Pulang ke Jakarta

Monumen Nasional - Jakarta
Monumen Nasional – Jakarta

Hai, halo!
Awal Juni kemarin saya baru saja pulang ke Jakarta lho! Iya, pulang. Karena di pusat pemerintahan Indonesia sana lah akar keluarga saya tertanam. Ada banyak kenangan masa kecil ayah, makam mbah, dan kisah-kisah yang tak pernah bosan untuk diulang meski rasa yang dihadirkan tak pernah berubah : hangat.
Dulu ketika masih tinggal di Samarinda, Jakarta bagi saya hanyalah tempat yang perlu didatangi saat hari raya. Rute perjalanannya pun kurang lebih sama : Samarinda – Surabaya – Jakarta – Samarinda lagi. omongan-omongan yang saya dengar pun tak pernah berubah, terus saja tentang “Wah, Nona sudah besar ya? Kelas berapa sekarang? Nona sudah pintar bla bla bla ya..” Begitu terus secara berulang sampai saya hapal pola pertanyaannya.

Namun ketika Ayah akhirnya sakit, semuanya langsung terputar 180 derajat. Jakarta yang saya kenal bukan lagi tempat untuk saling berpelukan, melainkan tempat yang mendadak asing. Kota yang tak pernah hening itu hanya bisa saya dengar namanya ketika ayah akan pergi berobat – which is saya harus diungsikan ke rumah budhe selama entah berapa lama. Bangun tidur bukan di kamar saya, berangkat sekolah lebih awal karena jarak tempuh yang mendadak lebih jauh, dan tak bisa bermain dengan teman-teman seperti hari-hari biasanya.
Saya lupa pastinya berapa lama Jakarta menjadi kota yang asing bagi seorang Winona. Tujuh tahun, mungkin? Sebelum akhirnya 2011 lalu, ketika sudah menjadi mahasiswa di Surabaya, saya kembali menjejakkan kaki di ibukota. Tujuan awalnya malah bukan untuk pulang, tapi untuk mengisi waktu libur semester bareng teman-teman hahahahha. Bayangin aja, dari lima hari yang saya habiskan di sana, hanya dua hari satu malam yang saya pakai untuk mengunjungi keluarga. Duh, Dik Winona kenapa kamu seperti ituuu~
Tapi tenang, dua hari satu malam saja sudah cukup bagi saya untuk tiba-tiba membuat kegaduhan di Jakarta kok. Anak baik-baik nan kalem ini (oke, silakan muntah bagi yang mendadak mual) pada suatu malam hilang dan tak bisa dihubungi. Orang-orang seindonesia raya langsung pada panik. Katanya sih, saya hampir dilaporkan ke polisi untuk kemudian masuk dalam daftar pencarian orang hilang :))) om saya bahkan sudah mempersiapkan diri untuk tampil di acara berita pagi-pagi besok untuk bercerita kalau anak adiknya hilang di PIM.
Hahahaha
Iya, saya hilang di Pondok Indah Mall, saudara sekalian. Jadi ceritanya di suatu sore saya tiba-tiba pengin ketemuan sama seorang teman di mall (iya, saya emang random gitu orangnya). Teman saya itu anak STAN sementara saya di Ciputat Baru. Untuk ukuran Jakarta yang luas dan luar biasa padat, lokasi kami saat itu terbilang hanya selemparan kolor doang. Makanya selagi bisa ketemu, saya langsung berangkat. Bodohnya saya nggak mikirin kondisi baterai henpon yang hampir habis :))) Perjanjian awalnya, saya akan berangkat dan pulang menggunakan ojek carteran. Maklum, Sis, zaman itu belum ada Gojek. Waktu pulang pun sudah ditentukan. Itulah kenapa saya pede banget matiin henpon ketika udah ketemu teman di dalam PIM. Tapi…. ternyata eh ternyata, rencana berubah tanpa sepengetahuan saya. yang jemput nanti bukan abang ojek, melainkan om saya yang baru pulang kerja.
Di dalam PIM saya asik ketawa ketiwi sama teman serta norak-norak bergembira karena berkali-kali papasan sama artis. Pokoknya bener-bener nggak sadar kalau di luar om saya udah stress ngehubungi saya bolak balik tapi nggak tembus. Si om yang baru pulang ini tentu kepenginnya cepat ketemu saya lalu pulang ke rumah. sementara saya? Ya saya mana tahu hahahaha. Miskom kayak gitu yang akhirnya bikin semua orang panik. Ayah dan bunda di rumah udah stress aja bawaannya. Maklum kan saya bocah yang jarang keluar rumah, ini sekalinya dapet ijin ke ibukota kok ya malah ucul.
Mendekati waktu tutup mall saya akhirnya menyalakan henpon lagi. Kan mau pulang nih. Eh, pas dinyalain, langsung banyak banget tuh pesan sms yang isinya seragam : khawatir nyariin saya. Paling horror pas baca sms ayah sih. Perasaan saya langsung nggak enak. Tapi belum sempat saya balas sms satu persatu, panggilan dari om saya masuk.
 Jreng!
(yeah, you know lah apa yang terjadi setelahnya – apalagi kalau bukan kena omel semua orang?)
Kejadian itu udah berlalu hampir lima tahun. Di 2013 dulu saya sempat pulang ke Jakarta juga, sayangnya dengan suasana berduka yang kurang nyaman. Lalu, 2016 ini saya kembali. Pulang. Datang dengan kondisi dan tujuan yang berbeda. Winona yang dulu cuma kebagian ditanya “Kelas berapa sekarang?” kemarin sudah kebagian pertanyaan “Bagaimana pendapat dari keluarga surabaya?” :’) I never thought time would fly this fast. Tiba-tiba jadi perwakilan ayah dan bunda :’) Kalau dulu ke Jakarta tujuannya main dan ke rumah saudara cuma mampir, kemarin justru full kumpul keluarga melulu. Teman-teman yang di Jakarta cuma kebagian info kalau saya di ibukota, tapi nggak berhasil ketemu langsung. Yeah, jangankan teman deh, salah seorang sepupu dari surabaya yang pengin ketemu dari hari pertama aja cuma kebagian ketemu lima menit sebelum saya berangkat ke bandara. Adegannya udah sebelas dua belas sama rangga dan cinta di film AADC pertama. Oh iya, kalau biasanya saya mesti di rumah sebelum jam 9 malam, kemarin di Jakarta juga sempat merasakan pulang jam 3 pagi. Hore! Sebenernya masih mau lanjut mengeksplore Monas di pagi buta sih, tapi batal.
 

Masjid Istiqlal - Jakarta
Masjid Istiqlal – Jakarta


FYI, di umur yang udah mau seperempat abad ini kemarin saya baru kesampaian melihat Monas dari dekat, sholat di Masjid Istiqlal, serta melihat beragam gedung pemerintahan yang biasanya cuma keliahatan di layar kaca. Norak? Pasti laaaah :))) Wong ketemu Chef Chandra di bandara aja masih tetep diomongin sampai sekarang. Nggak kebayang gimana reaksi saya kalau tiba-tiba ketemu Benedict Cumberbatch secara nggak sengaja gitu.. Kelar kali idup gue.
Jakarta yang kemarin saya datangi ternyata belum berubah. Tiap ke sana masih saja terdengar cerita kecil ayah, cerita saya hilang di PIM, dan cerita-cerita lain yang bikin hati tergelitik. Rupa Jakarta pun masih sama. Masih riweuh, padat, dan macet. Istilah tua di jalan itu belum juga berubah. Tapi meski ampun-ampunan bikin stressnya, masih ajaaaa tiap tahun orang berbondong-bondong mencari peruntungan di sana. Saya jadi ingat pertanyaan ayah yang dulu pernah dilayangkan pada saya selepas pulang dari Jakarta. Siang itu kami sedang berbaring di atas kasur sambil memandang langit-langit kamar yang sama. Saya baru saja khatam bercerita tentang liburan solo ke ibukota sebelum ayah bertanya, “Gimana, Mbak? Mau tinggal di Jakarta?” Mendengar pertanyaan itu, saya menggeleng pelan.
Biar Jakarta jadi tempat pulang saja. Cukuplah menetap di kota lain. Bisa gila saya lama-lama di Jakarta.

Leave a Reply