Uncategorized

Miroir #6

Sita menutup lalu mengunci pintu kamarnya. Ia berjalan gontai dan menghempaskan badannya ke kasur. Hari yang berat. Hari yang melelahkan. Ujian dadakan, pengumuman tugas besar, revisi praktikum, dan sempat kena omel dosen pembimbing karena proposal yang belum beres. Sita masih memakai pakaian lengkap, bahkan kaus kakinya belum dilepas. Argh! Sita memejakan kedua matanya, berusaha mengendurkan otot-ototnya yang tegang seharian ini.
Tiba-tiba badannya dijalari rasa gatal, sepertinya memang harus mandi di jam 8 malam ini. Ia mulai duduk dan berusaha mengumpulkan semangat untuk mandi. Ditariknya napas panjang dan di saat ia mengeluarkan karbon dioksida, ponselnya berbunyi.

Lala menelpon.
“HOIK!” Lala berteriak nyaring di telinga Sita.
“Astaga kamu pake toa ya? Santai aja lagi.”
“Hahaha. Kenapa kamu? Gak enak gitu kedengarannya?”
“Kecapean doang sih. Baru aja nyampe rumah, masih pake baju lengkap ini.”
“Uuwwh kasian. Eh by the way aku punya kabar gembira lho, mau tau gak?”
“Gak, problem?”
“Sitaaaa! Beneran bahagia banget nih.. Dengerin baik-baik, aku mau pulang ke Indo nih!”
“APAAAAHH?! Kamu mau pulang? Kapaaaaaan?” Sita mendadak histeris mendengar kabar kepulangan sahabatnya dari Sydney tersebut, sudah tiga tahun mereka tidak bertemu, sudah terlalu rindu!
“Santai aja lagi hahaha. Bulan depan. Tiket udah di tangan nih, sambut aku dengan meriah ya. Kamu mau oleh-oleh apa?”
Butuh sekitar tiga puluh menit bagi Sita untuk menentukan oleh-oleh apa yang sesuai untuknya. Ia sendiri tidak pernah berharap akan dapat jatah oleh-oleh karena bisa bertemu dengan Lala saja sudah cukup membahagiakan. Tapi berhubung sahabatnya ini sedang berbaik hati, maka akhirnya ia menyebutkan oleh-oleh tersebut : gantungan kunci couple.
“Hayooo, mau couplean sama siapa?” Goda Lala dari seberang percakapan.
“Ada deeehh, bawain yang bagus ya La.”
“Gak akan aku beliin kalau kamu belum cerita buat siapa itu gantungan kunci couplenya.”
Lala sendiri tau kalau Sita bukanlah gadis yang suka repot masalah barang berpasang-pasangan seperti itu. Bahkan dengan dirinya saja Sita tidak punya barang couple seperti sahabat-sahabat pada umumnya. Maka ketika Sita meminta barang tersebut, bukankah harus dicurigai? Apakah Sita tengah jatuh cinta? Kalau iya, ini kabar gembira!
Lala sudah mengenal Sita sejak SMA, maka berbohong dari Lala bukanlah hal baik bagi Sita. Dengan canggung ia ceritakan proses bertemunya ia dengan Denok di pernikahan Rendi sekitar dua bulan yang lalu. Ia juga menceritakan keseruan saat nonton bareng Denok dan momen menyenangkan yang mereka habiskan lewat BBM.
“Jadi namanya Denok, temen mainnya Rendi, trus senyumnya manis? Itu doang? Katanya udah sebulan naksir, kok informasinya baru itu doang sih? Kerja dimana tu anak?”
“Belum kerja, job seeker.”
“Hmmm, udah punya pacar?”
Deg. Pertanyaan ini tidak terbesit sama sekali di pikiran Sita. Ia tidak pernah sekalipun ingin dan tahu siapa pacar Denok. Ia tak pernah ingin tahu. Yang mau ia tahu Denok selama ini hanya dekat dengannya.
“Haloooo? Tidur, Sit?”
“Eng…gak La, hehehe. Belum. Denok jomblo kok.” Sita berusaha meyakinkan dirinya dan Lala kalau Denok memang bukan milik siapapun.
“Well okay, semoga aku dapet oleh-oleh yang kamu penginin ya. Yaudah istirahat gih kalau capek. See you next month ya, Mbem! Goooooooooooodd night!” Lala kembali berteriak di telinga Sita.
Sita termenung kemudian. Benar juga. Selama ini dia memang belum mengenal Denok seutuhnya. Ia tak tahu latar belakang Denok sebenarnya, tidak tahu cita-cita Denok, bahkan kegiatan Denok sehari-hari pun ia tak tahu. Hanya job seeker, sebatas itu yang dia tau. Oh, iya, dan dia adalah magister S2, lalu? Hanya itu. Ia tak tahu Denok itu suku apa, tak tahu Denok sudah punya pacar atau belum, dan ia tak tahu sebenarnya Denok menganggap dirinya apa.
Malam itu tiba-tiba hening, seakan semesta ikut termenung bersama Sita. Si gadis yang tengah menjatuhkan hatinya kepada teman main sepupunya sendiri. Apakah jatuh cinta pada Denok ini benar adanya? Apakah Denok akan menangkap cintanya yang sudah terlanjur jatuh?
Apakah ia harus menanyakan hal pribadi itu langsung ke Denok? Ah, tapi tidak boleh, perempuan tidak boleh terlalu agresif. Namun ia terlalu penasaran. Oh dewa kalajengking, aku harus bagaimana?
Dan semakin malam semakin banyak tanda tanya yang bermunculan di kepala Sita, menimbun euphoria berita kepulangan Lala yang sempat menghinggapinya beberapa menit yang lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *