Memanusiakan Manusia

Merawat Kulit Acne Prone

Sejujurnya saya bukan perempuan yang pandai merawat dan menghias diri. Semua orang tahu saya ini cuek, terlalu boyish untuk seorang perempuan. Dulu waktu saya pertama kali pakai lipstick, teman-teman saya sampai bikin perayaan. Sebelumnya, saat saya memilih untuk sedikit lebih rajin memakai rok, saudara saya sampai memuji berhari-hari. Sejak kecil saya emang lebih banyak bergaul dengan kaum adam, makanya nggak heran kalau untuk urusan kecantikan begini saya tertinggal jauh dari rekan sebaya. Tetapi, balik ke kondisi awal, saya ini cuma manusia yang dititipi raga oleh Tuhan. Masa sudah diberi lengkap dan sempurna, masih juga nggak bisa menjaganya? Malu dong sama makhluk lain. Alhasil sejak tahun lalu saya mulai belajar tentang skincare.

Skincare itu beda dengan make up. Gampangnya gini deh, skincare itu untuk perawatan, sementara make up untuk memperindah. Keduanya punya peran masing-masing serta memiliki jenis dan tipe yang luar biasa beragam. Namun keduanya punya satu kesamaan, yaitu untuk menggunakannya, kita butuh mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Saya adalah perempuan 20an berkulit sawo matang dengan jenis kulit berminyak (oily) dan sensitif (acne prone). Untuk mendapatkan kesimpulan tersebut, saya kudu research berbulan-bulan karena emang nggak pakai bantuan dokter. Kamu beneran harus paham kondisi kulit sendiri, paham mau merawat dengan cara apa, serta paham ngatur budget untuk kebutuhan yang satu ini. Oke, saya akan bahas satu per satu.

skincare acne prone

kondisi wajah saat ini – ada beberapa bekas jerawat

Umur 20an

Di usia saya yang udah nggak muda ini, skincare itu penting BANGET! Apapun yang nggak dirawat, pasti lama-lama bakal rusak, termasuk kulit. Saya dulu ngerasa kulit saya itu kusam banget – bahkan teman-teman juga banyak yang menyarankan untuk mempercerahnya. Karena emang nggak bisa bohong ya, inner beauty itu penting, namun appearance as first impression adalah koentji. Kalau kata teman saya yang sekarang fokus jadi dokter estetik, ada tiga hal penting untuk menjaga kulit agar tetap sehat, yaitu tidur cukup, olahraga rutin, dan minum air putih. Nah, jadi buat yang rajin ngelembur sampai malam, yang hobinya nongkrong di restoran cepat saji, dan yang lebih doyan minum kopi ketimbang air putih, nggak usah kaget kalau kulit kalian bermasalah. Saya sendiri masih berusaha menjalankan tiga hal ini dengan baik dan teratur. Nggak gampang, emang. Tidur masih suka sembarangan, olahraga apalagi. Tujuan saya hanya satu sih, ingin mempertahankan kualitas kolagen pada kulit. Nggak muluk-muluk pengin awet muda atau semacamnya, punya kulit sehat aja udah cukup jadi investasi sampai hari tua.

Kulit Sawo Matang

Sebagai bocah Jawa, sejak dulu saya sudah sadar kalau nggak mungkin punya kulit secemerlang para selebriti di teve. Kadar melanin dan pigmen dalam kulit saya ya emang segini – udah lah ikhlas aja kalau shadenya gelap. Jadi dari awal saya nggak pernah menggunakan produk perawatan dengan embel-embel “memutihkan”. Sebagian orang ada yang terobsesi ingin jadi putih, kayaknya punya kulit putih adalah standar cakep masa kini. Salah seorang teman laki-laki saya malah ada yang ngeluh kalau alasan dia lama menjomblo adalah karena kulit gelapnya – padahal menurut saya pribadi, cowok yang berkulit gelap lebih kelihatan macho dan laki banget. Btw, kalian tahu nggak, yang bikin para kulit putih terlihat lebih menarik itu, apa? Kepercayaan diri mereka. Yass, confidence. Kalau kamu nggak suka dengan warna kulit sendiri, trus siapa yang bakal suka? Coba hargai diri sendiri dulu deh, dijamin, nggak bakal ada orang yang berani untuk memandangmu rendah. So, stop pakai produk berbahaya dan suntik vitamin C untuk kulit putih. Jangan sampai di kemudian hari kamu menyesal karena merkuri dan penumpukan vitamin C di ginjal hanya karena ingin terlihat satu tone lebih terang. Duh.

Kulit Berminyak

Awalnya saya mengira kalau wajah saya berminyak hanya saat puber saja, setelah itu normal, eh ternyata sampai dewasa gini masih aja minyakan. Kerjaannya nempelin blotting paper saban siang, biar muka nggak terlalu shiny sampai orang-orang tergugah untuk goreng telor di muka saya. Nah untuk yang satu ini emang agak tricky. Saya kudu mencari produk skincare yang mampu menahan minyak berlebih, tapi juga nggak boleh sampai bikin kulit kering. Bingung nggak tuh? HAHAHA. Jadi semua skincare dan makeup saya harus oil-free, kalau bisa water-based. Saya juga nggak boleh cuci muka menggunakan facial wash lebih dari 2 kali dalam sehari, karena akan membuat kulit kering hingga memicu produksi minyak lebih. Saya juga tetep harus pakai moisturizer atau pelembab walaupun kulit aktif memproduksi sebum. Kulit berminyak juga terkenal rajin memproduksi komedo serta jerawat, alhasil saya harus, wajib, dan kudu membersihkan wajah tiap selesai beraktivitas seharian. Nggak boleh males kalau nggak mau kulitnya bermasalah.

Sensitif (Acne Prone)

Pada percaya nggak kalau saya ini anaknya sentif banget? HAHAHA. Kena makanan kotor dikit, sakit. Kena debu, seharian bersin. Kena tungau, semingguan badan gatal-gatal. Kelamaan di ruangan berpendingin, mata iritasi. Agak melelahkan gini ya jadi seorang Winona. Tapi nggak apa-apa, toh sampai saat ini alhamdulillah saya masih sehat-sehat aja, meski sesekali tubuh rewel dan caper – termasuk kulit wajah. Kayaknya semua orang sudah pada paham kalau kulit saya ini ladangnya jerawat. Susah banget bersihnya. Habis jerawatan di sini, eh jerawatan lagi di situ. Pindah-pindah dan bekasnya susah banget dihilangkan. Sempat frustasi, akhirnya saya research lagi lalu menemukan fakta bahwa kulit saya termasuk tipe yang sensitif BANGET. Pertama, saya punya beberapa pantangan, yaitu dilarang makan telur, mie instan, dairy product, dan segala cemilan berbasis micin. Kedua, saya harus rajin ganti sprei dan sarung bantal – pokoknya semua yang sering bersinggungan dengan wajah, termasuk kudu rajin bersihin layar hape. Ketiga, saya nggak bisa gonta ganti produk skincare seperti orang-orang. Karena kalau salah dan nggak cocok, pasti bakal muncul jerawat di mana-mana. Ribet ya? Alhasil belakangan ini saya cuma mau pakai produk yang sudah terkenal di dunia dermathology (bukan terkenal di beauty vlogger aja). Sebut aja Sebamed, Derma e, dan lainnya. Harganya emang lumayan sih, tapi beneran diracik untuk kulit sensitif seperti saya.

Trus, produk yang dipakai apa saja? Langkah pemakaiannnya seperti apa?

Oke, pertama, untuk urusan skincare, saya nggak terlalu ngikutin trend. Jadi emang nggak pernah ngelakuin 10 steps Korean skincare kayak yang lagi hits sekarang. Kedua, produk yang saya pakai juga beragam – nggak hanya satu brand dan nggak berasal dari satu negara saja. Kurang lebih stepnya gini:

Pagi

  • Cuci muka (Hada Labo mild peeling AHA+BHA)
  • Exfoliating toner (Sebamed Deep Cleansing Facial Toner)
  • Moisturizer (Nature Republic Aloe Vera 92%)
  • BB Cream + SPF (Pixy BB Cream)
  • Sunscreen (Watsons SPF 30) – idealnya 20 menit sebelum kena sinar matahari
  • Pakai make up tipis-tipis macam bedak dan lipstick biar nggak pucat banget
  • Kadang di kantor kalau kulit kaki dan tangan lagi kering saya juga pakai bodybutter

Habis wudhu, pakai skincare lagi? Enggak, saya mah selow, paling touch up lipstick aja. Menurut Affi Assegaf selaku pakar skincare dari Female Daily sih, tiap habis wudhu nggak perlu ngulangin step skincare lagi kok, tapi kalau emang pengen, cukup touch up pelembap dan sunscreen aja. Santai wae, air wudhu dipercaya bisa mencerahkan wajah juga kok.

Malam

  • Micellar water (Garnier Micellar Cleansing Water) – buat sapu bersih make up dan polusi
  • Cuci muka (Hada Labo Mild Peeling AHA+BHA)
  • Exfoliating toner (Sebamed Deep Cleansing Facial Toner)
  • Serum (Klairs Freshly Juiced Vitamin Drop)
  • Night cream (Olay)

Weekend

  • Cuci muka pakai facial scrub (Derma e) – untuk mengangkat sel kulit mati
  • Maskeran. Ini bebas sih merk dan jenisnya, tergantung kebutuhan kulit. Favorit saya adalah sheet mask dari Korea yang bisa dipakai sambil tidur, jadi besok paginya muka bakal kenyel-kenyel dan glowing (tapi sekarang lagi habis, hiks). Kalau lagi nggak punya sheet mask, kadang pakai peel off mask, kadang pakai masker biasa, kadang kalau lagi rajin bisa ngeracik masker sendiri. Bebaskeun lah, mumpung weekend ye kan. Maskeran ini seminggu sekali aja udah cukup untuk ngasih nutrisi ke wajah, nggak usah sering-sering meski efeknya baik. Karena selain buang-buang nutrisi, kita juga jadi buang-buang duit HAHAHA.

Oh iya, tambahan sedikit soal budget. Mengingat kita semua punya banyak kebutuhan lain di luar skincare dan make up, ada baiknya tiap bulan menyisihkan beberapa rupiah untuk skincare. Tips: jangan beli beberapa produk skincare bersamaan karena ntar habisnya juga barengan – bakal kerasa berat banget pas bayar. Kamu juga nggak perlu attach to one brand, dimix aja nggak apa-apa kok asal cocok di kulit. Nggak perlu yang mahal, sesuaikan kemampuan aja. Kalau saya pribadi pakai produk skincare dengan rentang harga Rp 40.000 – Rp 300.000 per botolnya, tentu dengan fungsi dan masa pemakaian yang berbeda-beda pula. Trus juga jangan jadi orang yang laper mata, lihat yang lagi hype dikit langsung mau ikut nyoba. Please, nggak usah latah. Habiskan dulu apa yang ada, kalau udah tak bersisa baru deh beli yang lain. Dan, satu lagi, kalau mau coba produk skincare baru, jangan langsung beli yang full size. Saat ini udah banyak kok olshop yang menyediakan sample / share in the jar. Coba dulu beli ukuran kecil, kurang lebih 5 – 10 ml. Gunakan seminggu berturut-turut lalu review hasilnya. Kalau cocok, sok beli full sizenya, kalau enggak, at least kamu nggak nyesel-nyesel amat belinya.

Ngerawat tubuh, lebih-lebih muka, emang tricky banget, apalagi buat perempuan. Intinya kita harus tahu di mana batas cukupnya. Mesti paham kondisi kulit dan kebutuhannya. Perhatikan juga isi kantong. Nggak usah ngoyo, tapi jangan cuek-cuek banget. Btw, kok saya jadi sok iye gini ya? HAHAHA. Padahal juga masih semrawut. Nggak apa-apalah, kita belajar bareng. Kalau ada yang mau kasih masukan, boleh lho, siapa tahu kita bisa menjadi cantik bersama (wkwk, apaan dah cantik bersama).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *