Resonansi

ini bukan tentang siapa yang berlari paling cepat

melainkan siapa yang mampu menggapai sudut terjauh

menembus ratusan lapisan lingkar demi sehirup udara baru;

bebas dari pekatnya harapan yang membusuk

di sana, di langkah-langkah cepat yang kita ayunkan

ada napas yang saling berkejaran

serta teriakan orang-orang yang saling bersahutan;

menyemangati, melahirkan resonansi

namamu menggantung di telingaku

namaku bergetar di rumah siputmu

masing-masing dari kita berusaha menggapai ujung

sementara waktu terus memburu ingin membunuh

tuan, rasa-rasanya sedetik lagi aku akan tenggelam

dalam peluh dan sendu akibat bahagia yang meluruh

ingin kumemalingkan pandang barang sekejap

untuk memastikan kau masih kuat lari menjauh

namun suara di kepala berkali-kali menolak,

bisiknya, kau tak lebih dari masa lalu, lalu untuk apa memancing rindu?

Leave a Reply