Win, Jangan Terlalu Polos Dong Jadi Orang

Judul di atas adalah ungkapan salah satu teman baik saya ketika tahu kalau ternyata saya … ya sepolos ini. Teman saya ini seorang laki-laki. Kami saling kenal sejak hari pertama berseragam putih biru. Selalu sekelas hingga hari terakhir di bangku SMA. Kami benar-benar berpisah ketika menjadi mahasiswa, namun nyatanya jarak justru kian mengakrabkan kami. Singkatnya, he knows me really well. Kayaknya semua gerak gerik saya bisa dia tebak. Semua kebiasaan saya sudah dia hapal. Tapi karena satu dan lain hal, kami sempat berhenti berkomunikasi hingga hampir dua tahun. And now we’re back as a good friend namun dia sempat kaget ketika tahu kalau saya masih sama aja kayak tahunan lalu: terlalu lempeng.

Jadi suatu ketika kami update masing-masing. Lalu selayaknya manusia dewasa (ceilah), kami sempat membahas beberapa kenakalan anak muda, dari yang wajar hingga masuk zona merah dan tergolong dosa besar. Saya sebenarnya nggak sebego itu soal pergaulan masa kini, cuma emang nggak concern ke sana dan nggak pengin juga utak atik zona tersebut. Namun teman saya ini berbeda. Dia tahu banget seluk beluk berikut beberapa istilah nakal. Saya kaget dia tahu terlalu banyak dan dia kaget karena saya tahu terlalu sedikit.

Setelah ngobrol panjang sama dia saya jadi mikir, ternyata ada beragam bentuk ancaman yang ada di sekitar saya, kamu, dan kita. Saya nggak bakal menyebutkannya satu-satu, tapi yang paling mengusik saya adalah sifat hedon dan kurangnya empati manusia saat ini. Buat saya, dua hal tersebut adalah penyakit menular yang membahayakan namun cepat sekali menyebar. Kamu boleh ngerokok, minum, atau selingkuh. Toh semuanya nggak berpengaruh apa-apa ke saya. Tapi kalau kamu nggak bisa memupuk empati pada orang lain, maka kecenderungan untuk saling menjatuhkan pun akan muncul. Awalnya mungkin cuma ngomongin orang lain di belakang, tapi lama-lama berani ngomong di kolom komentar, lalu ujung-ujungnya nggak malu untuk terang-terangan memaki. Hal-hal seperti itu yang belakangan ini dianggap keren oleh kita, generasi langgas yang konon menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. Saking bebasnya malah sering bablas menabrak norma dan nilai yang susah payah ditanamkan orang tua.

Kita seringkali lupa kalau yang seharusnya dipegang erat-erat itu adalah prinsip dan value, bukan pencitraan. Alhasil kita jadi suka gelap mata ketika ada orang yang punya pandangan berbeda dengan kita. Demi kepentingan sendiri/kelompok kita suka memaksa, menarik-narik orang untuk menuruti dan mewujudkan keinginan. Itu tuh kayak elu pengin ngejambret tas ibu-ibu yang baru turun dari metromini tapi nyuruh orang baru pulang sholat di masjid buat ngambil tas ibunya. Aneh nggak sih?

Selain masalah empati, gaya hidup anak sekarang juga bikin engap. Hedon abis. Ya gimana enggak, hampir di tiap hal yang kita lihat selalu ada unsur promosi produk di sana. Lagi macet, tontonannya iklan rokok di layar LCD perempatan. Lagi scrolling social media yang muncul juga postingan advertising terkait sale baju gede-gedean. Lagi enak-enak nyimak berita, eh ada bermenit-menit iklan barang elektronik nyempil di antaranya. Lagi mau menuntut ilmu lewat workshop, eh backdrop dan workshop kitnya penuh dengan logo merk makanan kemasan. Capek nggak sih diserbu iklan dari sana sini?

Jujur aja saya juga nggak ngerti ini tulisan sebenarnya ke mana arahnya. Saya dari tadi mengeluhkan kurangnya empati anak muda, tapi sayanya pun masih kurang bisa mendukung teman-teman yang butuh bantuan dan masih sering menyalahkan sesama. Soal hedon pun, mau gimana pun saya mengeluh, toh saat ini saya juga kerjanya di dunia marketing yang tujuan utamanya mempromosikan sebuah produk/brand.

So, yeah, mungkin ini yang dikritisi oleh teman saya tadi. Jangan terlalu polos, win. Barangkali memang bukan saatnya lagi saya pura-pura bego dengan kekompleksan pergaulan orang-orang seumuran saya. Barangkali saya emang harus menerima kalau saya harus hidup bersama segala ancaman yang bersembunyi di balik pencitraan kebaikan. Barangkali teman saya itu hanya ingin menyadarkan saya, bahwa jauh-jauh dari masalah lantas nggak ngebuat saya jadi sosok yang suci.

Sumpah, gue bingung, jadi gue mesti gimana?

Leave a Reply