winonarianur.com - podcast
Tech

Podcast : Konten Audio yang Lagi Naik Daun

Belakangan saya punya kebiasaan baru. Tiap berangkat dan pulang ngantor bukan lagi The Script, OneRepublic, atau Kunto Aji yang saya dengarkan kala macet menghadang. Tidak lagi ribet pilah pilih playlist di layanan streaming musik. Pula tak lagi ada chit chat seru antar penyiar radio yang membahas isu terkini. Belakangan saya punya kebiasaan baru, yaitu mendengarkan podcast.

Jujur aja, saya tipe orang nggak nggak bisa lepas dari audio. Terbiasa didongengi sejak kecil membuat saya suka mendengarkan. Beranjak dewasa, saya menyadari satu hal; tiap kali sekeliling saya sepi pikiran ini justru ke mana-mana, suka mikirin yang enggak-enggak – termasuk yang serem-serem. Ditambah lagi, saya bisa lebih fokus mengerjakan sesuatu kalau sambil dengerin musik. Jadi, intinya, saya emang doyan menyumbat telinga dengan bunyi-bunyian.

Pertemuan pertama saya dengan podcast justru berawal dari Twitter. Waktu itu saya baru pulang ngantor dan badan kerasa capeeeek banget. Niatnya sih pengin tidur lebih awal, tapi pas scrolling timeline Twitter, ada seorang content creator yang bikin thread tentang platform baru berbasis audio bernama Inspigo. Penasaran, saya coba download dan dengerin salah satu playlistnya – kalau nggak salah sih topiknya mengenai Finansial Untuk Millennials dengan Ligwina Hananto dari QM Financial sebagai guestnya.

Eh, kok menarik? Eh, kok keterusan denger topik lain? Eh, kok sampai tengah malam saya nggak tidur juga?

Dari sana saya jadi ketagihan podcast. Jadi suka nyari-nyari guest, channel, dan platform lain yang menghadirkan konten audio. Bayangin aja, kita bisa dapat ilmu langsung dari pakarnya hanya dari rekaman audio berdurasi kurang dari satu jam. Kontennya terasa singkat dan padat namun tetap terkesan ringan dan nggak menggurui. Topik yang diangkat pun beragam, mulai dari people management, decision making, hingga hal sesederhana gimana cara dress up yang baik untuk urusan kerjaan. Barangkali karena topik yang dibahas dekat dengan kehidupan sehari-hari itulah yang membuat podcast kini digandrungi saya dan ribuan millennials lain di Indonesia.

Sadar akan hal ini, beberapa bulan terakhir makin banyak content creator yang memperlebar distribution channelnya ke ranah podcast. Sebut saja Yoris Sebastian yang terkenal dengan buku Generasi Langgas, kini juga merambah ke podcast. Benazio Putra yang sudah tak asing di dunia blog hingga youtube, kini juga punya channel podcast sendiri. Bahkan CEO financial advisor yang lagi hype banget yaitu Jouska, Aakar Abyasa, juga belakangan sliweran jadi guest podcast dari satu channel ke channel lain. Menarik. Makin banyak konten bermanfaat yang dikonversikan dalam bentuk audio. Makin mempermudah generasi digital untuk menyerap informasi bermanfaat (yang nggak melulu soal hoax dan politik panas). Makin banyak pilihan yang bisa saya jadikan teman perjalanan ke kantor.

Tiga platform streaming podcast yang saya suka adalah Inspigo, Spotify, dan Soundcloud. Inspigo dan Spotify bersifat freemium sementara Soundcloud sendiri gratis. Love banget deh sama soundcloud. Dari dulu saya udah suka dengerin musikaliasi pusisi atau cover lagu di platform berlogo awan oren tersebut. Sampai pada masa di mana saya yang bikin konten audio sendiri (zaman masih suka berpuisi dan rajin composing audio sendiri). Eh, sekarang jadi sering main ke soundcloud karena ada banyak podcast seru di sana, sebut saja Makna Talks dengan guestnya yang selalu nambah insight baru, Financial Clinic yang nggak pernah bosen untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengelola keuangan, sampai Postinor yang witty.

Btw, ngomongin soal konten, setahun belakangan ini saya belum juga kelar baca buku Emotional Intelligence. Eh, kapan hari dengerin podcast tentang topik yang sama bersama Rene CC langsung paham banget apa inti dari EQ dan perbedaannya dengan kecerdasan lain – bahkan tahu gimana cara mengidentifikasi mana orang yang EQnya tinggi dan mana yang rendah. Semua info yang ingin saya serap selama berbulan-bulan dari sebuah buku justru saya dapatkan langsung hanya dari podcast berdurasi 50an menit di suatu malam ketika perjalanan sepulang kerja*. WOW.

Di sisi lain, sebenernya, saya juga pengin ngajak orang-orang di sekitar untuk coba dengerin podcast instead of turn on notification akun lambe turah yang kurang faedahnya. Tapi yha, lagi-lagi masih banyak orang yang lebih doyan ngomongin orang lain ketimbang mengembangkan diri sendiri. Contohnya, kapan hari ada seorang teman yang curhat tentang pacarnya ke saya. Berusaha sok bijak, saya keluarkan deh nasihat-nasihat tentang relationship yang sebenernya tadi pagi baru saya dapat dari podcast Thirty Days of Lunch bersama Andrea Catwomanizer.

“Gile, Win, kamu ngerti bangetttt apa yang aku rasain saat ini,” ujar teman saya dari seberang percakapan.

“Efek dengerin podcast tadi pagi nih,” jawab saya sadar diri. “Kamu dengerin juga gih, ntar aku share linknya.”

“Nggak usah.”

“Ya elah tinggal dengerin doang kok.”

“Mending aku dengerin dari kamu aja.”

“…”

Nah, temen saya ini adalah contoh nyata dari menyia-nyiakan kesempatan. Jangan ditiru ya, adik-adik.

*Note: bukan berarti saya nggak pengin baca buku lagi yaaa.. saya sadar kok apapun yang keluar dari mulut seseorang umumnya tidak lagi murni fakta karena telah bercampur dengan opini (prejudice). Sementara di buku, informasi yang dipaparkan pasti sudah melalui riset panjang dan lolos dari kejamnya editor. Agar dapat informasi dan ilmu yang valid emang paling bener ya baca buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *