Tamasya

Mendadak Jogja

Suatu siang, ibu saya menelpon dan ngajak saya ke Jogjakarta. Berhubung mendesak, saya nggak pakai pikir panjang. Nggak mikir bakal jalan-jalan dan menikmati Malioboro. Pokoknya yang kepikir cuma gimana bisa nyampe sana dan kembali ke sini tanpa perlu ngajuin cuti. Alhasil berangkat ke Jogja sabtu pagi dan balik ke Surabaya senin dini hari. Kilat nggak tuh? Berhubung kepepet, kami memutuskan pergi pulang menggunakan kereta yang (lagi-lagi) sedapetnya. SUB-YK kami tempuh menggunakan kereta Pasundan. Naik di Stasiun Gubeng Lama (8:10) dan turun di Stasiun Lempuyangan (13:55). Kereta Pasundan sendiri memiliki rute SUB-BDG, jadi anggap saja kami berhenti di tengah perjalanan. Begitu pun ketika pulang, kami naik kereta Mutiara Selatan yang rute sebenarnya adalah BDG-MLG. Naik di Stasiun Tugu Yogyakarta (1.38) dan turun di Stasiun Gubeng Baru (6:24). Yap, Senin itu saya ngantor nggak pake mandi.

Nggak perlu ditanya, saya nyampe kantor muka bantal banget sambil geret-geret tas berisi baju kotor. Beruntungnya saya nggak banyak melakukan kegiatan outdoor selama di Jogja (ya emang tujuannya juga bukan untuk jalan-jalan), jadi badan nggak kerasa capek banget. Tapi, siapa gitu lho yang bisa tahan diem di rumah kalau di Jogja? Pasti bawaannya pengin keluar, entah sekedar kulineran atau menikmati keramahan kota. Kebetulan saya sempat punya satu hari untuk menapaktilasi sudut-sudut kota yang (nggak tahu kenapa) selalu bikin kangen tersebut. In case kamu butuh rekomendasi tempat main dan makan sekitaran Jogja tapi terbatas waktu, nih saya ceritakan versi saya kemarin.

Hutan Pinus Imogiri

Di Jogja ada banyak spot wisata yang letaknya berdekatan. Mau wisata sejarah? Mainlah ke daerah Keraton. Mau main ke pantai? Silakan ke Gunung Kidul. Mau lihat hutan pinus? Imogiri tempatnya. Malam sebelumnya saya sempat minta saran ke salah seorang teman yang dulu sempet lamaaa banget tinggal di Jogja. “Enaknya di Jogja ngapain ya?” pertanyaan singkat yang menghadirkan begitu banyak jawaban. Mulai dari Volcano Trip Merapi, Taman Bunga Matahari, Upside Down, sampai akhirnya, “Kamu cari di IG aja deh.” Setelah diskusi singkat dengan saudara, kami pun berangkat ke daerah Imogiri/Mangunan, Bantul. Naik-naik ke puncak gunung nih kita.

Ada apa aja di Mangunan? Banyaaaak banget! Sepanjang perjalanan, tiap nemu persimpangan, selalu ada aja petunjuk arah ke lokasi wisata. Seribu Satu Songgo Langit, Watu Goyang, sampai Kebun Buah Mangunan yang terkenal itu. Pilihan saya jatuh ke Hutan Pinus dan Becici karena (kayaknya) yang enak diexplore ya itu doang. Monmaap ya saya anaknya nggak doyan foto-foto di selfie spot gitu.

Biaya masuk ke Hutan Pinus cuma Rp 2.500 doang. Di Becici malah gratis. Kita cuma perlu bayar parkir Rp. 5.000 untuk kendaraan roda empat. Murah meriah dan menyenangkan. Kamu juga bisa sewa hammock di sana kalau mau merasakan sensasi bersantai sambil gelantungan di antara pohon pinus. Di sekitar lokasi wisata juga ada banyak penjual souvenir dan makanan. Segala tahu bulat ada di sana, bahkan sampai di lokasi teratas. Wagelaseehh penyebaran tahu bulat begitu merata hingga ke hutan pinus segala, kirain di deket rumah w doang.

Trus hutan pinusnya bagus nggak, Win? Yoi! Emang dasarnya saya jarang liat yang ijo-ijo gitu jadi pas masuk hutan pinus langsung adeeeem aja bawaannya. Bersih dan rapi banget lho hutan pinusnya, enak liatnya. Kami sampai sana ketika dzuhur. Berhubung bukan long weekend dan lokasi wisatanya banyak, jadi pengunjung nggak numplek di satu tempat. Nggak sumpek, jadi bener-bener bisa menikmati. Menikmati ya, bukan foto-foto. Karena yaaa.. kayaknya mau di mana pun lokasi wisatanya, orang Indonesia masih sulit menghargai orang lain. Ada yang mau motret, eh lewat aja gitu di belakang – jelek deh backgroundnya. Ada juga yang santai lewat di depan kamera kayak nggak ada salah gitu – duh, bener-bener ya.

Selain deretan pohon pinus yang menjulang, pemandangan di tebingnya juga bikin adem banget lhooo. Berhubung Imogiri/Mangunan ini dataran tinggi jadi kita bisa lihat Bantul secara langsung. Mulai dari persawahan hingga pemukiman. Model-modelan Bukit Bintang yang duli pernah jadi tongkrongan hits ala ala romantis gitu lho (dan ternyata pas turun pulang beneran ngelewatin Bukit Bintang – pantes aja).

Malioboro

Nggak sah ke Jogja kalau nggak ke Malioboro, ya nggak? Udah lah ngaku aja kalau nggak ada yang mengalahkan kharisma Malioboro yang didukung oleh murah serta lengkapnya dunia perbatikan di Beringharjo. Mengikuti hasrat belanja emak-emak, saya pun kembali ke Malioboro yang ternyata udah berubah banyaaaaak banget – bikin pangling.

Terakhir menyusuri Malioboro 2012 lalu rasanya jalanannya masih luas, jarak antara deretan delman dan pedagang juga masih jauh, tapi kenapa 2018 ini jadi keliatan makin rapet banget ya? Dulu jalan berlima bareng sambil nawar-nawar souvenir pinggir jalan masih bisa. Sekarang jalan kaki aja pake macet. Dulu kayaknya bus trans masih bisa berhenti di Jalan Maliboro, saya inget pernah turun di halte Malioboro. Sekarang kok boro-boro bus trans, delman aja jalan kudu ngantre. Bingung saya lihatnya. Tetapi di tengah kebingungan tersebut saya menemukan nasi pecel enak. Rekomendasi saudara sih. Jangan tanya di sebelah mana, saya paling nggak bisa nunjukin arah. Yang jelas letaknya ada di pintu masuk pasar. Penjualnya ibu-ibu paruh baya. Bukan warung ya, emperan doang kok. Ibunya mobile, jadi dagangannya digendong ke mana-mana macam penjual jamu. Cuma kalau pagi doang ngetem di sekitaran Malioboro. Kalau ke sana silakan nyoba.

Makan Bakmi Jawa

Sebut saya ndeso atau katrok, nggak apa-apa, tapi saya emang baru tahu kalau makanan khas Jogja itu nggak hanya gudeg, tapi juga bakmi.

“Nanti malam kita makan bakmi ya,” ajak Pakdhe saya.

“Yah, masa jauh-jauh ke Jogja makan bakmi, Pakdhe? Di Surabaya juga banyaaakk..”

“Lho, tapi ini beda,” yakin beliau pada saya. Ya udah cuss lah. Habis maghrib kami berangkat dan ternyata JENG JENG emang beda banget, cuy! Nunggunya butuh kesabaran ekstra karena tiap porsi dimasak satu persatu menggunakan arang. Saya ulangi lagi yaa.. pakai arang! Dari yang awalnya ngemilin kerupuk sampai kerupuknya habis, dari pesen es teh sampai refill lagi, dari yang ngobrolin macem-macem sampai bahan obrolannya udah nggak ada lagi. Monmaap yang makan orang sekampung soalnya. Jadi ga usah heran kalau ada yang baru mau mulai makan tapi yang lain isi piringnya udah di perut.

Tapi tenang, beneran endeuuuss kok. Untuk mendapatkan yang terbaik kadang emang mesti sabar menunggu agar bisa menikmati dengan sebenar-benarnya. Bakminya seger banget, apalagi kalau di makan kala cuaca dingin. Perpaduan kuah dan mienya pas aja gitu. Apalagi ketambahan ayam kampung yang udah nggak perlu ditanya lagi sedapnya gimana. Duh, kok jadi kepengen lagi nih gimanaaaaa dah Jogja jauh banget huhuhu.

Mak Semarangan

INI PART PALING PENTING! Beberapa bulan lalu saya nemu ads di IG tentang Mak Semarangan dan tergoda dengan egg tartnya. Berhubung ada temen yang mau ke Surabaya dari Jogja, nitip lah saya. Iseng nyoba doang. Harga per egg tartnya Rp 6.000 aja. Dibandingkan olahan pie dan/atau pastry lain di Surabaya, harga segitu murah sih, makanya penasaran. Dibawakan sekotak deh, isi 6 biji. Itupun kondisinya dibawa dengan perjalanan darat, which is dibeli pagi tadi tapi baru nyampe di saya besok paginya lagi. Udah nggak fresh lagi lah pokoknya, tapi kok ya TETAP ENAK?! INI KONSPIRASI APAAAAAA?! Katanya sih setelah makan egg tart Mak Semarangan wajah saya jadi berseri-seri. Sampai ditanya, “segitu bahagianya?”

Sejak saat itu hidup saya tak lagi sama. Tiap kali ada yang ke Jogja, saya selalu nitip egg tart Mak Semarangan (nitip duit juga tentunya, jangan biasain ngemis oleh-oleh ya). Kemarin pas kebeneran ke Jogja sendiri, tanpa pikir panjang saya langsung ke outletnya di daerah Monjali dan beli 7 kotak – which is 42 egg tarts! HAHAHAHA NYAM! Oh iya, tips nih. Mak Semarangan hanya bake egg tart 2 kali sehari, pukul 11 pagi (opening) dan pukul 5 sore. Jadi emang kudu cepetan kalau mau dapet yang fresh. Kemarin karena beli banyak dan nggak PO dulu, saya akhirnya ngehabisin semua egg tart yang ada. Orang-orang yang ngantre di belakang saya langsung pada balik badan dengan kecewa. Duh, maap ya, guys. Jarang-jarang saya ke mari nih.

Udah, itu aja yang saya lakukan selama satu hari full di Jogja. Saya nggak main sampai malem karena kudu packing dulu buat berangkat pukul 1 pagi nanti. Mesti rehat bentar karena saya bukan tipe orang yang gampang tidur di mana aja, termasuk di kereta. Btw, menikmati subuh dari kereta ternyata syahdu banget ya. Ngeliatin matahari beranjak naik dari timur dalam perjalan menuju timur melahirkan sensasi berbeda. Cantik banget, MasyaAllah. Emang ya, Jogja selalu menghadirkan kenangan yang menyenangkan sekaligus menenangkan. Magis.

One Comment

  • Jan Zac

    Hello ,

    I saw your tweets and thought I will check your website. Have to say it looks very good!
    I’m also interested in this topic and have recently started my journey as young entrepreneur.

    I’m also looking for the ways on how to promote my website. I have tried AdSense and Facebok Ads, however it is getting very expensive.
    Can you recommend something what works best for you?

    I also want to improve SEO of my website. Would appreciate, if you can have a quick look at my website and give me an advice what I should improve: http://janzac.com/
    (Recently I have added a new page about FutureNet and the way how users can make money on this social networking portal.)

    I have subscribed to your newsletter. 🙂

    Hope to hear from you soon.

    P.S.
    Maybe I will add link to your website on my website and you will add link to my website on your website? It will improve SEO of our websites, right? What do you think?

    Regards
    Jan Zac

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *