Posesif (2017)
Memanusiakan Manusia,  Senandika

Posesif

Belakangan ini berita tentang Adipati – Vanesha dan Putri Marino – Chicco Jericko lagi booming banget ya di social media. Si Adipati lagi ramai digosipkan cinlok dengan lawan main yang merupakan si Mileanya Dilan sementara si Putri ramai dibicarakan karena berhasil meyakinkan hati Chicco untuk menikahinya setelah pacaran tiga bulan doang. Di tengah ramainya timeline social media tersebut ada saya yang lagi nggak sengaja dengerin lagu Dan-nya Sheila On 7 yang merupakan soundtrack film Posesif. Rasanya langsung kangen banget sama Yudhis-Lala – dua tokoh yang diperankan Adipati dan Putri dalam film tersebut.

Yep, saya adalah #TeamYudhisLala. Sejak pertama liat trailer film keluaran Palari Film pada 2017 lalu saya langsung jatuh cinta. Beruntung ada teman yang iseng ngajak saya nonton, yasuding tanpa pikir panjang saya langsung milih Posesif (and turns out he dislikes it while I loooove it so much! HAHAHA)

Film yang disutradai Edwin tersebut laris manis di ranah festival maupun komersil. Banyak pernghargaan berhasil mereka kantongi. Meskipun jumlah penontonnya nggak segila Dilan, namun sejuta kali saya lebih prefer Posesif. Cerita yang diangkat oleh film ini nggak jauh dari judulnya. Berkisah tentang dua siswa SMA yang jatuh cinta hingga buta dan kehilangan makna dari cinta itu sendiri. Ini cinta pertama Lala, Yudhis ingin selamanya – begitu deskripsi singkat yang terpampang pada poster film Posesif. Sebelum nonton saya nggak ada pikiran gimana-gimana tentang kalimat deskripsi tersebut, tapi setelah nonton jadi “WANJERRRRR!!” Lebay? Yha, namanya juga kekuatan film. Padahal nggak ada yang lebay dari cerita, make up, maupun gambarnya. Nggak tahu ya, nyampe aja gitu ke saya. Bodo amat ketika teman saya bolak balik bilang Yudhis lebay, Yudhis terlalu jahat, Lala bodoh, Lala terlalu dibutakan cinta, etc (bahkan sampe sekarang dia masih sebal tiap saya cerita tentang Adipati Dolken – sewotnya nyantai aja bisa kali, bro).

Btw, bukan itu yang mau saya bahas. Bukan hanya soal Adipati atau Putri, melainkan posesif itu sendiri. Kamu pernah berada dalam hubungan bersama seseorang yang posesif? Saya belum, namun hampir. Pernah hadir seorang laki-laki baik hati ke dalam hidup saya. Ia datang bersama kesederhanaan. Ia tak muluk-muluk, tak lalu menghadirkan barisan puisi, tak lantas mendedangkan nada-nada yang memabukkan. Ia membuat saya berani. Berani untuk mempersilakannya masuk, berani meruntuhkan dinding di sekeliling, dan berani untuk membagi cerita. Ia tampak tak membahayakan pada awalnya, sampai ia perlahan menggiring saya masuk ke dalam sangkar emas.

Ada satu momen yang membuat saya terdiam lalu sadar bahwa saya tak bisa melanjutkan ini semua dengan dia. I was scared. Saya yang terbiasa menentukan pilihan sendiri, jadi terusik dengan lelaki ini. Saya tipe orang yang cenderung melihat secara big picture sementata he focuses on details – literally details sampai ke hal-hal yang nggak saya perhatikan kehadirannya. Saya yang kadang impulsif ini tiba-tiba ditegur – ia pernah tiba-tiba merebut ponsel saya ketika saya hendak menghubungi seorang teman. Saya yang biasa mengeksplorasi banyak hal diminta untuk duduk diam di satu sudut. Saya tahu dia ingin menjaga, namun caranya kurang sesuai. Sekali, dua kali, tiga kali – jengah, saya akhirnya menceritakan pergesekan ini ke seorang teman – yup, ke orang yang nemenin saya nonton Yudhis dan Lala.

He’s fallin’ into you,” my friend told me, “but in wrong way.”

Saya tersenyum kecut. “So what should I do?”

Just let it be.” Jalani aja dulu. Klasik banget nggak sih saran teman saya ini? Rasanya pengen noyor aja.

“Kasih saran tuh yang konkrit, napa?”

“Emang ada orang kasmaran yang bisa dikasih saran konkrit?” teman saya ini balik bertanya. “Mau aku kasih masukan gimana pun, kalau kamu sendiri yang nggak buka mata ya aku bisa apa?” Mendengarnyan saya jadi bete, meskipun mulai paham ke mana harus melangkah selanjutnya. “Jangan sampai kamu jadi kayak.. Cerita di film apa tuh, yang pernah kita tonton, yang ceritanya pacaran anak SMA tapi cowoknya udah sok ngatur-ngatur dan main jambak-jambak rambut segala?”

“Posesif?” jawab saya pelan.

“Nah tuh.”

“Film yang ada Adipati ganteng itu kan?”

“Bodo amat.”

Posesif (2017)
Posesif (2017)

Okay, let’s just be honest. Sebagai manusia yang dilahirkan sendiri dan akan kembali mati seorang diri, memiliki hubungan dengan manusia lain merupakan kebutuhan, namun kita kerap lupa bila menikmati kebebasan dengan diri sendiri adalah fitrah setiap orang. Cinta yang baik tidak memaksa. Cinta yang benar, bagi saya, adalah saling menghargai tanpa ada unsur paksaan. Cinta yang sesungguhnya tidak perlu diminta untuk mengerti tetapi sukarela untuk selalu memahami. Itu definisi cinta menurut saya. But let’s talk about reality, di luar sana banyak yang rela terjebak dalam cinta yang salah hanya karena takut meninggalkan dan memulai yang baru. Stockholm Syndrome namanya – di mana sang “korban” merasa nyaman dengan ancaman dan tindasan. Or may be simply, si korban sebenarnya nggak sadar kalau dia berada di posisi yang dirugikan.

Saya pernah baca sebuah artikel di internet – sayangnya lupa linknya. Penulisnya berpendapat bahwa cinta adalah seni mengendalikan diri. Hal terpenting soal cinta adalah tentang bagaimana kita merelakan dan melepaskan. Saya menyetujui pendapat tersebut. Menyetujui bukan berarti mahir ya. Saya sendiri masih perlu banyak belajar soal mengendalikan diri dan merelakan. Entah ini saya doang atau kamu juga, tapi ketika menjalin hubungan dengan seseorang, kita cenderung memaksakan pemikiran kita pada pasangan. Namanya juga manusia ya, selalu merasa miliknya adalah yang terbenar, sampai-sampai lupa bahwa kita nggak punya kuasa untuk mengubah seseorang – lha wong mengubah diri sendiri aja setengah mati.

Rasa memiliki yang meraksasa didukung oleh ketakutan akan kehilangan kerap melatarbelakangi keposesifan seseorang terhadap pasangannya. Ia seringnya lupa bahwa cinta tak pernah lupa kapan dan ke mana harus pulang. Cinta pasti kembali. Tetapi kalau sampai cinta angkat kaki lalu kabur, itu pertanda bahwa rumah tak lagi senyaman dan seaman dulu.

Miris ya? Semoga kita dijauhkan dari perasaan toxic seperti ini. Emang paling bener menjalin hubungan karena Allah deh ya.. Hati jadi lebih lapang, pikiran juga nggak terlalu ruwet – semua karena kita percaya bahwa di balik segala hal ada Allah yang mengatur. Yudhis dan Lala saja mampu untuk melewati semuanya, masa kita yang pernah/sedang terjebak dalam keposesifan nggak bisa kayak mereka? Intinya sih love yourself first. Cinta Allah dan orang tua adalah bukti bahwa cinta yang benar akan membuat kita jadi manusia yang lebih baik. Jika justru kebalikannya yang kaudapat, coba pikir-pikir lagi, apakah itu cinta?

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *