Kata dalam Buku

Adrian – Cerpen Kolaborasi Part 5

“Sialan, ganteng-ganteng kok nggak punya mata! Dan apa dia bilang tadi? Dinda? Dari mana dia tau namaku?” aku menggerutu sementara Indira membantuku berdiri setelah ditabrak lelaki tak tahu diri tadi. Karena keteledorannya, hampir semua mata yang ada di perpustakaan segera menoleh ke arahku, satu-satunya pelaku yang menghasilkan bunyi gedebuk di pintu masuk.
“Sudah ah, toh kamu baik-baik saja. Dia terburu-buru karena dipanggil dosen pembimbing. Kalau enggak, pasti nggak mungkin bikin kamu kesal kaya gini,” jelas Indira sambil membawaku berjalan menuju tempat kami duduk berdua sebelumnya.
“Kamu kenal dia?” tanyaku dengan nada sinis, “Kok aku nggak pernah liat muka kayak gitu ya? Ish! Ya ampun, malu banget deh jatuh di perpustakaan begini!”
“Ssst, nggak boleh ngomong terlalu nyaring di perpus. Eh, tapi dia ganteng kan?” kini mata Indira sudah berpaling dariku dan mengarah ke pintu masuk tadi, mencari sosok lelaki menyebalkan tadi sambil senyum-senyum sendiri.
“Kamu kenapa, Ndi?” aku mulai menangkap gerakan aneh dari sahabatku. Dia yang biasanya paling nggak bisa terima kalau aku kesakitan, kini malah membela laki-laki gak jelas. Aku menyikut Indira agar perhatiannya kembali menujuku, “Dia siapa sih? Kok bisa tahu namaku?”
“Dia.. Ngg.. Dia Rian, Nda.”
“Rian? Rian anak mana ya? Ada banyak nama Rian di dunia ini.”
“Dia itu Rian, Nda. Adrian. Si empunya akun Tumblr rianwibisono yang sering sahut-sahutan puisi sama kamu itu loh!” kini suara Indira meninggi. Mendengarnya, tubuhku langsung disergap perasaan tak keruan.
“Hah? Adrian? Dia.. Kok..?” Aku segera berdiri dari bangku dan melongok ke pintu tempat kami bertabrakan tadi. Semua rasa kesal pun menghilang entah ke mana. Rian? Adrian Wibisono itu ada di sini? Di perpustakaan kampus? Jadi dia mahasiswa sini juga? “Beneran itu si Rian yang sering aku ceritakan? Kenapa kamu nggak bilang kalau itu dia sih? Ya ampun, Indiraaa.. Kamu kan tau kalau aku penasaran banget sama dia! Aku menunggu pertemuan ini, Ndi, dan kamu ngebiarin dia pergi begitu aja?!” kini aku tak kalah histerisnya dengan Indira. Kecewa, penasaran, dan kesal tercampur aduk di pikiranku.
“Duh, maaf, Nda, habis dia ganteng bangeeett.. Tadi dia duduk di sini,” Indira menujuk sebuah kursi di dekatnya, “Pas aku lagi buka Tumblrmu, dia nggak sengaja melihat lalu mengajakku berkenalan. Dia kira aku adalah Dinda Prameswari,” kini giliran laptopku yang ditunjuk-tunjuk Indira, “Saking gantengnya, aku jadi terpesona, Nda, aku cuma bisa ngangguk-ngangguk bego pas diajak ngobrol. Eh nggak lama, dia pamit karena dipanggil dosen dan ternyata malah tabrakan sama kamu di pintu masuk.”
“Parah kamu, Ndi. Sekarang aku harus cari dia ke mana dong?!” aku mendengus kesal. Ya Tuhan, itu tadi Adrian, laki-laki yang kutunggu-tunggu kedatangannya selama ini, lelaki yang berhasil mengusir lelaki terdahulu dari pikiran, dan lelaki yang membuatku tidur dengan puluhan tanda tanya yang menggantung.
“Entahlah, Nda, kita kehilangan jejaknya lagi karena aku nggak sempat tanya dia anak jurusan mana,” jawab Indira dengan wajah pasrah. “Tapi setidaknya kita nggak perlu keliling dunia untuk menemukannya, kan? Toh dia sekampus dengan kita. Jadi ayo mulai mencari!” wajah Indira berubar senang.

Sigh! Should I, Adrian?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *