• Memanusiakan Manusia,  Senandika

    Lacuna, Inc. dan Move On

    I’m in my period – you know, this situation when a woman like me feel so emotional because of hormonal thing (at least once per month). Yap, that thing. My PMS has already passed, but the gloomy feeling still covering me until now. I told my good friend that I didn’t feel good. Guess what? Tiba-tiba ada abang gojek muncul di depan rumah dengan sekotak donat di tangannya. I was surprised! Ternyata teman saya tadi yang repot-repot pesen gojek untuk beliin makanan manis dan ngirim ke rumah just to make me feel better. As you know, sugar can boost mood and make anyone happy. How sweet! I do feel better…

  • Senandika

    Pulang ke Kebun Binatang

    Apa yang muncul di benakmu ketika melihat seorang perempuan dewasa datang mendekat lalu dengan lantang ia berucap, “eh, ke kebun binatang, yuk?” Saya yakin, reaksi kamu nggak bakal jauh dari heran, kaget, dan ketawa. Alih-alih menolak, kamu akan melempar pertanyaan balik ke perempun tersebut, “kebun binatang?” Dalam hati kamu berharap telah salah dengar sembari mengatur mimik agar terlihat tak ada yang salah. HA! Perempuan itu adalah saya. Jujur aja, saya bukan pecinta binatang, tak pernah sekalipun saya memelihara binatang atau terjun langsung dalam melindungi spesies tertentu. Namun belakangan saya menyadari satu hal, bahwa dalam periode waktu tertentu saya butuh rehat dari rutinitas dan melihat bentuk ciptaan Tuhan yang lain. Kebun…

  • Memanusiakan Manusia,  Senandika

    Seize the Moment

    “Sunset terbaikku ada di Lombok,” ucap saya dengan mata berbinar-binar sementara ingatan ini terlempar jauh ke Pantai Senggigi pukul 6 sore pada bulan Januari tahun lalu. Meski sebenarnya saya sedang duduk di restoran makanan cepat saji di Surabaya, namun saya bisa merasakan debur ombak saling bersahutan dengan kilau emas matahari yang mewarnai air laut dari garis horizon. Majestic. “Nanti kalau kamu sampai di Lombok, kirimkan satu foto senja buatku, ya,” pinta saya pada seorang teman yang sedang asik mengunyah sepotong ayam di seberang meja. “Buat apa?” tanyanya tanpa menoleh. “Buat dikenang. Situ kan fotografer,” jawabku. Ia akan menginjakkan kaki di Lombok dalam hitungan minggu. Akhirnya setelah saya ceritakan tentang keindahan…

  • Senandika

    Laut

    Laut adalah tempat terbaik untuk melarikan diri. Kalimat di atas pernah saya jadikan caption foto untuk diunggah ke akun Instagram saya. Seorang teman kemudian membubuhkan komentar, “emang bisa berenang? Paling juga masuk angin.” Ada juga yang menimpali dengan, “mau ngapain di laut?” Membacanya, membuat saya menarik napas panjang. Beberapa hari kemudian saya memilih untuk menghapus foto tersebut. Bagi saya, laut bukan sekedar muara, melainkan tempat untuk berkontemplasi ternikmat. Pernah dengar pertanyaan klasik, “pilih gunung atau laut?” Kira-kira kamu bakal jawab apa? Kalau saya, tidak ada jawaban saklek. Relatif aja, tergantung kondisi pikiran, butuh rehat atau justru butuh mikir. Relatif, tergantung lokasi mana yang paling dekat dengan keberadaan saya. Relatif, tergantung…

  • Memanusiakan Manusia,  Senandika

    Unlove

    I’m not really good at this, tapi mari bicara soal perasaan. Saya suka gemas dengan orang-orang yang mengartikan benci sebagai kebalikan dari cinta. No, it’s different thing. Ketika kita tak lagi mencintai atau dicintai, benci bukanlah perasaan yang pas untuk mengisi kekosongan tersebut. Kesal, jengkel, marah, itu wajar karena merupakan reaksi kehilangan. Ketika stress, bagian otak kita yang bernama amygdala akan aktif dan melahirkan negative emotions. Anxiety, depressed, sad, etc. Sayangnya kita sering menyalahartikan negative emotions tersebut sebagai kebencian. Guys, those feelings are temporary, trust me. Saya percaya, benci bukan lawan dari cinta. Kebalikan dari cinta adalah tidak peduli. Unlove, kalau saya bilang. Yang biasanya khawatir, berubah jadi acuh. Yang…

clear-fix">