Senandika

Mari Bicara Soal Kopi

Weekend lalu saya ketemuan sama salah seorang teman kuliah. Dia adalah penyuka Chatime, ketika kali pertama bertemu, hal kedua yang ia tanyakan setelah kabar saya adalah “Cil, tau Chatime di mana?” Saya menggeleng. Kami lalu berjalan mengitari mall sambil celingukan berdua.

“Quickly, may be?” saran saya dengan menyebutkan merk minuman sejenis.

“Ah, enggak deh, terlalu artificial,” ujarnya sambil melambaikan tangan dan terus berjalan.

Oh. Saya mencoba mencerna ucapannya. Terlalu artificial. Terlalu buatan. Oh. Bisa peka gitu ya lidahnya, ucap saya dalam hati. Buat saya semua minuman itu cuma ada dua jenis – ada air putih dan selain air putih. Minuman rasa-rasa yang cocok bagi saya hanya teh, itupun sering tanpa gula. Minuman warna warni jarang mengisi gelas saya. Sounds to plain? You don’t say. Winona kecil punya penyakit amandel, kerjaannya batuk-pilek secara berkala. Salah satu pemicunya adalah makanan pinggir jalan dan minuman rasa-rasa. Dulu sih bandel, tapi lama-lama capek juga sakit melulu. Apalagi sejak amandel saya dicabut, saya harus lebih kuat menahan diri. Akhirnya tobat, mending minum air putih aja.

“Gimana kalau ngopi?” tanya teman saya kembali.

“Widih, jadi anak kopi nih sekarang?” ucap saya sambil mengernyit.

“Iya nih, Cil, sejak kerja jadi nggak bisa lepas sama kopi. Nyandu. Jadi bego kalau nggak ngopi,” terangnya. “Excelso di mana ya?”

Saya hanya tersenyum kecil mendengarnya. Dia orang kesekian yang mengaku cinta mati dengan minuman hitam tersebut. Kayaknya nggak ada hari tanpa kopi. Kayaknya otak nggak bisa diajak kompromi tanpa segelas kopi. Kayaknya terlalu banyak cerita yang bisa mengalir karena aroma kopi. Kayaknya hidup hampa tanpa pahit-asamnya kopi. Saya mahfum. Karena deep down, I have this love-hate relationship dengan kopi.

Ayah saya penikmat kopi. Mungkin, kalau saya mengenalnya sejak masih muda, kebiasaannya tak jauh berbeda dengan kebanyakan teman laki-laki saya ; sukanya nongkrong di warung kopi sambil ngetawain hidup. Seingat saya, dulu aroma kopi sempat meramaikan rumah kami. Kalau lagi ngumpul dengan teman kerjanya, ayah juga suka minum kopi. Kalau lagi ngobrol dengan kakak-kakanya, ayah juga suka minum kopi. Tapi lambat laun, tentu karena tuntutan kesehatan pula, ayah meninggalkan kopi dan beralih ke air putih. Tidak banyak yang saya ingat tentang hal-hal yang ayah saya suka, kecuali kopi.

“Serius kamu nggak suka kopi, Cil? Cobalah sesekali, enak lho, serius,” kembali teman saya meyakinkan. “Coba kopi dari Makassar gih, cocok untuk pemula. Enak di mulut dan aman di lambung.” Gagal mendapatkan Chatime, ia merayu saya untuk ngopi.

“Nggak pengin dan nggak berusaha membiasakan nih,” tukas saya.

“Hari giniii?” tanyanya heran. Iya, bahkan sampai hari ini. “Emang kamu nggak pernah diajak ngopi sama siapaaaa, gitu?” tanyanya dengan nada menginterogasi.

“Ada, minggu lalu,” aku saya dengan nada bersalah, “ada laki-laki yang nawarin ngopi pas kita lagi jalan bareng.”

“Lalu?”

“Kan aku nggak minum kopi.”

Teman saya itu kemudian melotot, “gila lu yeee?”

Gila? Ah, enggak juga.

Saya tidak membenci kopi kok, sungguh. Kadang saya masih minum kopi, entah yang dikemas dalam kaleng dan dipajang di kulkas mini-market atau kopi hitam biasa yang diseduh di dapur sendiri. Kalau lagi dikejar deadline dan butuh memangkas waktu tidur, saya akan mencari kopi. Kalau kepala lagi berat, saya akan cari kopi. Kalau lagi kangen banget sama ayah, saya akan mencari kopi. Bagi saya, kopi itu bisa mempermainkan waktu. Magis.

“Trus tuh cowok kamu anggurin aja gitu, Cil?”

“Nanti ada waktunya,” jawab saya mengakhiri topik yang satu itu. Beberapa langkah kemudian saya melihat gerai minuman bernuansa ungu, “eh, Chatime, tuh!”

“Rezeki gueeee!” tiba-tiba teman saya beteriak sambil setengah berlari.

Saya hanya geleng-geleng melihat tingkahnya yang excited banget karena menemukan minuman rasa-rasa. Tapi nggak apa-apa lah, at least nggak jadi ngopi.

To be honest, saya lebih suka ngopi sendiri sambil berkontemplasi. Jika hanya sekedar nongkrong dan ngobrol, saya cukup berteman air putih atau teh. Barangkali nanti kalau saya sudah menemukan orang yang tepat, baru bisa ngopi berdua. Tapi itu nanti, ketika saya sudah menemukan laki-laki yang bisa memisahkan kopi dan ayah di kepala saya. Nanti, mungkin ada waktunya.

“Kamu pesan apa, Cil? Something with less sugar, right?” teman saya menawarkan ketika saya sampai di gerai Chatime.

Saya menggeleng, “cukup air putih.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *