Seize the Moment

Sunset terbaikku ada di Lombok,” ucap saya dengan mata berbinar-binar sementara ingatan ini terlempar jauh ke Pantai Senggigi pukul 6 sore pada bulan Januari tahun lalu. Meski sebenarnya saya sedang duduk di restoran makanan cepat saji di Surabaya, namun saya bisa merasakan debur ombak saling bersahutan dengan kilau emas matahari yang mewarnai air laut dari garis horizon. Majestic. “Nanti kalau kamu sampai di Lombok, kirimkan satu foto senja buatku, ya,” pinta saya pada seorang teman yang sedang asik mengunyah sepotong ayam di seberang meja.

“Buat apa?” tanyanya tanpa menoleh.

“Buat dikenang. Situ kan fotografer,” jawabku. Ia akan menginjakkan kaki di Lombok dalam hitungan minggu. Akhirnya setelah saya ceritakan tentang keindahan tiap sisi pulau tersebut, ia pun siap berangkat.

“Tidak semua hal yang bagus perlu dikenang dalam bentuk foto,” ia akhirnya menoleh, menatap saya yang mengernyit heran.

“Tapi ini sunsetnya Lombok. Buat orang urban kayak aku, sunset itu barang mahal,” ucap saya ngeyel. Maklum, saya tipikal pekerja yang melewatkan terlalu banyak senja karena sibuk berkutat dengan layar monitor. Berbeda jauh dengan teman saya yang berprofesi sebagai fotografer ini. Baginya, menghirup udaha bersih, melihat hamparan hijau, dan mendengarkan debur ombak adalah hal biasa.

“Oh ya? Mahal banget?” tanyanya, saya mengangguk. “Berharga sekali?” saya ngangguk lagi. “Btw, kamu tahu film The Secret Life of Walter Mitty?” saya kembali mengangguk. Hattrick.

“Bagus tuh filmnya, tentang pencarian negatif film yang membuat si tokoh utamanya keluar dari zona nyaman kan?”

“True. Ada satu quote yang aku suka banget dari film itu. Wait, I’ll search it for you.” Lalu lelaki yang mencintai warna hitam itu pun sibuk menatap smartphonenya sementara saya masih memutar otak – mencari rayuan ciamik agar dia mau memberi satu atau dua foto langit pada saya yang fakir tamasya ini. “Nih, baca, resapi, pahami,” ia menyodorkan smartphonenya pada saya.

Sometimes I don’t. If I like a moment, for me, personally, I don’t like to have the distraction of the camera. I just want to stay in it.

Saya tersenyum membacanya. Nggak salah sih, tapi…

“Coba hitung, ada berapa momen yang kamu abadikan dalam bentuk foto?” Saya mulai mengingat-ingat, namun sebelum saya selesai berhitung, ia kembali berucap, “I swear, none of them were your best moment.

Saya terdiam.

Tiba-tiba ponsel saya berbunyi, sebuah notifikasi yang menandakan beberapa pesan singkat sampai di aplikasi messenger saya. Dibalik pop-up notification itu sunset Lombok tersimpan dalam wujud wallpaper. Senja keemasan di pantai senggigi yang dicapture beberapa menit sebelum saya memasukkan ponsel ke dalam saku – sibuk memandang matahari benar-benar terbenam di garis laut.

Benarkah apa yang saya abadikan ini bukanlah momen terbaik? Benarkah ia hanya sekedar permulaan? Benarkah galeri saya selama ini diisi oleh percikan momen saja? Atau benarkah selama ini saya pernah benar-benar menikmati momen tanpa terganggu kamera?

“Aku nggak pernah ngecapture hal-hal terbaik dalam hidup.” Ia menutup penjelasan sementara saya masih sibuk mengingat-ingat best momen yang pernah dilalui.

Kayaknya bener deh ucapan temen saya ini. Kalau dipikir-pikir, sedikit sekali foto di dunia ini yang menggambarkan kondisi sebenarnya. Yang feed IGnya penuh dengan foto pacar, biasanya punya sifat insecure. Yang suka pasang foto lagi ngegym, biasanya justru yang paling males berangkat ngegym. Yang suka pamer lagi jalan-jalan seringnya adalah mereka yang emang jarang ke mana-mana. Sebab yang terbaik terlalu berharga untuk diumbar dan yang biasa saja bisa direkayasa untuk tampak menakjubkan.

Life’s too short to just clicking the camera, gitu?” Saya berusaha menyimpulkan. Kini giliran ia yang mengangguk.

You got my point!” lalu ia bertepuk tangan. “Kamu sudah lihat cantiknya senja Lombok kan? Mau berkali-kali kamu lihat wujudnya dalam bentuk foto, nggak akan ada yang bisa mengalahkan kecantikan senja tersebut dalam ingatanmu. Jadi, nggak usah minta foto langit lagi ya?”

Saya tertawa. Sialan, bener banget nih orang. Toh senja terbaik akhirnya saya nikmati hanya dengan menatap dan menikmatinya – merekam segala hal yang disuguhkan Tuhan dalam otak yang nggak seberapa ini. Begitu pula dengan sunrise, birunya langit, kelabunya cakrawala, nikmatnya masakan ibu, hangatnya pelukan ayah, dan tawa renyah adik-adik. Semua saya ingat dengan baik, bahkan mampu saya ulang dalam kepala, meski tanpa bantuan kamera.

Ujung-ujungnya jadi mikir lagi, zaman sekarang – di mana semua orang punya kamera sendiri – kita jadi merasa berhak untuk merekam segala hal dengan dalih “demi mengabadikan” dan “demi membagikan”. Akan tetapi alih-alih membuatnya abadi, kita malah cenderung merusak momen tersebut. Yang harusnya dilihat dengan mata dan dimasukkan ke hati, akhirnya justru dilihat oleh mata lensa dan masuk ke memory card.

Saya juga jadi inget ucapan salah seorang sahabat dulu, “Win, you should learn how to seize the moment.

May be it’s not just for me, but for you too – may be for all of us.

 

 

Leave a Reply