Senandika

Laut

Laut adalah tempat terbaik untuk melarikan diri.

Kalimat di atas pernah saya jadikan caption foto untuk diunggah ke akun Instagram saya. Seorang teman kemudian membubuhkan komentar, “emang bisa berenang? Paling juga masuk angin.” Ada juga yang menimpali dengan, “mau ngapain di laut?” Membacanya, membuat saya menarik napas panjang. Beberapa hari kemudian saya memilih untuk menghapus foto tersebut.

Bagi saya, laut bukan sekedar muara, melainkan tempat untuk berkontemplasi ternikmat.

Pernah dengar pertanyaan klasik, “pilih gunung atau laut?” Kira-kira kamu bakal jawab apa? Kalau saya, tidak ada jawaban saklek. Relatif aja, tergantung kondisi pikiran, butuh rehat atau justru butuh mikir. Relatif, tergantung lokasi mana yang paling dekat dengan keberadaan saya. Relatif, tergantung bersama siapa saya akan menghabiskan waktu. Serba relatif. Sorry, saya lagi baca buku berjudul Predictably Irrational yang menyadarkan saya bahwa setiap decision dibuat berdasarkan unsur pembanding – membuat relativitas bisa diperhitungkan. Akan tetapi kalau harus memilih hanya karena pertanyaan basa-basi (biasanya jadi bahan obrolan saat PDKT, nih) maka jawaban saya adalah gunung.

Lho, bahas laut kok milihnya gunung?

Karena gunung mengajarkan saya untuk tidak mudah menyerah dalam menggapai tujuan. Tiap langkah yang semakin berat, tiap napas yang makin pendek, tiap stamina yang makin turun – membut saya harus pintar-pintar mengatur emosi dan pikiran untuk nggak gampang nyerah. Dikit lagi sampai. Dikit lagi sampai. Dikit lagi sampai. Gitu terus berulang-ulang hingga tiba di puncak. Ketinggian juga membuat saya melihat dari perspektif berbeda. Ketinggian membuat saya merasa bersyukur.

Gunung melatih pendaki untuk achieve more. Lalu laut?

Laut adalah tempat terbaik untuk melarikan diri.

Laut selalu membuat saya merasa begitu kecil, tak punya kuasa, dan diingatkan kembali bahwa kebesaran Tuhan tiada tanding. Kumpulan air asin di hadapan dapat menghanyutkan, menenggelamkan, dan melumat saya dalam hitungan detik. Padahal ia tampak tenang dan menenangkan. Garis horizontal di ujung laut adalah sebuah misteri – ia menelan segala objek yang mendekati; matahari, kapal nelayan, dan pikiran-pikiran dalam kepala saya. Di balik pantulan warna langit pada permukaannya, laut menyimpan kehidupannya sendiri. Ia adalah muara semua kisah – temu maupun pisah. Seakan-akan di tiap tetesnya terkandung air mata pengharapan segala makhluk.

Saya suka memandang laut lama-lama. Debur ombak adalah white noise favorit saya. Kadang saya suka nggak sadar kalau isi kepala lagi ruwet sampai saya bertemu laut. Angin laut yang berputar-putar di pantai sering membawa serta perasaan-perasaan dalam dada untuk pergi melaut, berlayar, mencari pelabuhan baru. Kadang bengong bentar sambil ngeliatin laut bisa meluruhkan gemuruh dalam diri. Tiba-tiba lega dan bisa kembali jernih – pulang dengan perasaan ringan. Agak-agak serem gitu ya, ini kesambet apa gimana?

Laut adalah tempat untuk melepaskan. Gunung adalah tempat mengumpulkan harap. Pada keduanya, Tuhan coba kembali menitipkan tanda bahwa manusia tak punya hak untuk besar kepala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *