Miroir #4

Sudah seminggu.
Ya, sudah seminggu ia biarkan pesan lewat BBM dari Denok berstatus Read tanpa balasan. Bukannya sombong, ia hanya tak tahu harus menjawabnya dengan bagaimana. Menjawab ‘hai’ dengan apa saja ia bingung, dasar Sita aneh! Umumnya perempuan seusianya sudah mahir memainkan perasaan di hati ini, tapi kenapa sampai sekarang dirinya tidak juga bisa? Denok Denok Denok, senyum manis dengan lesung pipit di sebelah kiri, tatapan mata yang syahdu, dan suaranya yang renyah terus menerus berputar di pikiran Sita. Denok, diamlah kamu di situ, jangan ganggu aktivitasku! Bagaimana bisa aku fokus mengerjakan tugas kuliah, mendengarkan materi, dan mendengarkan bimbingan kalau kamu terus menggangguku?
Awalnya Sita tidak mau menyebutnya sebagai jatuh cinta. Namun setelah melihat gejalanya yang membahayakan, seperti mengingat wujud Denok hampir tiap waktu, berharap Denok ada di sampingnya, hingga mengkhayalkan masa depannya dengan Denok, Sita akhirnya paham. Penyakit ini namanya jatuh cinta. Jatuh tergelincir cinta. Jatuh melayang tanpa tahu Denok siap menangkapnya atau tidak.
Recent update status Denok : Wow, perahu kertas!

Sita membaca notifikasi dari BBM Denok. Film yang diadaptasi dari novel terkenal berjudul sama itu sepertinya tengah menarik perhatian Denok. Sita juga suka film itu, bahkan sampai di minggu ketiga pemutaran film tersebut di bioskop, ia sudah terhitung 3 kali menontonnya. Freak? Iya! Hahaha.
Sita : Filmnya bagus ya? Agen Neptunus juga? :p
Denok : Iya bagus banget. Umm, maunya sih jadi agen. Tapi bukan Aquarius, gimana dong?
Sita : Aku scorpio tapi punya radar. Hebat kan?
Denok : Really?
Sita : Yup, radar dewa kalajengking. Capitnya beracun! 😀
Denok : Wow, agen kepiting harus hati-hati nih :p
Sita : Kamu pisces? Mending buka restoran burger di dasar laut aja deeeehh 😀
Denok : Hahahaha. Ntar agen kalajengking gak bisa makan disana dong? Tahan air gak?
Sita : Sangat bisa! Tupai aja bisa, kenapa kalajengking engga? Akan kupanggil agen kalajengking lain buat bikin proyek hidup dalam laut ini 😀 😀

Mereka berdua terus saja mengobrol, membicarakan hal yang tidak penting sebenarnya, namun berhasil meleburkan kecanggungan di diri Sita. Ternyata benar kata Rendi, Denok itu baik, buktinya ia mau saja meladeni obrolan absurd Sita. Atau mungkin Denok juga sudah terbiasa ngobrol aneh dengan Rendi? Ah, yang mana saja boleh, yang penting sekarang Sita sudah tidak sungkan lagi memulai percakapan dengan Denok.
Di hari-hari kemudian mereka mulai membahas topik yang lebih luas, seperti acara TV, lagu dalam negeri yang lagi ngehits, dan lain-lain.
Denok : Nonton Perahu Kertas lagi mau gak?

Sita terpaku membaca pesan BBM Denok. Ajakan pergi? Berdua? Apakah ini..
Sita : Sama siapa aja?
Denok : Sama kamu lah, Sit. Minggu sore nanti jam 5?

Status pesan BBM Denok tetap Read hingga dua puluh menit kemudian. Iya atau tidak? Benarkah Denok juga memiliki perasaan yang sama dengannya? Jika tidak mengapa ia tidak mengajak Rendi juga?  Kalau iya … ah tidak mungkin! Gadis tambun sepertinya akan mendapatkan seorang Denok? Sinting! Tapi kapan lagi bisa pergi berdua dan menikmati film yang sama-sama mereka sukai? Dan kalau misalnya mereka bertemu orang yang mereka kenal, harus jawab apa? Aarrgghh!
Sita : Oke. *nyalain radar Neptunus dari sekarang*
Denok : Sip 😀 aku jemput atau langsung ketemu disana?

JEMPUT DONG BIAR KAYA ORANG PACARAN! Hahaha, hati Sita bergemuruh. Tapi mana mungkin? Lagi pula berangkat sendiri juga berarti pulang sendiri, kalau terjadi suatu hal yang tidak terduga, Sita bisa pulang sendiri tanpa harus ketergantungan dengan Denok kan? Eh, tapi kapan lagi dijemput Denok?
Sita : Langsung ketemu disana aja ya, mau mampir ke kos teman dulu soalnya, hehehe.

Oke, berbohong lebih baik ketimbang harus mati gaya campur salah tingkah karena duduk bersebelahan di mobil bersama Denok.
Aaarrggghhh. Hari minggu cepatlah dataaannggg! Aku pakai baju apa?

Leave a Reply