Mencoba Mengajar

Cie, jadi Relawan Pengajar Kelas Inspirasi Lombok 4

Hai, halo! It’s been a looooonng time since I wrote something on this blog ya. Maaf kalau terkesan pilih kasih karena lebih sering update di blog sebelah dan blog satunya lagi. Soalnya nulis di Tumblr nggak membutuhkan waktu lama, beda dengan di sini hehe. Okay, kali ini saya akan bercerita soal … pengalaman menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi.


Ini kali pertama saya mengajar anak orang. Biasanya cuma ngajarin adik dan ponakan. Dan, karena mereka saudara sendiri, saya bebas untuk menggunakan metode apapun dalam menyampaikan materi. Gaya mengajar suka-suka jidat. Kadang sambil nyanyi, bercerita, atau menggambar. Bisa juga sambil duduk, tiduran, atau sambil teriak dari jauh. Dari sekian banyak cara mengajar itu, 80% biasanya diakhiri dengan omelan panjang dari saya yang mengeluhkan kenapa mereka nggak paham dengan penjelasan saya.

Intinya, saya nggak bisa ngajar.

Jadi, ketika saya menemukan informasi seputar gerakan sosial yang bergerak di bidang pendidikan bertajuk Kelas Inspirasi, yang saya lakukan adalah mendaftar sebagai relawan … fotografer. Lho? Iya, saya juga masih suka bingung sampai sekarang, kesambet apa gue sampai nekat daftar jadi dokumentator padahal nggak punya skill apapun dalam dunia fotografi? Hahaha. Tapi toh diterima dan berhasil mengabadikan kegiatan Kelas Inspirasi Surabaya Agustus lalu. Menariknya, salah satu jepretan saya dipajang dalam pameran fotografi Kelas Inspirasi Surabaya di Jatim Fair Oktober lalu. Sumpah, gue masih nggak habis pikir kenapa bisa gitu hahaha.

Di Kelas Inspirasi, saya bertemu dengan banyak sosok hebat, baik itu dari rekan panitia, fasilitator, pengajar, hingga sesama dokumentator. Meski profesi dan latar belakangnya berbeda-beda, namun ada satu hal dalam diri masing-masing yang berhasil menyatukan kami, yaitu semangat berbagi. Turun langsung ke sekolah pinggiran dan menyaksikan sendiri potret pendidikan saat ini membuat kami miris sendiri. Ada beberapa anak yang tak tahu jika sudah besar nanti ingin jadi apa, ada yang dengan malu-malu menjawab, ada yang njiplak cita-cita temannya, bahkan ada yang dengan polosnya menjawab ingin menjadi TKI seperti orang tuanya. Duh.

Saya sendiri masih butuh belajar banyak, belum jadi orang sukses, dan tidak memiliki profesi keren nan necis yang akan membuat anak-anak terpana. Tapi, saya ingin bertemu anak-anak Indonesia langsung, berbagi cerita bahwa mimpi dan cita-cita itu harus digantungkan setinggi langit. Kejar, tangkap, raih. Mau sekumuh, sebobrok, semengenaskan apapun asal kita, akan selalu ada kesempatan baru untuk mengubah keadaan. Itulah mengapa tanggal 21 Januari lalu saya hadir ke Sembalun, Lombok. Kali ini bukan sebagai orang di belakang kamera, namun menjadi sosok yang berdiri di depan kelas. Iya, saya belajar menjadi pengajar.

Look how happy they are!

Perekonomian masyarakat di Kaki Gunung Rinjani ternyata masih jauh di bawah rata-rata. Di sana, tidak semua anak menggunakan seragam, sepatu, dan atribut lain ketika ke sekolah. Ketika berkomunikasi pun mereka lebih nyaman menggunakan Bahasa Sasak ketimbang Bahasa Indonesia. Saya tahu sebenarnya mereka bisa, sebab mereka tinggal di Taman Nasional Kaki Rinjani, salah satu tempat wisata yang ramai dikunjungi turis lokal maupun asing. Selain itu mereka juga belum tahu apa itu internet. Menariknya lagi, di tiap kelas selalu ada anak berkebutuhan khususnya. Jujur aja saya sempat shock ketika sampai di sana. Saya datang sebagai ibu guru yang siap bercerita soal dunia Digital Marketing, namun ternyata anak-anak di sana masih jauh tertinggal. Sedih.

Saat mengajar kemarin saya berpasangan dengan seorang teman yang profesinya serupa. Sama-sama bergerak di dunia Start Up dan memiliki tanggung jawab memasarkan produk. Wanda namanya. Kami berdua sudah meramu cara mengajar semenarik mungkin, bahkan kami mempersiapkan diri untuk hal terburuk – mengajar anak kelas 1 SD yang nggak tahu internet. Tapi ternyataaaa … kondisi di lapangan lebih buruk dari skenario terburuk yang ada di kepala kami.

Sembalun digoyaaaaanng~

Sebagai opening kami ikut anak-anak senam kesegaran jasmani. It was fun! Motorik kasar mereka bagus banget. Gerak ke kiri dan ke kanan dengan lincah walaupun nggak semuanya sesuai gerakan instruktur di depan. Menariknya, ada pesan moral di lagu senam mereka, yang paling saya ingat sih pesan jauhi narkoba. Sempet bingung juga pas pertama kali dengar. Apa gue agak congek ya? Taunya beneran jauhi narkoba hahaha. Setelah berhasil membaur dengan mereka, saya dan teman-teman relawan mengenalkan diri masing-masing. Menyebutkan nama, profesi, dan asal. Anak-anak pun merapat maju, berusaha menelaah name tag kami satu persatu. Mungkin mereka pada mikir, ini orang siapa sih?

Di jam pertama, saya dan Kak Wanda mengajar anak-anak kelas tiga. So far oke. Mereka tahu apa itu periklanan, contoh iklan di televisi serta radio, dan mampu mengikuti simulasi pemasaran sederhana di depan kelas. Permainan bisikan berantai pun bisa dilakukan dengan baik. Bagi anak-anak yang aktif menjawab dan berhasil memenangkan permainan kami beri reward berupa bintang bertuliskan beragam compliment seperti Aku Pintar, Aku Hebat, dan Aku Keren. You know exactly who made those words, right?

Lepas dari kelas tiga, kami kebagian ngajar anak-anak kelas dua. Materi yang kami sampaikan masih sama, namun di kelas dua saya mulai kewalahan saat menjelaskan apa itu internet. Seriously, how to explain this abstract thing named internet to 8 years old kids? Oh, Einstein, please tell meeeeeee!! Saya udah coba gambar di depan kelas, mencoba memberi pengertian kalau internet itu seperti penghubung dari barang-barang elektronik di sekitar mereka, seperti computer dan telepon genggam. Di internet kita bisa beriklan juga, Nak. Itu lho yang namanya Digital Marketing. Nak, please ngertiin Ibu, Nak.

Keringat dingin waktu jelasin apa itu internet
Di jam ke dua saya udah mulai bingung, sementara Kak Wanda masih semangat teriak-teriak di depan kelas. Emang kelihatan beda banget ya mana yang udah berpengalaman jadi relawan pengajar KI dan mana yang masih amatiran hahaha. Kak Wanda lebih tangkas sementara saya lebih banyak bengongnya karena ngerasa jet lag. Pas dia ngajar, anak-anak bisa langsung mengerti. Pas giliran saya, anak-anak pada melongo. Mungkin dikiranya saya ini alien yang sedang menyebarkan doktrin baru seputar kehidupan politik antar galaksi.

Setelah ngajar dua jam, waktunya istirahat. Lonceng dibunyikan, anak-anak berlarian keluar, saya juga ikutan keluar kelas dan nyari air mineral. Cupu amat, Win, segitu doang udah capek.  Di jam istirahat kami bermain bersama anak-anak. Mulai dari sekedar ngobrol, main lompat tali (pada ga inget umur yak, udah pada tua tapi loncat-loncat haha), dan foto-foto bareng anak-anak. FYI, pemandangan di Sembalun itu breath taking banget. Cakep! Ke manapun mata memandang, selalu aja ketemua pegunungan Rinjani berlatar langit biru tanpa polusi. Sebuah pemandangan yang jarang sekali saya temui. Bahkan sampai akhirnya harus angkat kaki dari Pulau Lombok pun, saya masih suka geleng-geleng kepala karena heran kenapa langit di sana nggak ada jeleknya sama sekali. Even ketika mendung berkabut pun bukan kengerian yang muncul, melainkan rasa tenang nan adem. Gokil banget lah!

Menempelkan cita-cita

Oh iya, di waktu istirahat, anak-anak kami minta untuk menuliskan cita-cita mereka di kertas stiker untuk kemudian ditempelkan pada spanduk berukuran 3×1 meter. Sebelum masuk kelas, saya dan teman-teman relawan membaca tiap aksara yang ditulis langsung oleh tangan-tangan mungil mereka. Ada yang tulisannya kecil banget, pula ada yang makin ke kanan tulisannya makin naik, ada juga yang typo nggak karuan. Sebagian besar anak lelaki ingin jadi polisi, tentara, dan brimob. Sementara anak perempuan lebih memilih jadi guru, dokter, dan … artis. Nggak heran kok. Sungguh kami benar-benar memaklumi. Di Sembalun memang banyak pasukan brimob yang berjaga, mondar mandir dengan seragam serba hitam, motor kumbang, dan senjata laras panjang. Bahkan sampai di Mataram pun saya masih menemui beberapa. I admit it, they look so cool. Pantas anak-anak mengidolakan mereka. Dan, soal anak perempuan yang bermimpi jadi artis, ngg.. di Surabaya pun ada kok yang begitu. Udah deh, nggak bakal ada yang bercita-cita jadi Digital Marketing. Udah, Win, yang tabah ya..

Di jam ke tiga, saya dan Kak Wanda akhirnya menemui apa yang dikhawatirkan sejak masih di kota masing-masing : berbicara di depan anak kelas satu. Beberapa menit pertama mereka bisa diajak berkomunikasi. Ice breaking bisa diikuti dengan baik. Sampai kemudian mereka berusaha rebutan perhatian kami. Caper. Tiba-tiba ada anak yang naik-naik ke atas meja, main pukul-pukulan, jambak-jambakan, dan ada yang tiduran di lantai. Saya dan Kak Wanda akhirnya sepakat untuk nggak menjelaskan materi seputar marketing ke mereka. Yang kami lakukan cuma nyanyi-nyanyi bareng. Ketika ditanya siapa yang berani nyanyi di depan kelas, ada satu anak yang mengajukan diri. Tapi ketika anak tersebut mulai nyanyi, teman-teman sekelasnya pada ikut maju ke depan. Semua pada maju dan bentuk paduan suara gitu, nggak ada penontonnya. Di menit ke dua puluhan, akhirnya wali kelas mereka muncul menawarkan bantuan. Lucunya, mereka langsung nurut banget! Disuruh balik ke tempat duduknya, mau. Disuruh diam dan tenang, mau. Disuruh nyanyi lagu kebangsaan, mau. Saya dan Kak Wanda kemudian lihat-lihatan – kehabisan akal. Hingga akhirnya kami memilih menyerah dan melangkah meninggalkan kelas.

Ular naga panjangnya bukan kepalaaaaanngg~
Seharusnya setelah mengajar kelas satu, kami kebagian ngajar kelas enam. Wah, enak nih akhirnya ketemu dengan kelas besar, anak-anaknya udah bisa diajak mikir, pikir saya dalam hati. Kami pun nyari di mana kelas enam berada. Eh, taunya masih ada teman mengajar di dalam sana. Ya udah, kami nunggu. Pas lagi nunggu, ada teman fasilitator yang nyamperin dan menyarankan kami masuk ke kelas empat dulu aja.

Karena jarak kelasnya cuma lima langkah dari kami duduk, akhirnya kami mengiyakan. Dan, ternyata … anak-anaknya 11 12 sama kelas satu yang tadi. Cuma ini versi lebih besarnya doang. Sempat menghela napas panjang gitu sihm namun akhirnya kami nyanyi-nyanyi lagi, main bisikan berantai lagi, dan berusaha menjelaskan marketing secara tipis-tipis. Sayangnya, mereka kadung lihat saya dan Kak Wanda bawa bendera warna-warni untuk closing. Konsentrasi mereka pun pecah. Instead of ngejar reward bintang dengan aktif menjawab pertanyaan, mereka malah ngambilin bendera. Untungnya nggak lama kemudian Kak Flo selaku fasil ngasih aba-aba kalau udah waktunya ngumpul di lapangan untuk closing. Kami pun segera menggiring mereka ke luar dan berkumpul dengan sesama relawan.

“Eh, kenapa kelas empat tadi kosong sih?” tanya saya pertama kali ketika pertama kali ketemu teman relawan lain di lapangan. “Mestinya jam terakhir aku ngajar kelas enam lho.”

“Kelas empat yang ruangannya di situ?” tunjuknya ke ruangan dekat gerbang sekolah. Saya pun mengangguk. “Itu karena pengajar sebelumnya kewalahan. Kelasnya ditinggal gitu aja deh.”

-____________-

Pantesaaaannnn..

Nyanyi lagu nasional dengan ekspresi a la penyanyi rock

Di Kelas Inspirasi Lombok kali ini, rombongan belajar saya emang nggak merencanakan closing yang mewah. Beda dengan KI Surabaya yang ketika closing kemarin menerbangkan 50 burung gereja bersamaan. Di Sembalun, kami cuma mengibarkan bendera warna warni sambil menyanyikan lagu kebangsaan. Sederhana, tapi bikin nyes di dada. Kapan terakhir kali nyanyiin lagu kebangsaan rame-rame? Udah lama banget! Bahkan ada beberapa lagu yang saya mulai lupa liriknya. Tapi anak-anak itu hapal benar tanpa lupa. Mereka menyanyikannya dengan semangat 45, seakan berlomba memamerkan urat leher masing-masing. Mulai dari kelas satu sampai enam, lantang menyanyi bersama. Keren abis! Saya yang berada di depan sampai kagum dan terharu menyaksikannya.

Mereka, anak-anak Sembalun, yang tak semuanya memakai seragam, yang tak semuanya fasih berbahasa Indonesia, nyatanya mampu menyanyikan beragam lagu kebangsaan dengan baik dan benar, tanpa celah, tanpa salah. Mereka, yang tinggalnya ribuan kilometer dari pusat pemerintahan, nyatanya memiliki semangat nasionalisme yang patut diacungi jempol. Jauh, sangat jauh berbeda, dengan saya (dan mungkin kamu) yang hidup di kota besar, yang tiap hari terpapar langsung oleh informasi dan isu negara, namun lebih memilih untuk saling menjatuhkan ketimbang kembali mencintai negeri ini.

Sampai jumpa lagi. Belajar yang rajin ya.
Setelah closing, anak-anak akhirnya membubarkan diri. Mereka berlarian ke sana ke mari mengejar kami untuk memberikan salam terakhir. Ada yang hanya salim lalu pergi, ada yang minta foto bareng, bahkan ada yang nggak mau pulang. Usut punya usut ternyata anak itu pengin ngajak kami semua ke rumahnya. How cute! Sayangnya, setelah anak-anak pulang, hujan turun begitu lebatnya. Kami dan para guru pun berkumpul dalam satu ruangan kelas dan berbagi pengalaman serta pengamatan masing-masing sebagai langkah mengevaluasi diri.

Saat refleksi, kami disuguhi pisang goreng hangat. Enak banget disantap di cuaca yang dingin-dinginnya. Para guru pun bercerita banyaaaak sekali. Mulai dari Gunung Rinjani hingga latar belakang kehidupan mereka masing-masing. Ada juga yang bercerita tentang kenikmatan kopi Lombok. Pula ada yang membocorkan rencana Menteri BUMN yang beberapa hari lagi akan mampir ke SD ini.

“Serius, Pak, dua hari lagi ada kunjungan?” tanya saya kagum.

“Iya, Bu, ada program CSR,” jawab salah seorang guru.

Saya pun tersenyum mendengarnya. Ah, Nak, beruntungnya kalian, saya saja belum pernah bertemu Bu Menteri. Paling mentok cuma ketemu Bu Walikota.

Syahdu banget ya

Memang, Tuhan punya caraNya sendiri untuk mengajarkan saya banyak hal. Lagi, Kelas Inspirasi berhasil menginspirasi saya. Mungkin ini lah yang membuat para relawan ketagihan untuk ikut gerakan sosial ini berkali-kali. Sebab tiap kota, tiap sekolah, dan tiap anak selalu menghadirkan kesan dan pengalaman yang berbeda. Melahirkan rasa syukur yang sederhana, empati yang dalam, dan bahagia yang menenangkan.

Tak berapa lama kemudian, saya dan teman-teman relawan KI Lombok pun pamit undur diri dari sekolah. Perut kami sudah kosong minta diisi, namun hati kami penuh dengan kepuasan. Badan kami mulai letih sebab seharian berteriak, bernyanyi, dan berjoget, namun kami tak hentinya bercerita tentang pengalaman menyenangkan seharian tadi. Kaki kami mulai pegal karena masih harus menempuh beberapa kilometer untuk sampai ke penginapan, namun tetap saja ujung-ujungnya yang terlontar adalah, “Habis ini mau ikut KI mana lagi?”
Kelas Inspirasi Lombok 4 – SDN 2 Sembalun Bumbung
Hampir semua foto di tulisan ini adalah hasil jepretan @bocah.lombok. Terima kasih, Kak Ben!

2 Comments

  1. benny setyawan

    February 7, 2017 at 10:30 am

    Tulisannya asyik…ngalir..mudah dicerna gak pake dahi berkerut…lanjutkan!!!

Leave a Reply