Senandika

Pulang ke Kebun Binatang

Apa yang muncul di benakmu ketika melihat seorang perempuan dewasa datang mendekat lalu dengan lantang ia berucap, “eh, ke kebun binatang, yuk?” Saya yakin, reaksi kamu nggak bakal jauh dari heran, kaget, dan ketawa. Alih-alih menolak, kamu akan melempar pertanyaan balik ke perempun tersebut, “kebun binatang?” Dalam hati kamu berharap telah salah dengar sembari mengatur mimik agar terlihat tak ada yang salah.

HA!

Perempuan itu adalah saya. Jujur aja, saya bukan pecinta binatang, tak pernah sekalipun saya memelihara binatang atau terjun langsung dalam melindungi spesies tertentu. Namun belakangan saya menyadari satu hal, bahwa dalam periode waktu tertentu saya butuh rehat dari rutinitas dan melihat bentuk ciptaan Tuhan yang lain. Kebun binatang adalah favorit saya.

Di daerah tempat saya lahir dan tumbuh besar, tidak ada yang namanya kebun binatang. Pengetahuan tentang flora dan fauna saya dapat dari pelajaran di sekolah dan lingkungan sekitar. Ayah saya dulu sempat bekerja di pedalaman Berau. Buat yang belum tahu, Berau itu letaknya di ujung utara pulau Kalimantan, dekat sekali dengan negara tetangga. Tahu tempat wisata termahsyur bernama Kepulauan Derawan? Nah, Kepulauan Derawan itu ada di Berau. Kalau lagi libur sekolah, saya sering ke camp Ayah. Meski harus menempuh perjalanan super panjang dan super lama, namun di sana lah saya bisa bertemu dan menyaksikan langsung beragam hewan yang biasanya cuma muncul di TV. Orangutan, bekantan, biawak, monyet, ular, kijang, babi hutan, burung pelikan, burung enggang, burung jalak – you name it, I’ve seen them with my eyes. As living creatures, no doubt.

Menyusuri sungai Kalimantan di mana kanan kirinya merupakan hutan hujan adalah kegiatan rutin Winona kecil tiap masa libur tiba. Suasanya menyenangkan sekali. Pohon tinggi dan besar berjajar apik, di antaranya banyak hewan bersantai dan bergelantungan, langit di atas sana benar-benar biru, sementara di baliknya ramai hewan bersahutan – memanggil kawan, mengusir musuh, atau justru menarik lawan jenis. Air sungai Kalimantan umumnya keruh akibat luruhnya tanah merah/gambut ke dalam air tawar. Jarang saya dengar Kalimantan punya fauna air yang apik (kecuali di laut sekitarnya). Tapi jangan tanya soal fauna daratnya – lengkap dan menggemaskan! Warna kulit atau bulu mereka umumnya menarik perhatian mata, suara-suaranya juga khas, belum lagi langkah-lagkah lincahnya ketika saling berkejaran. Satu-satunya hal yang mengganggu ketentraman dalam hutan hanyalah mesin penggerak speedboat yang saya tumpangi.

Barangkali, pengalaman masa kecil itu lah yang membuat saya selalu excited ketika melihat binatang, baik di penangkaran, di majalah, maupun di televisi. Rasanya seperti diingatkan kembali jika bumi ini bukan hanya milik manusia. Di luar sana, ada banyak spesies lain yang perlu dikenal, diperhatikan, dan dijaga. Mereka sama dengan kita, punya rasa, punya keluarga, punya kehidupan, dan tentu membutuhkan rasa aman dan nyaman.

Jauh sebelum kampanye pelestarian penyu ramai digencarkan, saya sudah menyaksikan sendiri bagaimana manusia meeksploitasi hewan reptil tersebut. Jauh sebelum orangutan jadi sorotan dunia, saya sudah lebih dulu bertanya-tanya, “apakah hewan pintar tersebut akan bertahan lama?” Jauh sebelum banyak binatang kehilangan habitat dan menyandang status terancam punah, saya sudah lebih dulu tahu bahwa manusia merupakan makhluk yang kejam – tak sungkan berburu demi kebutuhan finansial hingga mengesampingkan keseimbangan ekosistem di sekitarnya.

Mungkin, apa yang kerap saya saksikan dulu lah yang kini membuat saya senang berkunjung ke penangkaran hewan, untuk sekedar update kabar tentang binatang apa saja yang statusnya masih aman. Jujur aja, krenyes-krenyes banget rasanya tiap dengar berita tentang hewan ini akan punah dan hewan itu gencar diperjualbelikan. Sebab kita seringnya lupa kalau hal dasar yang membedakan manusia dan hewan hanyalah akal. Namun alih-alih menggunakan akal untuk melestarikan bumi, kita justru semena-mena dalam memanfaatkan sumber dayanya.

Sedihakutu.

Lebih sedih lagi pas nggak ada yang mau diajak ke kebun binatang gara-gara mikir kalau tempat tersebut hanya untuk anak kecil. Hellaaaawww.. sejak kapan pengetahuan tentang hewan itu untuk anak kecil doang? Justru harusnya kita-kita ini yang bisa lebih peka terhadap lingkungan – sadar bahwa hidup tak hanya seluas kubikel. Pada tahu nggak sih kalau sebenarnya kebun binatang itu dibuat dengan tujuan apa? Biar kita ngeh kalau flora dan fauna itu sampai perlu dikerangkeng dan hidup terbatas – jauh dari habitat asli dan direnggut kebebasannya – hanya agar kita, manusia, paham bahwa di luar sana populasi mereka menipis. Buka mata hati sedikit, mari belajar untuk mengenal keragaman ciptaan Tuhan, agar ke depannya lebih mengerti bahwa sebagai khalifah kita punya amanah yang luar biasa. Tak hanya keluarga dan agama yang perlu dijaga, namun juga flora dan fauna di sekitar.

Jadi, ke kebun binatang, yuk?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *