Miroir #5

Acara nonton bareng Perahu Kertasnya berjalan sukses! Sama sekali tidak ada moment mati gaya, Sita dan Denok terus saja mengobrol, kadang tertawa, kadang bersenandung bersama. Yap, mereka sudah berteman. Ngomong-ngomong apa komentar Rendi kalau tau hal ini ya?
Sepulang dari nonton Perahu Kertas itu Denok mengajak Sita makan es cream di salah satu café yang letaknya masih di dalam mall. Sita sendiri belum pernah ke café itu, jadi dengan sabar Denok menjelaskan beberapa menu enak yang sayang untuk dilewatkan. Sita memperhatikan dengan seksama sekaligus menikmati suara dan gaya bicara seorang Denok yang memabukkan.
“Aku jadi Team Remi deh, ganteng banget Reza tadi.” Sita membuka percakapan.
“Kalau aku Team Luhde. Cantik, kalem, rambutnya panjang, pintar pula. Perempuan Bali memang gak ada yang mengecewakan.”
“Oh, Luhde si tiang tiang itu? Hahaha. Ah, gak sabar banget buat liat film keduanya, katanya lebih bagus lho, sampe disarankan nyiapin tissue. Sedih deh pasti.”
“Ohya? Tissue itu buat mereka yang cengeng aja sih, kalau buat aku yang keren gini buat apa? hahaha”
“Ih gaya deh!” Sita mengambil tissue di kotak dan melemparnya ke Denok, sementara yang dilempar hanya tertawa. Tak lama pesananan mereka datang, seporsi Banana Fruit dan Tutty Fruity.

Denok lalu bertanya mengapa Sita menyukai seorang Reza Rahadian, maka dengan sukarela perempuan itu menjelaskan panjang lebar. Mulai dari ketampanan Reza, model rambut Reza, acting Reza, penghargaan yang pernah Reza dapatkan, judul-judul film dan sinetron yang Reza bintangi, hingga beberapa gossip miring yang pernah menerpa artis idolanya tadi. Denok sampai terkagum-kagum dengan penjelasan Sita. Yeah, perempuan kalau sudah punya sosok idola pastilah susah untuk berhenti membicarakannya.
Obrolan mereka kemudian berlanjut ke seorang Tulus, penyanyi jazz yang disukai Sita sekaligus Denok. Sita sendiri baru mengenal lagu-lagu Tulus sekitar dua bulan belakangan ini setelah dikenalkan oleh sahabatnya, Lala. Denok pun menambah pengetahuan Sita dengan menjelaskan sejarah musik seorang Tulus, pria cerdas asal Bandung tersebut.
Ngomong-ngomong Bandung, Denok tiba-tiba bercerita tentang kisah jatuh cintanya dengan seorang gadis Sunda sekitar tiga tahun lalu. Sita mulai terdiam, antara mendengarkan dan bersiap untuk patah hati. Denok bilang gadis Bandung itu rata-rata cantik, seakan-akan mereka punya standar fashion sendiri. Pokoknya terlihat berbeda dari gadis kota lain. Namun kisah cinta itu tidak berjalan mulus karena sang gadis tidak tahan menjalankan LDR dengan Denok yang saat itu masih menetap di Surabaya. Sita menarik napas lega dan segera memutar topik pembicaraan. Ia tak ingin mendengar kisah cinta Denok yang lain.
“Tadi kamu liat banner film baru yang dibintangi Reza juga gak?”
“Test Pack? Yang ada achanya itu?”
“Yup! Adaptasi dari novelnya Ninit Yunita itulooh. Udah baca?” Sita menyuap satu sendok es cream Tutty Fruitynya.
“Belum. Gak suka baca novel juga sih. Mau nonton? Minggu depan?” Aha!
“Oke, di jam yang sama dengan hari ini?” Denok mengangguk. Minggu depan kencan kedua! Sita berteriak dalam hati.
Test pack sendiri adalah film dewasa yang bisa ditonton oleh kalangan remaja. Film ini diadaptasi dari judul novel yang sama dengan penulis asal Sunda bernama Ninit Yunita. Dikisahkan sepasang suami istri yang sudah tujuh tahun menikah tapi belum dikaruniai momongan. Sang istri yang diperankan oleh Acha sudah berusaha mati-matian untuk hamil dengan mencoba segala macam cara, bahkan hingga mengoleksi banyak merk test pack. Sementara sang suami yang diperankan Reza Rahadian, artis idola Sita, adalah sosok suami yang mencintai istrinya dengan tulus. Tentu saja ada konflik di dalam film tersebut, keduanya sempat bertengkar hebat hingga sang istri melepaskan cincin kawinnya. Dan di moment perkelahian itu Sita sepat menangis.
Air mata Sita mengaliri pipi tembemnya, suasana hatinya dengan mudah terbawa suasana. Ini pasti gara-gara PMS, ujar Sita dalam hati. Ia sempat menoleh ke Denok sekilas tapi lelaki itu hanya menonton tak berkutik, tidak memperhatikan dirinya sama sekali. Sita mengusap air matanya lalu membuat suara tangisan pelan untuk menarik perhatian Denok, namun hingga dua menit kemudian Denok tidak juga menoleh.
Sita mulai gelisah, ia memperbaiki posisi duduknya, menaruh tasnya di tempat yang nyaman, lalu menoleh ke ponselnya sebentar. Tapi lagi-lagi Denok tidak juga menoleh, berbeda sekali dengan Denok yang nonton perahu kertas kemarin. Denok yang kemarin sibuk mengomentari banyak hal, sementara Denok yang sore ini hanya diam tak bergerak.
Keluar dari bioskop pun Sita masih berusaha mengusap pipinya, tapi Denok hanya bergaya dingin.
“Filmnya sedih ya, hehehe.” Sita membuka perbincangan.
“Bagus. Pesannya bagus. Jadi mikir kalau aku jadi rahmat, apa istriku nanti masih bisa menerimaku seperti tata? Ngena banget.” Denok tersenyum, ternyata dia terlalu menghayati film tersebut.
“Dan Rezanya tetep ganteng!” Sita berusaha mencairkan obrolan.
“Dan Acha tetep seksi.” Denok lalu tertawa. Malam itu Denok tidak mengajak Sita makan es cream dulu. Ia memilih untuk langsung pulang ke rumah. Sita pun pulang dengan seabrek pikiran tentang Denok.
Denok dan Rendi berteman sejak kecil. Sepupunya yang lebih tua setahun itu baru saja menikah sebulan yang lalu, sementara Denok belum. Mungkin itulah yang mau tak mau menghantui Denok, ia pasti menginginkan istri yang dapat memeberikannya keturunan, namun bagaimana kalau ternyata Denok lah yang tidak bisa memiliki keturunan?
Hahaha, Sita..Sita.. untuk apa memikirkan urusan Denok sih?
Tapi bukankah Sita ingin menjadi bagian hidup dari seorang Denok? Mampukah ia menjadi wanita sempurna bagi Denok?
Sesampainya di rumah, Sita menerima pesan BBM dari Denok.
Denok : Udah sampe rumah? Udah gak nangis lagi dong?
Deg. Jadi ternyata Denok menyadarinya?
Sita : Idih, siapa yang nangis ya? :p
Denok : Pake acara gak mau ngaku. Itu tadi nangisin Rahmat atau nangisin cincin Tata?
Dan minggu malam pun mereka habiskan lewat teknologi terkini bernama Blackberry Messenger.

Leave a Reply