Sok Jagoan

James Arthur pernah menduduki tingkat teratas chart lagu UK dan dunia pada 2016 lalu. Ngaku aja, kalian juga pasti suka banget dengerin Say You Won’t Let Go-nya kan? Hampir semua radio muterin lagu dia. Di mall, di café, bahkan di taksi online. Sampai sebel sendiri dengernya. Iya, lagu tersebut pernah memiliki nasib sama seperti Akadnya Payung Teduh dan Insha Allahnya Maher Zain ketika Ramadan. Tapi kali ini saya nggak bakal bahas lagu itu, melainkan salah satu lagu dia yang nggak banyak orang dengar: Safe Inside.

Saya pernah ada di masa di mana album Back from Edgenya James Arthur adalah satu-satunya playlist yang diulang-ulang selama satu bulan. Anehnya cuma album dia doang yang bisa masuk ke telinga, selain itu semua terdengar salah. Lepas itu saya udah nggak pernah dengerin James Arthur lagi, tau kabar dia pun enggak. Sampai akhirnya kemarin, hampir setahun setelah masa-masa Back from Edge, lagu dia tiba-tiba keputer lagi di Youtube saya.

Layaknya lagu lama yang udah kadung disisipi kenangan, semua nada dan liriknya jadi beraroma masa lalu. Ombak kenangan langsung menghantam, menenggelamkan kewarasan, dan menghanyutkan saya ke masa-masa enam tahun lalu. Coba kalian dengarkan deh, atau sekedar nonton video klipnya juga boleh. Kira-kira apa yang bakal muncul di pikiran kalian?

I remember when you were all mine

Watched you changing in front of my eyes

What can I say?

Now that I’m not the fire in the cold

Now that I’m not the hand that you hold

As you’re walking away

Kalau saya sih jelas, yang bakal muncul di kepala ya orang tua saya sendiri. Sebelum video klipnya muncul pun saya selalu kebayang-bayang orang tua ketika dengar lagunya. Ternyata visualisasinya pun sama banget dengan apa yang biasa terputar di imajinasi saya. Buat yang orang tuanya masih lengkap, buat yang orang tuanya masih sehat, buat yang nggak pernah melakukan kesalahan ke orang tua barangkali lagu ini nggak bakal menohokmu habis-habisan. Selamat, saya iri banget sama kalian.

I’ll share this to you: jangan pernah membuat orang tuamu khawatir. Jangan. Sedikitpun jangan.

Will you call me to tell me you’re alright?

‘Cause I worry about you the whole night

Don’t make my mistakes

I won’t sleep, I won’t sleep

If you’re home I just hope that you’re sober

Is it time to let go now you’re older?

Don’t leave me this way

I won’t sleep ’til you’re safe inside

Saya pernah tinggal jauh dari rumah, beribu kilometer jauhnya. Sebagai anak karbitan yang baru ngeh dunia rantau, saya sempat keranjingan. Yang biasanya maghrib udah harus di rumah, tiba-tiba saya punya kebebasan untuk pulang jam berapapun. Awalnya saya girang banget. Orang tua saya juga mungkin paham kalau gejala ini bakal dirasakan anaknya. Makanya tiap saat selalu dipantau. Pertanyaan seputar “lagi di mana?” silih berganti mendatangi ponsel saya. Kadang dari bunda, seringnya dari ayah. Di penghujung hari mereka juga selalu memastikan kalau saya nggak melakukan yang aneh-aneh, or at least nggak keluyuran malem-malem. Tapi namanya anak muda, saya suka nakal. Kadang jam 11 baru sampai rumah. Pernah jam 2 pagi baru buka pagar gara-gara nekat nonton konser.

Kekhawatiran orang tua lambat laun saya kesampingkan. Perhatian orang tua tak saya gubris. Pertanyaan mereka sering saya biarkan tak terjawab. Saya jadi sok-sokan bisa melakukan semua hal sendiri. Ketika ada masalah juga saya coba untuk memecahkannya sendiri tanpa melibatkan mereka lagi. Sok jagoan, begitu kata bunda dulu. Di mata saya semua baik-baik saja. Don’t worry, everything will be okay.

Tapi ternyata enggak. Semua tidak baik-baik saja. Satu per satu masalah makin membesar, meraksasa, membuat sesak, sampai saya kehabisan akal. Gilanya lagi di saat-saat genting seperti itu saya masih nggak mau kembali “pulang”. Padahal di sana orang tua saya kepikiran, kepalanya penuh dengan segala prasangka. Nggak bisa tidur karena nggak tahu saya ada di mana, sudah makan apa belum, baik-baik saja atau lagi kesusahan. Iya, gue tahu gue durhaka banget. Makanya gue pasrah aja ketika akhirnya sisa masa hidup gue yang sekarang dipenuhi oleh penyesalan. Gue mencoba lapang ketika safe inside nggak sengaja keputer dan membawa banyak “seandainya” yang sebegitu menyiksa. Gue terima ketika ada sesuatu yang remuk di balik dada ketika ngeliat teman-teman gue masih bisa quality time sama keluarganya. Iya, gue terima. Semua gue terima.

Will you call me to tell me you’re alright?

‘Cause I worry about you

I was lost. Saya nggak mengira semua bakal sekacau ini. Tapi, Tuhan selalu punya cara untuk mendewasakan saya. Dia yang paling tahu gimana harus menegur hambanya yang udah kelewat angkuh. Dia tahu saya bisa. Dia tahu saya bisa recover myself walaupun terseok-seok. Sekarang tiap denger lagu Safe Inside, saya jadi kesayat-sayat sendiri karena baru ngeh segimana kalutnya orang tua ketika saya jauh dari pandangan dan pantauan mereka. Saya juga jadi tahu gimana resahnya pikiran dan perasaan ketika ia yang cintai memilih acuh. Kini saya benar-benar tahu apa itu cinta dan seberapa besar energi di baliknya.

Pada akhirnya saya mengerti bahwa ikhlas itu susah luar biasa, apalagi kalau sambal dengerin James Arthur.

Leave a Reply