Menelinga

Pernah nggak sih kamu sebal dengan seseorang hanya karena mereka nggak bisa diajak berkomunikasi dua arah?

Saya sering. Buat saya komunikasi itu penting. Cara berkomunikasi pun nggak hanya sebatas menyampaikan kabar, tapi juga soal mendengarkan. Dewasa ini semua orang bersemangat mengungkapkan isi kepala namun masih enggan untuk menerima pendapat orang lain. Dunia terlalu bising, sesak dengan omongan-omongan yang kebanyakan kosong tak berisi. Jalan-jalan ramai, tempat publik ramai, media sosial ramai, kepala pun ramai. Kita seakan berlomba menjadi paling lantang namun sering tanpa sadar merendahkan mereka yang memilih tak berbunyi. Polusi suara di mana-mana, membuat kita lupa bahwa Tuhan menciptakan tiap manusia dengan satu mulut dan dua telinga. Bukankah perbandingan jumlah indera tersebut adalah tanda bahwa Tuhan ingin kita lebih peka dengan menelinga?

Jujur aja, saya sangat suka orang yang pandai mendengarkan. Bukan hanya sekedar mendengar lalu berusaha untuk membalas ucapan, namun yang benar-benar menyimak, yang benar-benar hadir untuk menerima segala yang saya beri. I know how to listen. Skill ini saya dapat dari ayah. Beliau adalah sosok yang tak banyak omong, malah sering disangka sombong saking irit bicara. Tetapi kalau mau meluangkan waktu barang sebentar saja dengannya, orang-orang bakal tahu kalau beliau adalah pendengar yang mumpuni.

Dari mana sih kita membedakan mana pendengar dan mana yang hanya selewat dengar? Simple, pendengar yang baik nggak bakal menyela omongan kita, mereka akan berusaha memahami apa yang kita sampaikan, dan tidak sok menggurui ketika memberi masukan. Mereka yang bisa mendengarkan biasanya adalah sosok yang tidak gampang menghakimi orang lain dalam kepala, sebab mereka paham bahwa tiap individu punya kisahnya sendiri.

Masih bingung cara membedakannya? Gini deh, Tuhan adalah Maha Pendengar. Dia selalu ada untuk setiap hambaNya, siap untuk menelinga kapanpun, namun Dia tak lantas memberi tanggapan. Tuhan menunggu, bahkan kadang membuat kita turut menunggu. Dari proses menunggu itu kita tanpa sadar berangsur tenang. Segala keluh dan gemuruh seakan larut. Keajaiban macam itu yang nggak bisa saya dapat di telinga semua orang.

Naasnya, belakangan saya kehilangan beberapa pendengar, kesibukan masing-masing menjauhkan kami. Tidak, saya tidak sedang mengeluh. Teman saya butuh space untuk tumbuh, begitupun saya. Kami sedang dalam proses mencari dan menyibukkan diri. Naasnya lagi, saya nggak gampang untuk menemukan telinga yang nyaman. So here I am trapped in complicated situation; terlalu sumpek dengan isi kepala sendiri namun terlalu malas untuk mencari sahabat baru. Saya paham, Tuhan di atas sana akan siap menelinga kapanpun, namun ada masa di mana saya ingin didengar oleh sesama, bukan oleh Sang Pencipta.

Jadi sebenarnya saya juga nggak ngerti kenapa di closing ini saya malah jadi curhat dan gagal menghadirkan kesimpulan.

Leave a Reply