Pengakuan Dosa : Canceling Two Volunteering Schedule In A Row

It’s been a looong time since the last time I wrote something and look what will I do? Membuat pengakuan dosa. Jadi di bulan September yang konon ceria ini saya baru saja membatalkan dua kesempatan untuk ambil bagian dalam Pendidikan Indonesia, yaitu melalui Kelas Inspirasi Balikpapan dan Kelas Inspirasi Samarinda. Padahal banyak yang berpikiran kalau dua gerakan kerelawanan tersebut bisa saya jadikan momen untuk pulang kampung. Yes, pikiran saya pun begitu. Lumayan, ngajar sekalian jalan-jalan dan nengokin saudara di pulau seberang.

Ketika nama saya diumumkan masuk ke dalam daftar relawan, saya langsung woro-woro ke teman dan kerabat. Ada anak Kalimantan mau temu kangen sama nasi kuning nih! Banyak kemudian yang bersedia menampung saya selama di kota tersebut (lupa kali ya, kalau saya masih punya keluarga juga), ada yang mau bolos kerja aja demi bisa hang out sama saya (mungkin karena merugikan satu pihak makanya nggak diridhoi sama Allah), dan ada juga yang udah setor jadwal kosong untuk ngerumpi dan update kabar masing-masing. Duh, di saat-saat seperti ini rasanya seneng banget, ternyata masih banyak yang mau nerimo aing.

Tapi oh tapi apa mau dikata. Di dua Hari Inspirasi tersebut ternyata ada hal-hal yang tidak bisa saya tinggalkan. Alhasil dengan berat hati harus mengundurkan diri sebagai relawan dari dua kegiatan anakan Indonesia Mengajar tersebut. Ini kali pertama saya undur diri dari KI, biasanya mah hayuk aja. Kemarin bahkan yang di Lombok pun saya jabanin (sekalian ambil waktu untuk jalan-jalan siiiihh). Dan, ternyata ngecancel KI itu enggak enak bangeeet 🙁 ada rasa bersalah yang terus-terusan membayangi. Karena kalau ngecancel akan ada satu slot kosong yang membuat teman-teman satu rombel (rombongan belajar) memutar otak untuk reschedule semuanya. Sempat kesal juga sama diri sendiri sebab saya tahu banget gimana rasa nggak enaknya ditinggal teman satu rombel, apalagi kalau ngilangnya mepet dengan Hari Inspirasi.

Dulu pas di Lombok tuh yang paling berasa. Ada yang dari jauh-jauh hari mengundurkan diri, ada juga yang beberapa jam sebelum kegiatan belajar mengajar mulai baru lapor kalau nggak bisa hadir. Sempat drama semalaman, namun akhirnya direlakan juga. Meskipun harus ikhlas kalau sekolah kami akhirnya nggak punya dokumentasi berbentuk video. Sedih kan? Ya sedih. Makanya sebisa mungkin saya ngomong 1-2 minggu sebelum hari inspirasi. Itu pun ngomongnya sama fasilitator / panitia lokalnya langsung. Kalau ngomong di forum/grup berpotensi menimbulkan kegaduhan, seperti “kenapa mundur?”, “emang ga bisa cuti?”, “yah, sayang banget, terus yang gantiin siapa dong?”, dan lain-lain.

Sebenarnya yang pertama kali saya cancel adalah Kelas Inspirasi Balikpapan. Awalnya saya kira perasaan bersalah ini hanya untuk Balikpapan saja. Dua minggu setelahnya toh ada Kelas Inspirasi Samarinda, saya bisa ketemu teman-teman Balikpapan sebentar untuk beneran meet up sebelum lanjut ke Samarinda, pikir saya begitu. Tapi ternyata saya juga harus cancel yang di Samarinda. Ambyar lah semuanya (dadah dadah ke Kalimantan timur, nasi kuning, sungai mahakam, dan lainnya)

Saya paham kok walaupun teman-teman panitia menjawabnya dengan “iya, tidak apa-apa, kak, semoga bisa bertemu di lain waktu” namun keteledoran saya pasti bikin mereka harus segera atur ulang semuanya. Satu pengajar yang harusnya cuma pegang satu kelas dalam satu jam pelajaran, misalnya, bisa tiba-tiba harus pegang dua kelas. Atau yang semestinya hanya pegang tiga kelas, bisa nambah jadi lima kelas. Formasi opening dan closing juga bisa berubah. Iuran biaya perlengkapan juga bisa bertambah karena satu orang batal ambil bagian. Agak kurang ajar sih emang ngecancel kelas inspirasi itu. Udah syukur lolos dan diterima jadi relawan pengajar untuk menginspirasi anak-anak Indonesia, eh, dilepas gitu aja.

Ini jadi pelajaran banget buat saya. Ternyata menjadi relawan itu nggak cuma butuh niat, bahan ajar, dan seabrek games serta ice breaking, tapi juga komitmen, apalagi kalau lokasinya jauh. Komitmen untuk hadir di tengah anak-anak Indonesia. Komitmen untuk benar-benar menjadi inspirator yang menginspirasi. Komitmen untuk turut andil dalam setiap diskusi, rembug ide, dan partisipasi dalam proses persiapan. Komitmen untuk melaksanakan rolenya dengan benar. Komitmen untuk sanggup datang di rangkaian briefing hingga refleksi. Komitmen untuk benar-benar menjadi keluarga besar kelas inspirasi.

Sekarang tiap liat dokumentasi atau hasil meeting kadang ada rasa “nyess” sendiri karena mestinya saya ada di sana, ikut ambil bagian. Tapi mau bagaimana lagi, nyataya saya nggak juga beranjak dari Surabaya.

Minggu depan jadwalnya Kelas Inspirasi Gresik. Jaraknya hanya selemparan kolor dari rumah. Walaupun beda kota tapi cuma butuh 30 menitan untuk sampai. Jauh lebih dekat daripada lokasi sekolah waktu Kelas Inspirasi Surabaya tahun lalu. Buat yang satu ini saya berusaha banget untuk nggak undur diri walaupun lumayan ngos-ngosan ngikuti pace teman-teman lainnya. Bayangkan saja, kurang dari enam hari dan saya belum bikin bahan ajar, games, dan segala printilannya. Yeah, let’s see apakah kali ini saya berhasil memetik hikmah dari kegagalan dua KI sebelumnya : komitmen.

Leave a Reply