winonarianur.com - kepiting asap samarinda
Daily Thoughts,  Traveling

Menepi Sebentar Ke Kota Tepian

Tepat seminggu lalu, kaki saya masih menapaki tanah merah khas pulau Kalimantan. Pagi sebelumnya, nasi kuning samarinda menjadi menu sarapan saya. Wangi cempedak masih lekat membaui hidung ini. Ponton bermuatan batu bara tetap berlalulalang di sungai Mahakam. Logat banjar dan Dayak meramaikan tiap percakapan yang saya dengar.

Samarinda, akhirnya saya datang lagi.

Tidak pernah terasa mudah untuk kembali ke kota ini. Ada begitu banyak kenangan dan cerita masa kecil yang tertinggal di kota tepian. Kelahiran dan kematian. Keberhasilan dan kegagalan. Semua melebur jadi satu dan menguar tiap saya kembali. Rasanya rindu tapi enggan. Seperti pulang tapi tak ingin berlama-lama. Aneh, tapi menyenangkan.

Ada tiga alasan kenapa saya ke Samarinda. Pertama, teman sebangku saya sejak SMP hingga SMA menikah. Kedua, kangen keluarga dan teman-teman. Ketiga, lagi jenuh di Surabaya. So yeah let’s say ini agenda kabur bentar untuk bersenang-senang karena emang pas balik ke Surabaya bawaannya bahagia (terlepas dari kesal karena bolak balik delay karena cuaca buruk)

Nostalgia

Nggak tahu kenapa ya tiap kali mengunjungi masa lalu tuh rasanya hati jadi menghangat. Ngeliat jalanan yang dulu saban hari dilewati tiap pergi pulang sekolah, ngeliat teman-teman yang dulu ketemu tiap hari sampai bosan, ngerasain makanan yang dulu kerap dinikmati – semua bikin senyum-senyum sendiri. Misalnya, dulu saya suka banget beli roti isi daging di salah satu toko roti. Saking sukanya, kalau saya lagi sakit, ortu suka beliin, trus saya mendadak sembuh. Mantap gak tuh? Nah, kemarin datang ke toko roti itu lagi, pilih roti sendiri, bayar sendiri (kalau dulu selalu dibeliin), terus pas makan jadi berasa anak kecil lagi. Misalnya lagi, dulu saya dan teman-teman doyan banget main UNO. Kalau main nggak bisa santai seakan yang dipertaruhkan adalah harga diri, trus ujung-ujungnya suka lupa waktu. Kemarin, kami kembali main UNO dan ternyata masih sama berisiknya – taruhannya masih soal harga diri karena yang kalah harus pulang jalan kaki.

Perasaan yang sama juga terasa ketika seorang teman membawa saya melihat rupa taman kota samarendah. Dulunya, lokasi taman kota itu adalah sekolah SMP dan SMA saya. Ada desir di dada ketika tahu tempat saya menghabiskan banyak waktu untuk belajar dan bermain kini rata dengan tanah – berganti dengan sebuah museum dan taman (yang jujur aja, nggak ada cakep-cakepnya). Kesel sih, tapi nostalgic feelingnya masih ada kok.

Menjadi Tamu Di Tanah Kelahiran

Beruntungnya, kemarin banyak orang yang menyambut kehadiran saya. Masing-masing mencoba memberikan suguhan terbaik, pelukan terhangat, dan pertanyaan yang dipendam selama menunggu pertemuan. Menyenangkan. Seorang bapak dari teman saya ada yang berbaik hati membelikan saya nasi kuning ketika saya bertamu. Seorang sepupu memasakkan makanan kesukaan saya dulu, yaitu mandai cempedak (yang saking cintanya, kemudian saya bawa pulang ke Surabaya). Seorang teman membawa saya ke restoran seafood supaya saya bisa makan kepiting asap yang MASYAALLAH ENAK BANGETTTTT SAMPE KEBAYANG-BAYANG SEKARANG, APALAGI KEPITINGNYA BERTELUR SEMUA ASTAGAAAA.

Berubah, Bertumbuh, Berkembang

Di sisi lain, saya akui Samarinda yang terkenal dengan tagline Kota Tepian tersebut juga mulai banyak berubah. Meski tata kotanya masih sama, namun pembangunan infrastruktur sudah mulai nampak. Ada flyover, ada jembatan Mahakam 2, ada taman hiburan baru untuk masyarakat, ada banyak tempat nongkrong baru. Mulai banyak brand retail dan F&B yang mencoba peruntungan di Samarinda. Secara nggak langsung, ekonominya pun makin bertumbuh meski isu korupsi masih santer terdengar di sana sini.

Orang-orang yang saya kenal pun turut bertumbuh. Beberapa berhasil meraih cita-cita, beberapa masih berusaha menyelesaikan apa yang telah di mulai, dan beberapa terus berusaha jadi yang terbaik. Senang rasanya melihat perubahan yang terjadi. Kalau dulu kerjaannya cuma saling ledek, kini saling menguatkan. Yang dulu cuma bisa ketawa bareng, sekarang bisa bahas kehidupan bareng (wadaw, serius amat).

5 hari 4 malam selama di Samarinda bikin saya sadar kalau jadi dewasa tak lantas membuat kita enggan bersentuhan dengan masa kecil. Menepi sebentar ke kota tepian justru berhasil merefresh pikiran saya – menyelamatkan diri ini dari rutinitas yang mulai jenuh. Pulang sebentar, bertemu dengan masa lalu, bercengkrama, bertukar cerita, mengisi ulang semangat, menata hati – sebelum kembali meraih impian di kota pahlawan.

Terima kasih untuk semuanyaaaaa~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *