Menghargai Minoritas

Akhir-akhir ini Indonesia lagi kacau. Sesak. Terlalu riuh. Menegangkan. Saya yang di Surabaya aja merasa demikian, nggak kebayang gimana rasanya kalau beneran tinggal di Jakarta, tempat di mana semua kegaduhan berasal. Well, saya nggak bakal menulis tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Pula saya tak sedang membandingkan peristiwa belakangan ini dengan kejadian pada ‘98 lalu. Kali ini saya hanya ingin berbagi cerita bagaimana rasanya menjadi minoritas di negeri yang konon menjunjung tinggi toleransi ini.

Indonesia yang kita kenal memang terbentuk dari keberagaman yang kompleks. Kalau mau lihat dari sisi baiknya, kita bisa bilang Indonesia ini kaya. Kalau mau lihat dari sisi negatif, masih masuk akal kalau kita bilang Indonesia ini terdiri dari banyak ego. Nggak perlu lah mempermasalahkan pendatang dan pribumi. Sejarah sudah sejak dulu menampilkan fakta bahwa tiap suku di Indonesia punya kecenderungan untuk membela sesama dan menjatuhkan kelompok lain. Nikah mesti satu suku. Ada himbauan untuk mengurangi interaksi dengan suku tertentu. Bahkan ketika kita berkenalan dengan orang baru, pertanyaan “asalnya dari mana?” masih kerap jadi bahasan pokok. Emang nggak heran sih kalau Belanda dan Jepang bisa menjajah kita berabad-abad, wong orang Indonesia emang dasarnya suka mengotak-kotakkan diri.

Saya sendiri pernah merasakan langsung gimana nggak tenangnya hidup saat menjadi minoritas. Jauh sebelum saya memilih kembali ke Jawa, berkumpul dengan sesama Jawa, dan menjadi mayoritas, Winona kecil tahu benar gimana rasanya tertekan menyembunyikan identitas hanya agar terus bisa bertahan hidup. Tiap kali keluar rumah, saya terpaksa jadi orang lain. Tiap kali ditanya asal, jawabnya selalu asal-asalan. Bahkan sampai sekarang, teman semasa sekolah masih nggak tahu pasti saya ini asli mana.

Orang tua selalu melarang saya bepergian jauh sendirian. Takut anaknya diculik dan tak kembali. Ayah dulu sempat ingin memulangkan istri dan anak-anaknya ke Jawa agar jauh dari konflik. But, family always stick together, right? Kami sampai harus minta perlindungan dari salah satu kelompok suku agar bisa selamat. Karena konon darah kami bisa tercium dari jauh dan berpotensi jadi korban pembantaian. Sangat terasa wajar ketika ibu akhirnya kerap mewanti-wanti saya untuk menjaga jarak pertemanan dengan suku tertentu. Bisa bayangkan seperti apa mencekamnya hidup anak kecil hanya karena ada dua kelompok orang dewasa yang berperang? Yang nggak ngerti apa-apa malah jadi belajar untuk membenci.

Keluarga kami di jawa jadi rajin sekali menelpon dan menanyakan kabar, lebih-lebih ketika media menyiarkan berita konflik. Suatu malam, rumah tetangga saya pernah dilempari batu oleh sekelompok orang, semua kaca jendela hancur. Kalau udah begini, semua jadi terasa mencekam. Serius, nggak enak banget hidup di lingkungan keruh seperti itu. Belum lagi rasa khawatir yang muncul tiap kali lihat orang sliweran depan mata bawa mandau / parang. Rasanya pengin hilang aja. Berdoa banget semoga nggak kenapa-napa.

Yes, kamu nggak perlu jauh-jauh ke benua lain untuk bisa menyaksikan perang kok. Kalau mau menilik ke daerah / pedalaman Indonesia, perang saudara masih pekat terasa. Kadang yang berperang pun nggak tahu pasti apa penyebab sebenarnya, tapi semua orang bisa jadi korban. Kondisi ini sebelas dua belas dengan apa yang lagi kejadian di Indonesia. Sungguh, saya bukan sedang membela suatu kaum atau sejenisnya. Sejak awal, kaki saya sudah jelas berpijak di sisi mana. Tapi saya prihatin banget dengan kemanusiaan Indonesia saat ini yang lagi busuk abis. Apalagi semalam ada bom di Jakarta yang letaknya cuma selemparan kolor dari rumah Mbah saya. Menyeramkan. Kayaknya baru kemarin bom di Thamrin mengambil alih perhatian kita semua, eh, sekarang udah ada lagi. Please, kenapa nggak bisa damai aja sih?

Di linimasa pun perang pendapat nggak ada habis-habisnya. Mayoritas gemar sekali menggebuk minoritas. Hanya karena ada seseorang yang menyakiti sekelompok orang, maka sesamanya turut menanggung derita. Kita selalu saja suka mengeneralisasi perkara. Kayaknya jadi bebas banget buat ngatain ini itu dengan kalimat kasar yang bikin hati tersayat-sayat. Hanya karena menang jumlah lalu bebas menghina dan merenggut keamanan kelompok lain. Seakan-akan orang lain itu bukan manusia dan  bisa diumpat seenaknya. Even binatang aja punya perasaan lho, guys. Sebuta itu kah mata hati kalian sampai lupa bahwa kita semua masih sama-sama ciptaan Allah? Kadang saya suka mikir, orang-orang yang gemar menjatuhkan ini selalu penginnya hidup kekal di surga, tapi hidup berdampingan di dunia yang sementara gini aja nggak bisa. Heran, sumpah, bingung gue. Ajaran apa sih yang kalian anut?

Jujur aja, kepercayaan yang saya yakini nggak pernah mengajarkan saya untuk merendahkan orang lain, apalagi sampai menyakiti. Alhamdulillah, saya bersyukur banget tidak mengenal agama saya dari mulut dan kata-kata yang jahat. Saya yakin semua manusia sama. Tidak ada yang tiba-tiba derajatnya naik hanya dengan berkoar-koar ngatain orang kafir. Saya, kamu, dan mereka ini cuma manusia biasa yang sama-sama punya akal dan perasaan. Punya tujuan hidup sama meski jalannya berbeda-beda. Persetan dengan jumlah, mayoritas tak selamanya benar dan minoritas tak melulu harus ikut arus. Kalau benar ingin membela agama, maka tunjukkan dengan cara yang berkelas, jangan norak dan bikin malu sesama.

Coba tanyakan ke diri sendiri deh, kalau dengar kabar angin aja kita gampang marah, lalu apa guna kita beragama?

Leave a Reply