Uncategorized

Miroir #1

Sita menatap cermin sekali lagi lalu memperbaiki letak bross kupu-kupunya. Ia menatap cermin sekali lagi lalu merapikan kain hijabnya yang menggantung lebih di sisi kiri. Ditatapnya lagi cermin di hadapannya, sempurna. Ia siap berbahagia hari ini.
Telepon genggamnya berbunyi.
“Halo?”
“Mbem, udah cantik belum? Gih buru foto! Aku mau liat! Beneran bisa dandan bikin efek tirus?”
“Iyee, bawel deh, ini juga lagi ngaca. Kayaknya sih sukses nih. Aku juga pake dress biru donker biar gak keliatan gemuk banget. Duh nervous gilaaaaaaaaaak!”
“Oke sip deh. Ih santai aja kali, Mbem. By the waysalam buat Rendi ya. Sorry aku gak bisa datang ke nikahannya.”
“Iya, semua orang juga pasti maklum kok. Kamu juga hati-hati di sana ya. Cepet pulang!” Sita kemudian mengakhiri panggilan lalu mengarahkan kamera ponselnya ke depan. Klik. Segera ia kirimkan fotonya ke Lala, seorang sahabat yang tengah menempuh pendidikan di Sydney.

Ballroom hotel malam itu sangat ramai, para undangan terlihat sumringah menyambut rumah tangga baru yang akan ditempuh Rendi, sepupu Sita. Di hadapannya terlihat Rendi dan Djenar sedang memamerkan kebahagiaan, di sebelah kanannya para tamu sedang asik menikati hidangan, dan di sebelah kirinya tengah asik sekumpulan ibu-ibu berbincang. Hati Sita berdegup tak karuan, ia menarik napas panjang lalu melangkahkan kaki ke depan. Langkahnya teratur, berusaha menyamakan ketukan yang muncul dari degupan jantung. Sita menarik napas lagi, ia tak mau terlihat kekurangan sedikitpun. Ini pesta pernikahan sepupunya, ia tidak boleh mengecewakan Rendi.
Bruk!
Oh shit!

“Maaf, Mbak” Seorang pria yang tengah membawa hidangan baru saja menabraknya, menyisakan sedikit bercak kecoklatan di hijab Sita.
“Nah, lagu selanjutnya akan dibawakan oleh saudari Sita, sepupu sang mempelai pria kita malam ini. Beri tepuk tangan dong? Yuk, Sita?” Sang MC menoleh ke arahnya dan melambaikan tangan. Perasaan Sita makin tak karuan. Belum juga ia mendapatkan tissue untuk membersihkan bercak ini, namanya sudah lebih dulu di panggil untuk menyanyi. Argh. Ngapain sih cowok ini pakai acara nabrak segala? Badan udah sebesar ini masih mau pake alasan ‘gak liat’?
“Maaf, Mbak, saya gak lihat tadi.”
Hahaha, ini orang nyindir apa gimana?
Sita langsung meninggalkan laki-laki itu dan naik ke panggung. Ditariknya napas panjang sekali lagi dan musik pun mengalun. Lagu ini sudah sejak sebulan lalu ia persiapkan khusus untuk Rendi dan Djenar. Tanpa basa-basi ia pun mulai menyanyi.
Dia indah meretas gundah
Dia yang selama ini ku nanti
Membawa sejuk, memanja rasa
Dia yang selalu ada untukku
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Para hadirin lalu bertepuk tangan setelah mendengar dua bait pertama lagu Teman Hidup yang Sita bawakan. Senyumnya merekah, kepercayaan dirinya bertambah. Hampir seluruh ruangan terhipnotis dengan suaranya yang jazzydan ikut menyanyi bersama. Hey, ini Sita loh yang menyanyi disini, Sita yang biasanya gak dilirik orang karena badannya yang gak langsing.
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersatu arungi derasnya waktu
Pandangan mata Sita menyapu para hadirin, seakan menceritakan lagu manis tentang sepasang kekasih ini. Dilihatnya semua orang tersenyum, mengiyakan lantunan lirik yang keluar dari bibir Sita. Ditengoknya Djenar sekilas, bahkan mempelai perempuan itu berkaca-kaca! Ah, Sita, kamu benar-benar luar biasa malam ini. Tak lama pandangannya bertautan dengan tatapan kagum dari lelaki yang menabraknya sebelum naik ke atas panggung tadi. Well, orang yang cukup mengganggu kepercayaan dirinya di awal tadi. Lelaki itu terlihat sedang menikmati nyanyian Sita juga, ia tidak ikut bernyanyi, hanya menggerakkan kepalanya ke kiri lalu ke kanan secara perlahan. Lelaki itu tersenyum padanya .. dan senyumnya manis. Oh, no!
Kau milikku, ku milikmu
Kau jiwa yang selalu aku puja
Seisi ruangan bertepuk tangan lagi, kali ini lebih meriah dari sebelumnya.
“Anjis, keren parah!” Sita mendengar komentar salah satu tamu setelah ia turun dari panggung, memunculkan semburat merah di kedua pipinya. Sebagus itu kah tadi nyanyiannya? Hahaha, bahkan Lala, sahabatnya sendiri tidak pernah memuji langsung suara Sita. Sepulang dari pesta ini ia harus menghubungi Lala, ia harus menceritakan kebahagiaan ini.
Sita kemudian mengambil sebuah piring dan siap menikmati hidangan. Hmm, daging oven atau nasi uduk? Atau mencampurkan keduanya? Atau cream soup di ujung sana saja kah? Bagaimana kalau mencicipin gado-gadonya dulu? Hmmm, oke, es putar dulu.
Bruk!
Argh! Orang ini lagi?!

“Ampun, Mbak, maaf. Saya gak lihat.”
“Ya ampun, Mas, udah dua kali lho. Badan saya segede ini masa Mas gak liat juga?” Sita hampir meledak. Kebahagiannya malam ini harus terganggu oleh seorang lelaki asing menyebalkan ini.
“Maaf, tapi saya memang gak liat, mungkin karena terhipnotis suara merdunya Mbak tadi.” Sita terdiam. Ia memang melihat lelaki ini menikmati nyanyiannya tadi. Tapi tetap saja orang ini menyebalkan.
“Pilihan lagunya bagus Mbak, saya kira Mbak tadi mau nyanyi lagu Kemesraan seperti penyanyi di kondangan biasanya. Eh ternyata justru Teman Hidupnya Tulus. Saya acungkan jempol deh.” Lelaki itu mengangkat dua jempolnya dan membuat Sita bersemburat merah lagi. Ah, orang sepertinya orang ini perlu diberi maaf.
Mereka lalu berpisah, Sita melanjutkan langkahnya untuk mencicipi es putar dan si lelaki asing itu hilang di tengah para hadirin. Sita duduk di kursi kosong dekat panggung dan melambaikan tangan ke Rendi, namun si pengantin hanya tersenyum. Semenit, dua menit, hingga lima menit kemudian Sita merasa bosan. Ibu dan Bapaknya entah sedang mengobrol dengan siapa, saudara-saudaranya pun sedang sibuk menerima tamu, bahkan para tamu yang tadi sempat ia hipnotis sudah tidak melemparkan pandangan ke arahnya. Membosankan, beginilah rasanya jadi anak tunggal. Kalau sudah sendiri ya sendiri.
Sekilas mata Sita menangkap sosok lelaki asing itu lagi. Lama Sita memperhatikan lelaki berambut cepak dengan postur tinggi tegap itu bolak-balik di dalam ruangan, entah itu hanya mengobrol atau mengambil hidangan lagi. Pandangan Sita tak bisa lepas dari sosok yang terbalut batik merah maroon dan celana bahan cokelat muda itu. Ternyata lelaki itu punya lesung pipit, tapi hanya satu, di sebelah kiri. Hmm, mungkin itu yang menyebabkan senyumnya tadi terlihat manis.
Sesekali Sita harus membuang muka saat tidak sengaja kedapatan mencuri pandang ke lelaki asing itu. Ya ampun, ini seperti main petak umpet, ucap Sita dalam hati. Beberapa detik ia bisa menikmati penampilan lelaki itu namun kemudian harus pura-pura tak peduli karena yang bersangkutan juga mencuri pandang ke arahnya.
Ini lucu, sudah lama ia tidak dibuai perasaan aneh ini. Entah rasa apa ini, tapi Sita sangat menikmatinya. Wujud lelaki itu sekali lagi ia tatap dengan lekat, seakan merekam setiap sisinya, kemudian disimpannya di ingatan untuk sesekali diputar saat senggang. Tuhan memang tidak pernah melakukan hal apapun secara sia-sia, bahkan hanya untuk tabrakan kecil di sebuah pesta pernikahan. 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *