Miroir #3

Semester tujuh ini ternyata tidak sesantai yang Sita kira. Jadwal kuliah dan praktikum yang tetap padat, jadwal bertemu dosen pembimbing skripsi, dan belum lagi tugas-tugas yang selau memanjangkan daftar to-do list. Hosh, sedikit lagi lulus, yakin Sita dalam hati.
Sepuluh menit yang lalu salah satu kelas yang diikuti Sita baru saja bubar dan kelas selanjutnya baru mulai tiga jam lagi. Diliriknya jam tangan yang menempel di pergelangan tangan kirinya. Pukul 12.15. Makan siang dengan Rendi sepertinya ide bagus.
Sita : Mi ayam mang udin yuk?
Sent

Seharusnya Rendi menjawabnya dengan ‘iya’, mengingat sebentar lagi jam istirahat dan kantor Rendi hanya berjarak 15 menit dari warung itu jika jalanan lancar.
1 new message received
Rendi : Dibayarin apa gimana nih?

Sita : Dibayarin km trus aku tinggal duduk manis? Oke!
Sent

1 new message received
Rendi : Duduk manis doang ngeliatin aku makan? Oke!

Zzz. Rendi!

Dua puluh menit kemudian mereka bertemu di warung kaki lima yang menjajakan mie ayam enak. Rendi sedang sibuk dengan ponselnya saat Sita duduk di hadapannya. Setelah memesan dua mangkuk mi ayam, mereka mulai mengobrol ngalur ngidul, tidak pernah berubah sejak masih sama-sama kecil. Entah itu ngobrolin tokoh kartun, mengomentari orang-orang yang berlalulalang, atau membahas salah satu headline berita yang muncul di koran pagi ini.
“Kalau Doraemon beneran ada, kamu mau minta alat ajaib apa ke dia?” Tanya Sita sambil memainkan sumpit.
“Hmm, mesin fotokopi uang, mungkin?” Jawab Rendi terkekeh.
“Hahaha, aku laporin polisi lho ntar. Kalau kamu fotokopi uang dalam jumlah banyak, bisa inflasi lho. Negara berabe ntar.”
“Yaelah serius banget sih, Sit? Doraemon ini.. Ngapain bawa-bawa Negara? Emang kalau kamu apa?”
“Pintu kemana saja! Aku bisa kemana aja gak pake ongkos. Mau ke London tinggal buka pintu, mau ke kampus tinggal buka pintu. Kalau siang-siang ngantuk di kampus tinggal buka pintu trus tembus ke kamar, tinggal tidur deh, nah kalau udah bangun tinggal buka pintu lagi udah nyampe kampus. Sangat efisien dan hemat!” Jelas Sita dengan semangat.
“Huuu, basi banget sih? Aku pernah tanya hal yang sama ke Denok, tetanggaku yang kemarin itu tuh, dia juga jawabnya pengen pintu kemana saja. Err. Apa jangan-jangan kalian cuma tau pintu itu sebagai alat doraemon ya? Masih banyak tau..” Sita terdiam sebentar mendengar nama Denok disebut oleh Rendi. Denok? Dia juga menyebutkan hal yang sama dengannya? Denok yang punya senyum manis itu? Aaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk!!
“Barangkali aku jodohnya Denok!” Sita keceplosan.
“You wish, Sit! Diet dulu atuuuuuhhh..” Rendi terkekeh, ia tidak sadar telah membuat muka Sita cemberut seketika.
Melihat sepupunya tiba-tiba terdiam, Rendi segera menghabiskan mi ayamnya dan mulai membanyol lagi. Sejujurnya ia tahu menyebut ukuran badan di depan Sita bukanlah hal yang benar. Yaaa, perempuan mana yang sukarela ukuran tubuhnya dijadikan bahan omongan? Rendi paham, tapi mulutnya kadang masih sering keceplosan menyakiti perasaan sepupunya itu.
Maka sebagai permintaan maaf Rendi pun menghubungi seseorang yang sekiranya bisa melift up mood Sita yang tiba-tiba jatuh. Sita masih saja mendengarkan omongan Rendi dengan ekspresi tak tertarik. Mungkin memang begini ganjarannya, pikir Rendi.
Setelah makanan mereka berdua habis, tiba-tiba hujan turun. Sita mulai kebingungan untuk balik ke kampus karena tukang ojek biasanya ogah beroperasi saat hujan. Sementara itu angkot tidak bisa masuk mengantarkan hingga ke dalam komplek kampusnya. Ia melirik ke Rendi tapi terlalu gengsi untuk minta antar sepupunya itu. Bukannya ia sedang perang dingin dengan Rendi?
“Yah, aku ketinggalan nih kayaknya?” Sita menoleh ke empunya suara dan napasnya tertahan beberapa detik.
“Belum lah, Nok, hujan juga lagian, kita masih betah disini kok.” Rendi mempersilahkan Denok duduk di sampingnya, di depan Sita. Tubuh Sita makin kaku. Mati gaya. Kalau bergerak pasti akan salah tingkah. Rendi sialaaann! Kenapa harus bawa-bawa Denok ke sini segala?
“Mbak yang nyanyi kemarin itu kan?” Telunjuk kanan Denok menunjuk ke arah Sita dan yang ditunjuk hanya diam termenung. Melihat Sita tetap tutup mulut, akhirnya Rendi yang mengambil alih obrolan.
“Yoi, suaranya bagus kan? Sepupu gue gitu loh!” Selanjutnya dua laki-laki di hadapan Sita itu sibuk membicarakan dirinya. Sementara Sita? Tetap diam kaku sambil mendengarkan obrolan absurd mereka. Ingin sekali ia ikut menyambar obrolan itu, tapi ia takut salah ucap dan membuat Denok berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya.
Sita masih mengunci rapat bibirnya sambil sesekali memainkan ponselnya, lalu memainkan sumpit di mangkuk kosong, dan selanjutnya memutar-mutar sedotan di dalam gelas. Segala macam hal ia gerakkan untuk sekedar menyalurkan rasa gugupnya yang tengah berhadap-hadapan dengan pujaan hatinya.
Denok lagi-lagi membahas pilihan lagu yang dibawakan Sita malam itu. Rendi kemudian ikut memujinya, menghasilkan sembuarat merah di pipi Sita. Ah, dua laki-laki ini, berhentilah memuji secara berlebihan. Sita tidak ingin terbang terlalu tinggi, ia hanya ingin terbang rendah agar tetap bisa melihat bumi.
Hingga dua puluh menit kemudian Sita masih mengunci mulut, hanya Rendi yang meladeni obrolan Denok. Tentang pekerjaan, tentang film baru yang akan tayang di bioskop, hingga tentang alat ajaib doraemon tadi. Denok hanya tertawa mendengar cerita Rendi soal pilihan Sita yang sama dengannya. Denok melirik ke arah Sita yang dibalas senyuman oleh gadis itu. Pintu kemana saja bisa membawa kita kemana saja lho, Denok. Termasuk membawamu ke duniaku. Tidakkah kau sadar?
Rendi melirik jam tangannya, sudah waktuna balik ke kantor. Hujan masih turun membasahi bumi, mungkin ia rindu mencumbu tanah setelah hampir satu bulan tak bertemu. Kali ini biar manusia yang mengalah. Dan tanpa pikir panjang Rendi mengantar Sita balik ke kampus, sementara Denok melanjutkan aktivitasnya hari itu dengan mobilnya sendiri.
“Kamu anteng banget ya di depan Denok, seneng ngeliatnya.” Rendi melirik ke sepupunya yang masih senyum-senyum sendiri sejak masuk mobil.
“Sialan kamu. Bisa-bisanya nyuruh Denok datang.” Protes Sita ke kakak sepupunya yang hanya beda umur 4 tahun itu.
“Habis tadi kamu ngambek, biar seneng lagi aku panggilin Denok deh. Tuh kan bener, sekarang senyum-senyum sendiri hahaha.”
“Dan Denok mau aja kamu suruh-suruh ya, hahaha.”
“Dia lagi ada kegiatan deket sini makanya aku suruh mampir aja. Kamu mau aku kasih pin BBM Denok? Dia baik kok.”
“Heh? Apaan sih? Enggak deh. Kamu pikir aku suka Denok ya? Hahahaha.” Sita mulai salah tingkah. Menolak padahal mau.
“Aku serius, Sita. Denok itu anaknya baik. Gak usah bohong, aku ini sepupumu, udah tau kelakuanmu dari kecil. Nih add pin BBMnya.” Sita menerima ponsel  Rendi lalu menimang-nimangnya. Bukankah terlalu cepat untuk bertukar kontak dengan Denok? Bukankah ini tampak terlalu agresif? Bukankah seharusnya Denok duluan yang menghubunginya? Tapi kapan lagi Rendi sebaik ini? Kalau menolaknya sekarang lalu memintanya di lain waktu pasti Rendi akan mengejeknya. Duh, gimanaaaa?
“Udah.” Sita kemudian menyerahkan ponsel Rendi ke pemiliknya. Tak lama kemudian Sita sampai di kampusnya dan segera masuk ke kelas, hampir saja terlambat.
Tepat di tengah perkuliahan, ponselnya bergetar.
Denok : Hi, Sita 😀

Senyum Sita mengembang lebar.

Leave a Reply