The Pareto Principle dan Set Boundaries - winonarianur.com
Daily Thoughts

The Pareto Principle dan Set Boundaries

Kapan hari saat lagi ngescroll timeline Twitter, saya nemu satu quotes menarik, yaitu know your position in someone’s life and act accordingly. Sakjane gentle reminder kayak gini sudah sering datang dari Gusti Allah melalui banyak cara, cuma sayanya yang emang bebal dan keras kepala, walhasil sering kecewa dengan ekspektasi sendiri. Ngeliat orang kesulitan, ingin bantu – padahal mereka gak butuh dibantu. Ngeliat orang bingung, ikutan bingung. Masalah akhirnya bertumpuk, milik saya dan milik orang lain. Coba menyajikan solusi namun kerap dikesampingkan. Lama-lama capek sendiri. Mostly karena emotionally exhausted. Semua karena salah memposisikan orang lain dalam skala prioritas diri sendiri dan tidak tahu posisi prioritas saya di hidup orang lain. Yep, kids, that’s how I always fucked up my life.

Lalu gimana solusinya? 

Beberapa minggu lalu saya menghubungi seorang mentor, curhat tentang masalah yang saling tumpang tindih di hadapan saya. Setelah cerita panjang lebar sampai pulsa hampir habis, beliau dengan mudahnya menemukan masalah utamanya, “Win, inti masalahnya itu sederhana, semua cuma soal komunikasi.” Mendengarnya, saya tertegun. Ternyata kalut di kepala ini saat diurai hasilnya cuma segitu doang. 

Manusia itu berbeda-beda; cara marahnya, cara menghadapi masalah, cara berkomunikasinya – sedikit banyak hal ini dipengaruhi oleh love languagenya masing-masing. Ada yang suka disemangati karena tipe yang Words of Affirmation, ada yang ditemani doang sudah merasa aman sunyaman karena tipe yang Quality Time, ada pula yang kudu sering-sering dipeluk dan dirangkul supaya emosinya mereda karena ia tipe Physical Touch. Macem-macem, tapi kan kita nggak mungkin menghapal love language tiap orang, capek juga yaaa bisa-bisa ntar lupa for loving myself.

Mentor saya kemudian ngasih solusi untuk pakai prinsip Pareto saat menjalin relationship dengan siapapun. Untuk yang belum tahu, The Pareto Principle adalah formula 80-20, di mana dari banyak kejadian sekitar 80% dari akibat sebenarnya disebabkan oleh 20% penyebabnya. Teori ini awalnya hadir untuk menjawab kebutuhan manajemen bisnis, sebab diyakini bahwa 80% kekayaan dunia hanya dimiliki oleh 20% populasi dunia atau sebenarnya hanya 20% produk yang menyumbang 80% keuntungan perusahaan.

Trus apa dong hubungannya Pareto ini dengan masalah komunikasi? Gini, we can’t please everyone. Sementara relasi dengan siapapun perlu dimaintain, baik itu dengan keluarga, pasangan, teman, atau rekan kerja. Dengan keterbatasan tersebut, kita sebenarnya bisa menggunakan formula 80-20 Pareto. Selalu berikan 80% perhatian kita untuk 20% orang-orang terdekat – yaitu mereka yang juga memprioritaskan kita. Di sisi lain cukup berikan 20% perhatian kita untuk 80% orang yang nggak dekat-dekat amat.

Kalau kata sahabat saya sih, “define your circle, Win, set boundaries.” Saran sahabat saya ini kalau dipikir-pikir juga sejalan dengan stoicism yang sedang saya pelajari beberapa bulan terakhir – tentang bagaimana membuat garis batas dan sadar mana yang di bawah kendali, serta mana yang lebih baik diserahkan sepenuhnya pada semesta – bahwasannya semua punya waktu dan porsinya masing-masing. Dalam Islam pun diajarkan untuk tak pernah berharap dan bergantung pada apapun kecuali pada Yang Maha. Namun yaa kembali ke paragraf awal tulisan ini, kadang saya masih bebal dan keras kepala. Namanya juga manusia, lebih senang bersandar pada sesama (yang sebenarnya sama-sama rapuh).

Okay, balik ke obrolan bersama mentor saya tadi. Setelah mengangguk-angguk mengamini The Pareto Principal, saya pun mulai mengaudit skala prioritas – tentang siapa yang perlu dipertahankan serta mana yang sekedar numpang lewat. I’ll give my best to people who love me right, sisanya ya sekedarnya aja. Dari sign dan reminder yang hadir saat saya lost kemarin, semua mengarah pada satu kesimpulan: rasa sayang memang dapat diperluas, namun energi saya terbatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *