Uncategorized

Miroir #2

1 new message received
Rendi : Sit, main2 ke rmh dong? Sombong amat? Mumpung weekend.. sekalian liatin istri baruku. Eh, udh tw blm kl aku udh nikah?
SMS Rendi di minggu pagi membangunkan Sita yang masih betah menikmati awal hari di atas kasur. Huh, Rendi, bisa gak sih biarin aku kebo bentar?
Sita : Iya, ntr siangan dh. Loh udh beristri? Astaga, sejak kpn?
Sent.
Dan obrolan absurd pun terbalas.
1 new message received
Rendi : Gmw, pokoknya skrg. Djenar lg masak enak! Sbg sepupu yg baik aku gmw lupain km. Kutunggu di rmh bwt sarapan bareng ya! PS : Rendi udh nikah dr 2 minggu yg lalu, masa gtw sih? Di pestanya kmrn ada cewek nyanyi bagus bgt lho!
Sita hanya tersenyum.
Sita : Bisa bgt km yaaa! Yaudah sabar. Aku kesana sendiri ya, Ibu n Bapak lg rempong ada undangan nikahan anak temennya. Sisain buatku! Awas dihabisin!
Sent

Pukul 09.00 pagi.
Sial, kalau bukan demi Rendi, sepupunya sendiri, mungkin ia lebih memilih untuk melempar ponselnya ke luar kamar tadi pagi lalu melanjutkan tidur. Ini masih sangat pagi untuk undangan sarapan! Sita mengucek matanya yang masih terasa berat, seberat langkah kakinya yang juga masih ingin lebih lama di kasur.
“Ren, disambut kek aku. Udah datang sepagi ini lho.” Sita berdiri dengan manyun di pintu ruang tamu rumah Rendi. Umm, ralat, rumah orang tua Rendi. Karena setelah menikah kemarin pasangan baru ini tinggal di rumah tantenya Sita, ibunya Rendi.
“Kayak tamu aja sih. Masuk aja, sarapan duluan, aku masih ada tamu gini.” Tamu? Sita melepas sandalnya dan masuk ke ruang tamu. Oh iya, Rendi sedang menerima tamu seorang laki-laki muda berkuliat sawo matang dengan potongan rambut cepak. Lelaki itu sekilas menoleh lalu dua detik kemudian melempar senyum ke arah Sita.
Astaga! Ini kan lelaki asing di pesta pernikahan itu! Dia … kenapa bisa ada di rumah tantenya? Sita buru-buru masuk ke dapur dengan wajah malu. Hatinya berdegup tak karuan dan kepalanya memunculkan banyak hipotesa. Lelaki itu teman Rendi? Atau hanya orang asing yang tanya alamat? Ah, tidak mungkin orang asing, jelas-jelas dia diundang Rendi ke pernikahannya! Kalau begitu Rendi seharusnya tahu siapa nama lelaki itu kan? Lalu bagaimana caranya agar Rendi mau menceritakan siapa lelaki itu kepadanya? Kenapa Rendi tidak mengenalkan dirinya ke lelaki itu sih? Hmmm, tapi Rendi kan tidak tahu kalau dirinya menyukai senyum manis lelaki itu! Ya ampun Rendi, ini gara-gara kamu!
“Sita kenapa? Mau sarapan sekarang?” Sita dikagetkan oleh suara Djenar, istri Rendi. Ia menggeleng lalu mengajak Djenar mengobrol di ruang tengah saja sekaligus mencuri dengar percakapan Rendi dan lelaki asing itu di ruang tamu.
“Mau liat album foto pernikahan gak? Bagus lho, fotografernya top! Besok-besok kalau Sita nikah pakai jasa ini aja, aku masih simpan kartu nama mereka. Nih.” Djenar menyerahkan tiga album foto pernikahannya. Sita membuka lembar demi lembar foto yang tersimpan, seperti membaca kebahagiaan yang sempat meluap dua minggu lalu di sebuah ballroom hotel.
Dilihatnya foto ketika ia sedang bernyanyi, ah, ternyata begini tampilannya, tidak buruk. Sita meraba foto tersebut lalu tersenyum. Tidak salah kok kalau lelaki di ruang tamu itu juga ikut tersenyum melihatnya malam itu. Trik berdandan a la Lala ternyata berhasil menyukseskan penampilannya malam itu.
“Eh, ini bukannya orang itu ya?” Sita refleks menunjuk foto lelaki si tamunya Rendi di album foto. Djenar yang sedang melihat hasil foto lain pun melihat yang ditunjuk Sita lalu mengangguk.
“Si Denok kan?”
Oh, namanya Denok.

“Teman main Rendi pas masih kecil dulu, tetangga dekat sini. Dia baru selesai kuliah S2 di Jakarta dan mau cari kerja di Surabaya sini, makanya lagi tanya-tanya Rendi. Senyumnya manis ya?”
Banget! Teriak Sita dalam hati. Tapi lelaki sepintar dan semanis Denok memangnya mau dengan dirinya? Perempuan bongsor yang bergelar sarjana pun belum.
“Oh, pantes mukanya gak asing, kaya pernah lihat sebelumnya. Mungkin dulu waktu masih kecil aku, Rendi, dan Denok sering main bareng. Mungkin kali ya..”
“Coba tanya langsung deh ke orangnya, siapa tau kalian memang sama-sama kenal sebenarnya?”
“No, Djenar. Hahaha. Dia teman Rendi, bukan temanku.” Sita menggeleng malu. Tidak mungkin ia melakukan aksi yang menurutnya terlalu brutal itu. Berkenalan langsung? Itu namanya cari mati!
Sita berusaha mengingat-ingat lagi, benarkah ia pernah mengenal Denok sebelumnya? Denok, Denok, dan Denok. Namanya memang tidak begitu asing. Kalau memang kenal, mestinya mereka tidak perlu terlalu canggung lagi dong? Tapi sepertinya Denok juga sudah lupa dengan Sita, buktinya di pesta pernikahan kemarin ia tidak menyebut nama Sita sama sekali. Denok terus menggunakan kata ganti ‘Mbak’ untuk dirinya secara terus menerus.
Namanya Denok, baru saja lulus S2 di Jakarta, rumahnya dekat sini, dan punya selera musik yang mirip dengan Sita. Hmm, sejauh ini sudah cukup informasi yang Sita dapatkan.
“Yuk, sarapan? Denok udah pulang. Eh, Sit, kamu ngapain ngeraba foto Denok sih? Naksir?” pertanyaan Rendi mengagetkan Sita yang sempat bengong.
“Ih, apaan sih? Baru tau nama dia Denok trus baru lulus S2 juga barusan ini.”
“Hmm? Kok tau dia baru lulus S2? Wah parah, jangan-jangan kamu secret admirenya Denok ya? Nok! Denook! Balik sini dong!” Argh, Rendi! Sita segera berdiri dan menutup mulut sepupunya itu. Kenapa juga dia harus menyebut gelar magisternya Denok ke Rendi? Informasi itu kan dari Djenar! Ini salah tingkah namanya.
“Udah, jangan berantem. Yuk, sarapan sekarang, entar keburu dingin lho.” Ucapan Djenar kemudian berhasil melerai dua saudara sepupu itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *