gojek untuk beliin makanan manis dan ngirim ke rumah just to make me feel better. As you know, sugar can boost mood and make anyone happy. How sweet!

I do feel better now, thanks! Sekarang saya lagi ngunyah mini-donat sambil nonton film Eternal Sunshine of Spotless Mind. Film keluaran tahun 2004 ini diperankan oleh Jim Carrey and Kate Winslet. Oh, and Kirsten Dunst, Mark Rufallo, plus Elijah Wood! Jadi, sekitar empat tahun lalu saya udah pernah nonton film yang mengangkat kisah tentang proses move on inI. Eternal Sunshine of Spotless Mind menceritakan Joel & Clementie yang berusaha menghapus ingatan mereka tentang satu sama lain dengan bantuan Lacuna, Inc. – perusahaan penyedia jasa penghapus ingatan.

eternal sunshine of the spotless mind

Cara kerja Lacuna, Inc. cukup masuk akal. Kita diminta membawa barang-barang yang memunculkan ingatan terhadap sosok yang ingin dihapus. Dengan bantuan mesin, orang-orang di Lacuna, Inc. akan memetakan bagian otak mana saja yang bereaksi dengan barang tersebut. Lalu pada satu malam, these people will come to your room while you asleep. Mereka akan memasangi sebuah alat di kepala kita, membuka kembali hasil pemetaan kemarin, dan menghapus ingatan tersebut satu per satu. Voila! Ketika esoknya terbangun, semua ingatan pada sosok tersebut akan hilang begitu saja.

Sounds scary? Not for me.

Saya pernah berada pada masa di mana cukup gila untuk mencari Lacuna, Inc. di dunia nyata. HAHAHA. I ever told my friend that I need someone or something to take out some memories from my brain. Ada beberapa ingatan masa lalu yang kerap menghantui saya. Ada sosok yang sering tiba-tiba muncul lagi di dalam mimpi. Ada kenangan yang gemar bertandang ketika saya hanya ingin melupakan. Itu nyiksa banget – it hurts. Saya sampai mempertanyakan kewarasan saya sendiri. Mengapa saya terus memikirkan yang sudah lalu? Mengapa saya masih menyimpan tanya pada apa yang jelas-jelas tak ingin ditanya? Mengapa saya masih memanggil ingatan tentang orang-orang yang bahkan tak lagi mengingat saya?

I was sad, anxious, and so terrible. I built four walls to cover me from something that I thought will hurt me more. Saya jadi menutup diri. Bayangkan, saya dikekang oleh pikiran sendiri. Parah. Saya nggak paham kenapa bisa dipermainkan oleh isi otak sendiri.

“I need to find the Lacuna, Inc.” ucap saya suatu malam ke salah seorang teman – dia adalah sang pengirim donat. Sayangnya, teman saya ini nggak pernah nonton Eternal Sunshine of Spotless Mind. Alhasil ia mencoba mencerna maksud saya secara rasional.

“Lalu kalau sosok itu kamu hapus, bakal ada beberapa part dalam ingatan yang hilang, dong?” tanyanya mengambil kesimpulan.

“I don’t care.”

“No, you should, akan ada kenangan yang hilang. Sequencenya akan kacau. Yang mestinya utuh, malah jadi bolong.”

“So, what?” tanya saya acuh. That’s what I want! Erasing him from my memory – from my whole life.

“Hmm,” teman saya itu kemudian menatap langit-langit – berpikir dan mencerna kegilaan saya. “Ingatan itu bukannya saling memanggil ya? Seperti coding, otak kita punya function yang ketika diexecute bakal manggil ingatan lain. Jadi, kalau ada yang hilang atau corrupt, maka akan merusak keseluruhan program.” Saya mendengarkan tanpa berkomentar. “It’ll damage you brain.”

Long short story, teman saya itu kemudian mendedikasikan hidupnya untuk membantu saya healing – to move on, to get a better life. Oke, lebay, nggak gitu juga sih. Tapi yang saya ingat, dia selalu ada di saat saya ingin bercerita dan didengar. Padahal isi ceritanya selalu tentang orang yang sama, alur yang sama, namun rasanya tetap saja krenyes-krenyes di dada ini. Percakapan di atas terjadi setahun lalu, btw, and we’re still be good friends til now.

Sekarang alhamdulillah saya udah berhasil move on. YAY! Belakangan saya jadi sadar kalau Lacuna, Inc. itu lebih baik hanya ada di dalam film saja. Bakal bahaya banget kalau beneran ada. Nggak tahu bakal jadi apa otak manusia kalau sampai ada teknologi yang bisa menghapus ingatan. Hancur dunia persilatan.

eternal sunshine of the spotless mind

Btw, ingin tahu gimana cara move on yang praktis? The answer is.. nothing. HAHAHA.

Move on adalah soal berdamai dengan diri sendiri. Percaya aja kalau Allah punya rencana yang lebih baik. Time will heal. Everything will be okay. Sabar. Sarannya klasik banget ya? Emang. Kadang kepala kita terlalu ruwet sampai nggak bisa berpikir jernih – sampai nyari-nyari Lacuna, Inc., contohnya – padahal Allah hanya ingin kita kembali ke basic, yaitu berserah padaNya. All the storm will pass. This hard time, will too shall pass. Sabr.

Kali kedua nonton Eternal Sunshine and Spotless Mind ini saya masih aja mewek di bagian endingnya. At the end, ujung-ujungnya, mau sesakit apapun ingatan dalam kepala, kita nggak bakal tega untuk menghapus seseorang dari ingatan. Saya pernah baca sebuah riset neurology yang memaparkan bahwa seiring berjalannya waktu, segala ingatan yang menyedihkan dan menyakitkan akan terlupakan sendirinya. Pada akhirnya yang akan kita ingat tentang seseorang adalah kebaikan serta kenangan menyenangkan bersamanya – tentang bagaimana kali pertama bertemu, bagaimana kita menghabiskan waktu bersama, bagaimana kita membantu satu sama lain, bagaimana kita menertawakan hal yang sama. Maha Besar Allah. Begitu lemahnya kita sebagai manusia hingga Dia mendesainkan otak yang mampu bekerja sesempurna itu – tak ingin menyulitkan hambaNya.

Guys, you should watch Eternal Sunshine and Spotless Mind!

Jadi, buat kamu yang lagi dalam masa move on, yang sabar aja ya. Nikmati tiap rasa yang bikin nggak nyaman, toh akhirnya semua akan hilang di waktu yang tepat. Lupakan Lacuna, Inc., percaya saja pada Sang Pencipta. Enjoy it and good luck!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

clear-fix">