Perihal Cita-Cita

HeRi – Heboh Sendiri
Apa sih cita-cita itu?
Kalau di umur 20an tahun ini ada yang datang dan bertanya langsung “Apa cita-citamu?” pada saya, kemungkinan besar yang keluar dari bibir ini adalah “Menjadi bahagia seutuhnya.” Seiring bertambahnya usia, ingin jadi ini itu bukan lagi hal yang saya kejar. Bercita-cita jadi penulis, saya pernah. Ingin jadi traveler, pernah saya selipkan dalam doa. Namun makin ke mari nampaknya hidup tenang bersama orang yang saya sayangi dan juga menyayangi saya, berkecukupan dalam tiap aspek, serta tidak mengeluhkan apapun barangkali jadi keinginan tertinggi.
Jangan tanya soal jodoh, hal itu sudah masuk dalam point pertama yang saya sebutkan di atas.

Namun, jika 10-15 tahun lalu ada yang datang, merangkul saya, dan bertanya “Apa cita-citamu?” barangkali jawabannya adalah “Pengin jadi astronaut.” Terbang dan menyentuh benda-benda luar angkasa adalah mimpi Winona kecil. Ya, siapa sangka ternyata jalan hidup mengarahkan saya jauuuuh sekali dari cita-cita. Tak apa, tak ada yang perlu disesali. Sekarang, saya juga bakal kabur kok kalau ada yang tiba-tiba ngajak tur keliling Galaksi Bima Sakti.
Mimpinya anak kecil itu menarik.
Mereka masih belum tahu seperti apa rasanya tumbuh besar dan seterjal apa jalan untuk menggapai profesi yang mereka impikan. Sebagai orang dewasa, saya justru nggak mau menyadarkan anak-anak bahwa kehidupan itu tak semenarik kisah-kisah di buku dongeng. Dik, teruslah bermain, teruslah beranggapan bahwa kita bisa jadi apapun, dan jangan pernah lelah merajut mimpi. Seiring berjalannya waktu, dunia mungkin akan kehilangan warna, kehilangan dendang, atau mungkin terlihat seperti kehilangan akal. Satu-satunya cara untuk terus bertahan adalah dengan terus berpegangan pada cita-cita indah masa kecilmu.
Atas dasar itu lah saya menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi. Dan, kisah Kelas Inspirasi kali ini datang dari Pulau Garam, Madura.
Siapa yang pernah dengar Bebek Sinjay? Makanan olahan bebek yang termahsyur itu letaknya di Bangkalan, jaraknya tak jauh dari SDN Dlambah Dajah 3, tempat di mana saya menginspirasi pada 25 Januari 2017 lalu. Sekolah yang saya datangi ini letaknya jauh masuk blusukan ke dalam desa. Saya dan teman-teman aja sampai ragu waktu pertama kali ke sana. Ini beneran enggak nyasar kan? Kok dari tadi udah ngelewatin sawah tapi enggak nemu sekolahan juga?
Ukuran SDN Dlambah Dajah 3 tidak luas, kalau dibandingkan dengan SD saya dulu mah nggak ada apa-apanya. Jumlah siswa dari kelas satu hingga kelas enam kurang lebih 100 siswa saja. Nggak tampak ada barang inventaris mewah di sana. Alat mengajarnya pun masih pakai kapur. Anak-anaknya masih nyaman menggunakan Bahasa Madura ketimbang Bahasa Indonesia. Tidak semuanya pakai seragam dan atribut sekolah yang layak. Tapi siapa sangka, dari sekolah yang sederhana itu, banyak siswanya yang bercita-cita menjadi seorang .. pembalap liar.
Menemukan anak yang bercita-cita jadi pemain bola, saya sudah pernah. Bagi saya sih itu wajar. Jangankan mereka, adik saya juga pernah kok. Tapi jadi pembalap liar? Usut punya usut banyak anak sana yang mengidolakan si Boy, tokoh utama sinetron Anak Jalanan.
Hell!
Rasanya pengin langsung nampol produser, sutradara, dan segenap crew sinetron TV! Geblek dah. Bisa-bisanya ngerusak cita-cita anak kecil di pedalaman Maduraaaaaaaaa >.< Sebel! Anehnya tuh yang mau jadi pembalap nggak cuma satu bocah, banyaaakk, tiap kelas adaaa. Mereka mengaku mengidolakan si Boy. Keren, katanya. Idih, pada nggak tau apa kalau naik motor tinggi kayak si Boy itu bisa bikin scoliosis karena nungging mulu. Pada ngga tau apa kalau harga motornya nggak sama dengan harga lollipop bentuk kaki?
-____-
Sebel banget gue ya Allah.
Nggak sampai di pembalap aja, siswa perempuannya juga banyak yang pengin jadi artis, lebih-lebih jadi penyanyi. Boleh kok, boleh banget. Tapi saya tahu ini cuma dampak dari menjamurnya acara pencarian bakat yang tiap malam tayang di TV. Tampak keren kah mereka di mata kalian, adik-adik? Dibandingkan dengan kakak-kakak relawan yang jauh-jauh datang dari beragam kota, mereka yang tampak elok di layar kaca itu selalu lebih menarik dan terlihat menjanjikan mimpi yang membahagiakan ya?
Sungguh, kita semua harus prihatin dengan fenomena ini. Bayangin aja, please, mau jadi apa negara ini kalau bibitnya lebih mengidolakan si Boy yang akhirnya mati kelindes truck? Mau jadi apa generasi selanjutnya kalau mereka mendamba jadi biduan? Mereka, yang jauh dari hiruk pikuk kota, tak terjamah oleh isu kenegaraan, nyatanya lebih akrab dengan drama percintaan dan pencitraan para penghibur.
Keinginan saya untuk menghidupkan mimpi anak Indonesia mendadak redup jika yang mereka cita-citakan adalah menjadi profesi-profesi tersebut. Jika ingin jadi dokter, guru, polisi, saya masih bisa mendukungnya, menyelimuti mimpi mereka dengan kisah-kisah menginspirasi, dan mengamini harapan mereka. Seharusnya mimpi itu yang tinggi, yang besar, yang mewah. Agar kaki-kaki kecilmu bisa melangkah ke tempat jauh yang sebelumnya belum pernah tergapai. Mestinya, cita-cita itu yang tinggi, jadi presiden sekalian, tak apa, tak usah takut. Impian itu memang seharusnya menakutkan, membuatmu bergidik, hingga akhirnya kamu tertantang untuk meraihnya.
Dik, ketahuilah, bermimpi itu gratis, merajut mimpi tidak membutuhkan biaya mahal, yang kamu lakukan hanya berusaha, berdoa, dan terus berlari. Lelah, namun akan sampai pada suksesnya.
Bahkan, saking hilang akalnya, ketika ada yang bercita-cita jadi polisi, saya ajak ke sebelah temannya yang bercita-cita jadi pembalap liar. “Kamu mau jadi polisi kan?” tanya saya. Si anak mengangguk. “Nah, nanti kalau dia beneran jadi pembalap liar, tilang aja!” pinta saya sambil nunjuk si pembalap.

Nih bocah mukanya garang tapi ikatan kepalanya kupu-kupu

Setelah menginspirasi dan bercerita tentang profesi, saya bertanya pada mereka, siapa yang mau melakukan apa yang saya kerjakan setiap hari. Namun yang saya dapat hanyalah keheningan. Nggak apa-apa, saya berusaha membesarkan hati. Nggak apa-apa kalau di SDN Dlambah Dajah 3 nggak ada yang mau jadi Digital Marketing. Tapi, please, jangan ada yang jadi pembalap liar ya, pleaseeee..

T.T
Ah, ya sudah lah. Siapa yang tahu ke depannya anak-anak ini akan jadi sosok yang seperti apa. Nggak ada yang bisa menjadmin. Tidak mereka, tidak saya, tidak guru mereka, dan tidak juga teman-teman relawan Kelas Inspirasi Bangkalan 2. Yang jelas terima kasih banget buat teman-teman sesama reawan, guru-guru, dan siswa SDN Dlambah Dajah 3 yang sudah memberi saya kesempatan untuk kembali turun langsung menjenguk anak-anak Indonesia. Meski harus diakui, kali ini saya merasa ketampar habis-habisan. Mata saya kian terbuka lebar, jadi makin sadar kalau dunia ini luas, imajinasi bisa mengantarkan kita ke mana saja, dan si Boy Anak Jalanan bisa tetap diidolakan meskipun sudah nggak ada.

Leave a Reply