Kerajinan Tangan

Winona Menggambar

screenshot IG @winonarianur
“Cil, kamu kok sekarang suka ngepost gambar-gambar gitu sih? Kayak anak TK aja masih suka nggambar.”
“Selo banget ya, Win, sampai bisa gambar-gambar gitu?”
Kalimat-kalimat senada sempat beberapa kali masuk ke telinga saya dan menciptakan rasa nyelekit di dada. Kebiasaan atau hobi menggambar yang baru saya tekuni ternyata membuat teman atau orang di sekekeliling saya heran.
Ngapain sih, Win?
Buat apa?
Nggak ada kerjaan lain ya?
Beragam pertanyaan menyepelekan tersebut justru balik membuat saya heran. Memangnya salah ya kalau saya suka menggambar? Ada yang salah dengan kecintaan saya mengeksplorasi potensi diri? Ada yang salah dengan menikmati diri sendiri? Ada yang salah kalau saya mulai mempelajari seni? Kalau ada yang salah, itu bukan dari saya, tapi dari kalian.
-___________________-
Hobi menggambar saya memang masih sekedar senang-senang saja. Dilakukan di akhir minggu sambil nonton serial kartun di televisi. Tapi kebiasaan ini sebenarnya sudah saya lakukan sejak masih sangat kecil. Dulu, orang tua saya senang membiarkan saya menggambar di kertas. Bolak-balik saya dibelikan pensil warna, crayon, dan spidol karena bolak balik juga saya menghilangkannya (hehehe). Kedua orang tua saya bukan seniman sih, namun mereka tahu benar kalau anak kecil itu ya kerjaannya menggambar.
Dulu saya juga suka mendengar cerita-cerita / dongeng dari ayah. Sumbernya bukan dari buku dongeng, tapi dari isi kepala ayah sendiri. Jadi untuk membuat saya dan adik-adik bisa berhenti berlarian, ayah biasanya akan mengajak kami duduk diam mendengarkan berbagai kisah karangannya sendiri lengkap dengan gambar ilustrasi yang digambar spontan. Kalau isi ceritanya tentang monyet dan kancil maka ayah akan menggambar dua binatang tersebut di depan kami.
Kebiasaan ayah tersebut menular pada saya. Kesukaan ayah bercerita membuat saya suka membuat dan menuliskan cerpen. Sementara kesukaan menggambar beliau tentu membuat saya suka menggambar hingga kini. Corat coret buku pelajaran sudah jadi hal biasa. Di mana ada kertas, ada saja yang digambar. Hingga kemudian saya berkenalan dengan dunia maya. Lewat internet saya menemukan para illustrator profesional dan orang-orang lain yang jago menggambar. Dari mereka saya belajar, mencontoh cara menggambarnya, membeli peralatan gambar seperti milik mereka, dan coba memberanikan diri menyapa agar dikenal. Untungnya para sensei ini nggak pernah pelit ilmu dan selalu welcome dengan kita yang baru belajar menggambar dengan benar.
Kini circle saya bertambah satu lagi. Ada orang-orang baru yang super menyenangkan dan selalu bisa mendukung saya ketika orang lain mengganggap aneh kebiasaan menggambar saya. Heran deh, kenapa menggambar diartikan sebagai hal sepele sih? Pada belum tau ya kalau seniman itu juga punya kekuatan? Pada nggak tau ya kalau semua hal yang ada di dunia ini proses pembentukan awalnya digambar? Hellloooowww?!
Jadi buat yang masih suka tanya kenapa saya suka nggambar, mending kalian balik badan dan menemukan hobi sendiri deh. Nggak usah mengganggu kesenangan orang lain. Nggak usah berisik kalau kalian baru bisa jadi pemakai / penikmat dan belum bisa jadi creator. Sama-sama berkarya akan jauh lebih baik daripada cuma menjelek-jelekkan pekerjaan orang lain.

One Comment

  • Akarui Cha

    Iya. Menggambar bukan kegiatan anak anak kok. Aku sampai sekarang suka mewarnai, tapi cuma pake spidol. Aku suka lagu anak anak juga. Karena dunia anak anak lebih kteatif dan imajinatif. Nggak perlu takut dikira seperti anak anak, karena anak anak lebih mudah beradaptasi di suatu lingkungan daripada orang dewasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

clear-fix">