Kata dalam Buku

Tentang Mengedit Naskah

Saya suka menulis.
Tapi saya nggak suka mengedit.
Memperbaiki hal-hal yang sudah berhari-hari atau berminggu-minggu saya tuangkan dalam tulisan selalu terasa menjengkelkan. Harus hapus bagian ini lah, perbaikin bagian itu, ganti plot, diet kata, dan sebagainya. Sungguh, menulis itu menyenangkan, namun mengedit selalu terasa menyakitkan. Apalagi ketika harus mengedit tulisan yang sudah lama dipendam dalam waktu cukup lama, misal sebulan. Rasa-rasanya tulisan tersebut pengin dibakar, dibuang, dan dilenyapkan dari muka bumi. Pertanyaan bernada “ya ampun, Win, ngapain nulis beginian sih?” selalu menggema tiap kali saya membaca ulang tulisan sendiri.
Menjengkelkan.
Bagaimana bisa kita tiba-tiba tak menyukai apa yang dulu kita perjuangkan?
Dan anehnya, ketika mulai mengedit, selalu ingin memperbaiki semua. SEMUA. Tokoh, plot, setting, semua jadi terasa salah. Hingga akhirnya menyerah dan pengin ganti cerita saja.
Hal ini pernah saya tanyakan pada Windy Ariestanty dan Vabyo kala mereka main-main ke Surabaya tahunan silam. Sayangnya dua penulis kenamaan itu tetap tak bisa memuaskan rasa penasaran saya. Keduanya sepakat menjawab “edit sewajarnya karena cuma kita yang tahu kapan harus berhenti mengedit.” 
Ugh, kapan?
Saya terbiasa mengatur segala sesuatunya berdasarkan angka agar dapat terukur, termasuk waktu. Berhenti menulis, saya tahu. Cukup lihat outline yang dibuat di awal. Tapi kapan waktu berhenti mengedit, saya nggak pernah tahu. Kapan coba? Kapan?
🙁
Sampai sekarang saya masih nggak bisa melakukan apa yang Hemmingway sarankan. Write drunk, edit sober. Karena nyatanya saat saya udah sadar, segala yang saya tulis saat mabuk langsung terasa kacau balau, memalukan, dan memprihatinkan.
Adakah di sini yang bisa bantu saya? 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *