lagi-lagi semua soal mindset - winonarianur.com
Daily Thoughts

Lagi-lagi, Semua Soal Mindset

Hi, apa kabar?

2020 udah memasuki bulan ke tujuh. Time flies, 2020 makin kenceng larinya gara-gara pandemic, ya nggak sih? So, how’s life nih guys? Seluruh dunia lagi nggak baik-baik saja, ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang kehilangan orang tersayang, sampai ada yang harus rela berpisah dalam waktu lama. Satu virus membuat seisi bumi gempar. Banyak yang stress, mumet, pusing, termasuk aku sendiri.

Awal-awal virus menyebar dan WFH mulai diberlakukan, hidup kayaknya bakal fine-fine aja. Sedia banyak amunisi untuk dieksplorasi. Nggambar, bercocok tanam, menyulam, baking, you name it lah. Banyak banget yang pengen dilakuin karena merasa selama ini “gak punya waktu”. Lockdown berasa dapet kesempatan emas “ini saatnya untuk mewujudkan segala hal yang berakhir jadi wacana! Hahaha!”

Eh, tapi nyatanya nggak juga tuh.

Tanemanku pada mati, termasuk si bunga matahari yang kusayang. Nggambar juga sekarang mood-moodan banget. Udah beli matras yoga mahal-mahal juga ujung-ujungnya ngedeprok di pojokan (kadang eksis kalau weekend doang). Ternyata, kita nggak lagi baik-baik aja. Aku tidak sedang baik-baik saja. Kerjaan saling tumpang tindih, berasa babak belur tiap hari. Sebagai orang yang sehari-harinya berkecimpung di dunia digital, masa-masa sekarang tuh load kerjaan nambah berkali lipat, tapi kudu rela pendapatan terlipat. Jadi perlu ambil side job yang lebih banyak, walhasil back pain makin jadi (maap jompo bener ini si winona)

Sekitar 30 menit yang lalu ada orang yang nelpon aku dan nanya “are you happy?” pertanyaan sederhana yang bikin aku termenung cukup lama, hingga akhirnya sampai di kesimpulan “yes, I am”

Menurutku pribadi masa-masa sekarang ini adalah momen yang pas untuk kita mendewasakan emotional intelligence masing-masing. Banyak-banyak bersyukur, berempati, dan nggak pasang ekspektasi terlalu tinggi adalah tiga hal yang bisa kita asah supaya makin lihai mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari. Awalnya sih asleeee susah banget wey! Tapi setelah 4-5 bulan hidup dalam segala keterbatasan, ujung-ujungnya ini semua cuma masalah mindset aja. Yang paling cepat menerima kenyataan dan move on adalah yang paling bisa survive. Menurut sotoyku sih gitu ya. Karena gara-gara pandemi, true colorsnya orang-orang jadi pada keliatan.

Ada yang bawaannya jadi positive banget karena jago mengolah emosi, ada yang tetep steady karena time managementnya rapi jail, ada yang sambat mulu karena ngerasa apa yang dia beri nggak sesuai dengan yang dia terima, ada yang hidupnya kehilangan arah karena kehilangan banyak pilar hidup. Aku sendiri masih mencari celah gimana tetap bisa sane di tengah kekacauan yang entah kapan berakhirnya. Ada malam di mana tidur gak tenang, ada hari di mana energi full banget. Bisa tiba-tiba breakdown siang bolong, kadang happy banget sampe semua orang digangguin. Tapi dari sekian banyak ups and downs yang ada serta berita baik dan buruk yang sliweran, aku sadar kalau kuncinya lagi-lagi cuma ada di pikiran kita aja.

Capek kerja? Alhamdulillah masih capek kerja ketimbang capek nyari kerja.

Marah karena liat orang menggampangkan covid? Alhamdulillah aku punya pilihan untuk bisa menjaga diri.

Sedih lihat teman yang kesehatan mentalnya terganggu? Alhamdulillah, mungkin ini saatnya untuk jadi pendengar dan nggak gampang ngejudge

Happy karena tanggal muda? Alhamdulillah, saatnya bantu yang lebih membutuhkan

Semua rasa yang hadir, mau itu senang atau sedih, bikin hati penuh atau malah kosong, sebaiknya memang dinikmati dulu. Rasakan, terus rasakan. Dengarkan apa yang hati ini ingin sampaikan. Nangis aja, banting aja, teriak aja. Kenapa sih harus ditahan? Aku sih jujur belum pernah berhasil meditasi ya, tapi ketika kita sadar dengan apa yang kita pikir dan rasa, semakin kita paham apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Emang paling bener adalah menilik ke dalam diri dulu sebelum menyauti segala hal dari luar. Kalau kitanya emang sudah kuat, segala goncangan dari manapun akan bisa dihadapi (meski kadang gagal ditakis)

Dulu, atasan di kantor ada yang pernah ngasih wejangan. “Win, it’s all about mindset,” ujarnya sore itu kala kami lagi duduk santai di teras salah satu keda kopi. Mendengarnya, saya memandang nanar manusia yang ramai lalu lalang di hadapan – sambil berandai-andai apa sebenarnya isi kepala mereka. Karena ternyata beda orang, beda latar belakang, beda pola pikir, beda cara melangkah. Namun semoga segala apa yang riuh di kepala kita dapat segera reda dan semesta gantikan dengan hari yang lebih bahagia.

NB: Fokus aja dulu ke apa yang sudah ada. Survive. Jangan cari yang gak ada, asli capek lho..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *