• Kerajinan Tangan

    Illustrasi #TheScriptProject2

    Buku #TheScriptProject2 akan segera terbit lhoooo!! Cover sudah hampir selesaiiiii!! Keren lho covernya! Kalau mau tau, lihat di twitter saya ya. Kabar bahagia ini saya sampaikan khusus untuk para penulis yang sudah bersabar hati menunggu berbulan-bulan. Maaf ya, sudah membuat kalian menanti selama ini huhu ada beberapa kendala yang dihadapi penggagas selama proses pengerjaan ini, salah satunya adalah harus ganti illustrator. Yaps, dalam buku ini kalian tidak hanya akan menemukan berbagai kisah romantis, tapi juga beberapa illustrasi yang menggambarkan cerita-cerita tersebut. Illustrator yang kami tunjuk ternyata tidak mampu menyelesaikan tugasnya sehingga kami harus mencari illustrator baru. Setelah mencari, membandingkan satu dan lain, serta menimbang –nimbang akhirnya diputuskan kalau yang membuat…

  • Kata dalam Buku

    Kepulangan Bang Toyib

    #1 Malam mulai larut ketika kakiku menjejak tanah kampung kita, kampung di mana aku dan kamu tinggal. Fitiya, sebelas purnama sudah aku meninggalkanmu, juga si Buyung anak kita. Selama itu pulalah aku hanya sekali berkabar padamu. Teringat kala berpamitan denganmu di ujung kampung sebelum melepas kepergianku. “Abang merantau kemanakah? Berapa lama aku harus melewati malam tanpa cakap ringan kita di selasar rumah?” “Tak ‘kan lama Fitiya, tak eloklah kau takut sebelum menjalaninya. Abang akan baik-baik saja di pulau seberang,” kugamit tangan istriku dan kulihat tangis ketika kecup ini menyentuh keningnya. “Lekaslah pulang jika tabungan telah cukup, Bang,” tangan kami makin rapat tak ingin saling terlepas. Berat langkah kaki tinggalkan keluarga…

  • Kata dalam Buku

    Adrian – Cerpen Kolaborasi Part 5

    “Sialan, ganteng-ganteng kok nggak punya mata! Dan apa dia bilang tadi? Dinda? Dari mana dia tau namaku?” aku menggerutu sementara Indira membantuku berdiri setelah ditabrak lelaki tak tahu diri tadi. Karena keteledorannya, hampir semua mata yang ada di perpustakaan segera menoleh ke arahku, satu-satunya pelaku yang menghasilkan bunyi gedebuk di pintu masuk. “Sudah ah, toh kamu baik-baik saja. Dia terburu-buru karena dipanggil dosen pembimbing. Kalau enggak, pasti nggak mungkin bikin kamu kesal kaya gini,” jelas Indira sambil membawaku berjalan menuju tempat kami duduk berdua sebelumnya. “Kamu kenal dia?” tanyaku dengan nada sinis, “Kok aku nggak pernah liat muka kayak gitu ya? Ish! Ya ampun, malu banget deh jatuh di perpustakaan…

  • Kata dalam Buku

    Adrian – Cerpen Kolaborasi Part 4

    Enam bulan sudah hatiku patah, kepingnya berserakan, dan mungkin takkan dapat disatukan. Rasa sakitnya bahkan pernah membuatku jera untuk jatuh cinta lagi. Namun beberapa minggu belakangan ada rasa yang berbeda. Sekarang aku sudah bisa menertawakan kebodohan masa lalu,  kala malam-malam sunyi kerap kuisi dengan menangisi dia yang meninggalkanku. Senyum kini mulai terkembang kembali, wajah kembali berseri. Jujur kuakui, salah satunya karena kembali kurasakan rindu. Tapi ini rindu bukan sembarang rindu, rindu pada dia yang tak pernah bertemu dindaadinda, Adinda Prameswari.             Waktu luangku kini lebih banyak kuhabiskan mengecek dashboard Tumblr serta rajin merefreshnya,barangkali ada postingan Dinda yang terbaru. Membaca puisinya membuat aku seolah bisa ikut menyelami kedalaman deritanya, ikut menikmati…

  • Kata dalam Buku

    Adrian – Cerpen Kolaborasi Part 3

    “Ngapain senyum-senyum sendiri? Gila ya?” Indira bersuara dari balik laptopnya. “Apaan sih?” segera kuubah mimik wajah jadi senetral mungkin. Yaelah, si bawel ini ngeliat aja sih aku senyum-senyum sendiri, kirain serius bikin resumedaritadi. “Udah beberapa hari ini tingkah kamu makin deh. Kerjaannya nempelin laptop sambil senyum sendiri melulu. Kalau sakit tuh bilang, Nda. Aku mau kok nganterin kamu berobat ke rumah sakit jiwa, tapi sampai parkirannya doang.” Dih. Aku hanya manyun cemberut. “Jadi siapa?” lanjut Indira. “Siapa apanya?” aku segera menutup browser dan sok sibuk membaca paper di laptopku “Udah laaah, aku kenal kamu bukan dari kemarin sore. Segala raut mukamu itu sudah kuhapal. Kamu diam sambil mikir dengan diam…