night drive
Menulis

Sebuah Surat tentang Lima Belas Lagu

Tuan, tadi malam saya mimpi kamu.

Selayaknya de javu, alur mimpi saya serupa dengan momen-momen yang pernah kita lalui bersama. Saya di bangku kiri dan kamu di bangku kanan, selalu. Langit di atas sana telah berubah gelap. Lampu-lampu kota dan rambu-rambu jalan berusaha memberi warna – seakan mencari pengakuan bahwa mereka secantik para bintang di atas sana. Jalan yang kita lalui belakangan selalu sama, lagi-lagi tujuannya adalah rumah saya.

“yuk!” saya memberi tanda bahwa seatbealt telah terpasang. Siap pulang.

“tunggu,” biasanya kamu meminta saya sedikit lebih sabar. Saya hapal, kamu sedang mencari sebuah benda. Bentuknya persegi panjang, ukurannya mungil, di dalamnya tersimpan sebuah album musik favoritmu. “nggak boleh sampai lupa. The best thing in my life.” Begitu kamu biasa berucap ketika telah menemukannya – berlebihan memang, namun saya tak pernah membantahnya. Kamu akan menghubungkan kotak kecil tersebut ke alat pengeras suara. Detik kemudian dunia kita seakan berubah warna. Sebuah sensasi yang membuat hati lebih riang.

Album tersebut berisi lima belas lagu yang dinyanyikan oleh beberapa penyanyi – album khusus berisi soundtrack film keluaran Hollywood. Berkisah tentang seorang laki-laki dan perempuan yang jatuh cinta dalam perjalanan menggapai mimpi masing-masing. Saya mengagumi si pemeran tokoh utama pria dan kamu tergila-gila dengan si pemeran tokoh utama perempuan. Kita hapal benar semua lirik dan nada kelima belas lagu tersebut. Iya, kita sudah sepakat bahwa album OST tersebut adalah yang terbaik. Kita bahkan hapal lagu ini muncul di scene mana dan ketika lagu itu si tokoh sedang membicarakan apa.

Kita tahu film tersebut tidak memiliki akhir cerita seperti yang diharapkan. Cinta akhirnya kalah oleh keegoisan masing-masing. Tapi bodoh amat, toh kita hanya penikmat yang terbuai oleh angan, bukan sang pelakon drama.

“ini lagu kesukaanku!”

“this is the best part! OMG!”

“ini pas moment sedih..”

Sering kita saling bersahutan saking excitednya ketika pergantian track. Padahal udah sering banget didengerin. Iya, kita senorak itu. Kadang kalau lagi sama-sama capek, kita hanya mendengarkan dalam diam – saya memandangi bangunan dan kamu lurus menatap jalan. Kita menyelam, mendalami, hanyut. Kadang kita membahas kegiatan yang dilalui seharian – berkisah tentang apa dan siapa. Tentang khawatir, harap, dan lelah. Kadang kita membahas rencana berlibur – menyebutkan beragam lokasi wisata apik beserta ragam kulinernya. Kadang kita membahas potongan rambut yang cocok untukmu. Kadang kita bicara soal warna lipstick yang pas untuk saya. Kadang kita membahas rekan sejawatmu, teman sekantor saya, dan sahabar-sahabat kita. Apapun yang kita bahas, bagaimanapun suasana hati kita, lima belas lagu tersebut setia menjadi latarnya.

Kamu masih ingat, bagaimana saya hanya mau turun ketika lagu benar-benar habis? Kamu akan mengecilkan volume setelah saya membuka pintu kiri. Kita akan bertukar salam dan terima kasih. “hati-hati di jalan,” pinta saya. Kamu hanya akan menjawab singkat – meski saya tahu kamu masih suka utak atik smartphone sambil menyetir. Saya menutup pintu lalu berjalan membuka pagar rumah. Kamu akan membuka kaca jendela, memandangi saya dari tempat dudukmu. Kita lalu saling melambaikan tangan. Pintu pagar tertutup, kaca jendela pun demikian. Gas kembali diinjak dan perjalananmu kembali dimulai. Begitu kan?

Rasanya seperti nyata, tuan, asal kau tahu. Mimpi semalam memutarkan kembali momen keseharian kita dulu. Ketika terjaga dan membuka mata, saya butuh waktu beberapa detik untuk mengenali sekitar. Saya sempat bingung ketika memahami di mana saya berada dan mengapa saya merasakan kedekatan denganmu lagi. Aneh. Saya sempat menarik napas panjang, lalu beranjak dari hangatnya kasur, berjalan mengambil ponsel di ujung ruangan. Ketika menyalakan layar ponsel, saya akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan : semalaman, aplikasi pemutar musik di ponsel memperdengarkan lima belas lagu kesukaanmu.

“Pantas saja,” keluh saya pelan.

Aplikasi tersebut kemudian saya tutup. Dalam keheningan saya masih berusaha keras memulangkan pikiran-pikiran yang sempat menghinggapimu lagi tadi malam. Sudah habis saatnya, yakin saya dalam hati. Ternyata sulit, tuan, asal kau tahu. Alhasil saya membuka collaboration platform di ponsel untuk update soal kerjaan. Bayangkan, sepagi buta itu saya mengurus kerjaan demi menenggelamkan sosokmu – padahal muadzin baru akan bertugas sepuluh menit lagi.

Tuan, mengapa kembali datang dalam mimpi?

Kita telah sepakat untuk tak lagi berjumpa. Saya telah meminta dan kamu telah menyetujuinya. “Kita sudah dewasa,” begitu kamu selalu menasehati saya. Masuk akal, saya pun melepaskan diri darimu. Kita pun mengerti ini semua hanya pemberhentian sementara. Langkah kita tidak mengarah pada tujuan yang sama. Lupakan balon mimpi dan harap yang pernah kita terbangkan, biarkan mereka meletus terbakar atmosfer. Lupakan apa-apa yang pernah kita rajut menjadi kenang, tak perlu kembali diulur, cukup letakkan di sudut terjauh, biarkan ia membusuk.

Kita telah sepakat namun lima belas lagumu tidak. Ia kerap saya temui di tempat umum, di bibir para biduan, dan kadang di kepala saya sendiri. Wajah-wajah pemeran yang kita kagumi masih sering bersliweran di media elektronik. Beberapa moment mengingatkan saya pada scene favorit kita. Darimu, tuan, saya belajar untuk tak pernah menabung kenangan dalam nada.

Akan tetapi, terima kasih sudah jauh-jauh berkunjung. Dengan jarak yang sedemikian lebarnya membentang, hingga waktu pun kewalahan menempatkan kita dalam satu zona, melihatmu kembali duduk di sebelah kanan saya rasanya cukup menyenangkan. Salah, saya tahu, perasaan senang ini salah. Kamu pun pasti akan berpikir bahwa saya hanya sedang berdelusional. Terlalu keras kepala dengan pemikiran yang begitu sempit, begitu kamu selalu menilai saya – ya, belakangan kita memang terlalu jahat menilai satu salam lain.

Surat ini sudah terlalu panjang, Tuan. Akan saya cukupkan sampai di sini saja. Tidak, saya tidak akan mengharapkan apa-apa atau mendoakan kamu di sana. Tuhan sudah tahu mana yang terbaik untukmu, tanpa perlu saya susah-susah selipkan doa lagi. Tuan, mari kita bersepakat, untuk tak lagi mengganggu hidup masing-masing, sekalipun itu dalam mimpi. Masa kita telah habis, rasa di antara kita sudah basi. Mari hidup selayaknya orang kebanyakan : fokus pada masa depan dan acuh dengan masa lalu.

Salam,

Perempuan di bangku kiri.

*Tulisan ini saya buat setelah nonton salah satu film. Ternyata udah lama bangeeet nggak nulis cerita fiksi yang diangkat dari cerita lain. Bikin ginian sering-sering, gimana? Itung-itung melatih imajinasi (alesan sih, aslinya biar punya alasan kuat untuk nonton lebih banyak film aja)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *