perkiraan yang keliru - winonarianur.com 01
Literasi,  Menulis

Perkiraan yang Keliru

“Kamu nggak pengen aku di sini?” tanyanya dengan intonasi yang tiba-tiba meninggi. Aku yang sejak 15 menit lalu duduk berhadapan dengannya memilih tak bergeming, bingung harus menjawab apa. Di antara hening, ada Right By Yoursidenya James Morrison mengalun pelan. Ah, siapa sih yang mengatur playlist di cafe berkonsep open space ini?

“Aku siap pindah ke sini, asal kamu mau,” yakinnya padaku. Setelah lama tak jumpa, lelaki dari masa lalu ini muncul kembali. Seminggu terakhir ia membanjiri notifikasi ponselku, minta sedikit waktuku untuk bertemu, lalu mendadak membawa buah tangan harapan baru. Jika biasanya jarak mengambil porsi besar dalam hubungan kami, kini ia dapat dilipat – semua bisa jadi dekat dan singkat. Apa yang kami inginkan sejak dulu, apa yang kami keluhkan sejak kapan taun, apa yang kami gerutukan tanpa henti, mulai tampak titik terangnya. Namun mengapa saat momen ini datang, rasanya aku ingin kembali berjauhan?

“Serius, kamu gak pengen aku deket sama kamu?” lagi ia bertanya. Lagi, aku terdiam. Hanya mampu mematung sembari mencari kata padanan yang tepat. Matanya lekat menatapku, sementara aku memilih memperhatikan kekosongan di balik pundaknya.
Dua cangkir kopi dan sepiring pisang goreng di meja juga pasti geram menyaksikan kami. Barista dan pelayan yang lalu lalang sejak tadi tampaknya pun menaruh tanya pada kami yang sejak tadi berhadapan namun minim kata-kata. Pertanyaan-pertanyaan menggelitik di kepalaku pun mulai gaduh bergema.

Sebenarnya kita ini apa? Sebenarnya kita ini mau ke mana?

“Aku nggak tahu,” ucapku lirih, berusaha meredam kegelisahan sendiri.

Ia menarik tubuhnya mundur lalu bersandar pada kursi rotan. “Apanya yang bikin kamu nggak tahu?” Kini ia melipat tangannya di depan dada. “Bukannya lebih enak kalau kita sama-sama di sini?”

Tidak. Ingin sekali aku menjawab tidak. Tapi ia sudah di sini, siap menyambut mimpinya di kotaku. Kalau saja mampu mengatur waktu, kuingin ia di sini empat tahun lalu, bukan baru datang seminggu terakhir. Jika diri ini mampu memutarbalikkan hati, kuingin rasa yang lalu dapat kembali hadir memenuhi asa. Andai dulu yang kami genggam bukanlah keegoisan masing-masing, mungkin tak ada sesal yang berusaha kami tutup-tutupi lagi.

Lelaki berkulit sawo matang di hadapanku tiba-tiba berdiri. “Sialan, kukira selama ini kamu nunggu aku”. Tesentak, aku mendongak lalu menatap nanar matanya. Kami beradu pandang dalam senyap – sama-sama menahan diri untuk tak kembali saling menyakiti. Tak lama ia mengambil tas, menyabet ponsel yang sejak tadi berdering di atas meja namun selalu ia abaikan, lalu berlalu melewatiku begitu saja.

Aroma tubuhnya menyergap penciumanku sepersekian detik – melahirkan suasana masa lalu yang kuhapal benar, tentang peluknya yang pernah kuanggap sebagai rumah. Ia ternyata tidak banyak berubah, selalu ingin segala sesuatunya terjawab cepat dan tepat, selalu ingin aku mampu menerima ia apa adanya, selalu lupa jika aku tak bisa menunggunya selama ini.

“Sialan, kukira ia akan datang lebih cepat,” gerutuku sambil memasang cincin pertunanganku kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *