Memanusiakan Manusia

Anak Jalanan

Di Samarinda nih

Rasa-rasanya saat ini nggak ada satu kota pun di Indonesia yang nggak punya masalah sosial bermodel anak jalanan. Di kota kelahiran saya, samarinda, anak jalananan ada di mana-mana. Di Surabaya, tempat saya kini menetap, masih banyak anak-anak ngamen di jalanan. Di jakarta, apalagi, tiap persimpangan ada saja anak kecil yang setia menengadahkan tangan – meminta uang dengan besaran apapun. Masalah menahun ini kian mengkhawatirkan. Kemarin saya mendengarkan penjelasan Agustinus Tedja, aktivis kemanusiaan Jawa Timur yang menuturkan bahwa angka anak jalanan meningkat pesat tiap tahun. Beragam cara sudah dilakukan untuk meredam pertumbuhan, namun tetap saja mereka bertambah dan menyebar di sepanjang jalan-jalan kota.

Jika sudah bicara soal anak jalanan, kemiskinan pasti jadi hal utama yang dikambinghitamkan. Yah, apa mau dikata, kemiskinan di negara ini masih jadi lingkaran setan yang tak jua ditemukan ujung pangkalnya. Bak bola panas, terus bergulir menggilas mereka yang tak sanggup berkompetisi. Tak hanya soal ekonomi, legalitas mereka di Indonesia juga masih belum menemukan solusi. Anak-anak jalanan ini banyak yang tak kenal ayah ibunya. Kalaupun tahu asal usulnya, mereka tetap tak punya bukti hukumnya. Tak ada akta lahir, tak masuk di database catatan penduduk, tak punya KTP, tak punya identitas. Alhasil tak punya cara untuk bersekolah dan mendapat fasilitas selayaknya warga negara umumnya.

Lalu membantu mereka harus dimulai dari mana? Jujur aja, saya juga nggak tahu. Agustinus Tedja sendiri masih kewalahan menghadapi permasalahan anak jalanan ini. keinginan untuk merangkul mereka dan memperjuangkan hak-hak mereka di negara ini saja belum berhasil beliau tuntaskan. Too many barriers. Apalagi kebanyakan anak jalanan juga tak punya keterampilan, membuat mereka terus-terusan bergantung pada orang lain. Ujung-ujungnya tetap saja meminta-minta.

Saya jadi ingat masa-masa dulu waktu masih aktif berkegiatan di forum anak daerah Kalimantan timur, sebuah organisasi yang mewadahi kami, anak-anak Indonesia, untuk bisa membantu anak-anak lain dalam memenuhi hak-hak dasarnya sebagai anak Indonesia. Ribet ya? Jadi gini, dalam undang-undang, seorang manusia dikatakan masih anak-anak ketika dibawah usia 19 tahun. Jadi semua yang berumur 0-18 tahun berhak mendapatkan lima hak dasar anak, seperti keamanan, perlindungan, dan sebagainya. Dulu waktu masih SMA saya kerjaannya berkegiatan seperti itu. menyambangi anak-anak kurang beruntung guna membantu mereka dalam memenuhi hak tersebut. berinteraksi dengan anak-anak di kampung kusta/lepra, blusukan ke lapas anak, sampai berinteraksi langsung dengan anak jalanan.

Agustinus Tedja

Emang sih ya, anak-anak selalu jadi korban dari kecerobohan orang tuanya. Mereka yang kurang beruntung dan berperilaku menyimpang ini biasanya lahir dari hubungan orang tua yang dari awal sudah salah. beberapa lahir dari rahim ibu yang sebenarnya belum siap mengasuh anak. Kebanyakan tak tahu ayahnya siapa. Tekanan sana sini membuat mereka memberontak. Bertingkah aneh karena cari perhatian. Mencoba apa-apa yang berbahaya karena merasa hidupnya tak cukup asik. Saya pernah nemenui anak yang terpaksa menghabiskan masa mudanya di rutan karena menjadi tersangka kasus pembunuhan. Bisa kalian bayangkan nggak sudah segila apa isi kepala anak tersebut sampai tega menghabisi temannya sendiri?

Saya dan kamu di sini harus banyak-banyak bersyukur karena bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Kalaupun belum mampu membahagiakan orang tua, setidaknya tidak menyusahkan atau merusak nama baik keluarga. Apapun yang sering kita keluhkan di media sosial itu nggak ada apa-apanya dibanding kerasnya cobaan hidup anak-anak yang tinggal di jalanan. Mengubah pola pikir mereka itu susahnya ampun-ampunan. Menumbuhkan semangat dan memotivasi mereka itu sulitnya di luar bayangan. Rata-rata mereka sudah pesimis dan skeptis dengan kehidupan. Kalaupun diberi kesempatan untuk berubah, masih banyak yang nantinya kembali lagi ke jalanan. Dulu kadang saya sampai pernah mikir, apa mereka bagusnya dirukiyah aja ya sekalian?

Hmm, mungkin kalau kita mau lebih cepat bergerak dan menyelamatkan mereka sejak kecil, resiko mereka akan kembali ke jalanan juga akan lebih kecil. Back to basic gitu sih, makin kecil seorang anak, semakin mudah dibentuk mindsetnya. Menanamkan keterampilan sejak dini bisa jadi salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas diri anak-anak jalanan. Kalaupun mereka enggan sekolah, setidaknya mereka masih bisa berdikari dengan kemampuan yang mereka miliki. Pokoknya jangan sampai kembali ngamen atau minta-minta. Penyelamatan ini juga tentunya harus didukung oleh lingkungan tempat tinggal si anak. Yah, lagi-lagi masalahnya adalah di orang dewasa. Ujung-ujungnya kembali ke masalah utama : kemiskinan.

Makanya, saya salut banget tiap kali ketemu orang-orang baik yang bersedia memberikan tenaga, pikiran, bahkan harta mereka untuk menuntaskan permasalahan kemiskinan model anak jalanan begini. Apa yang sudah diperjuangkan Agustinus Tedja wajib banget ditiru. Pemerintah juga makin kemari makin keren usahanya dalam membantu rakyatnya keluar dari kemiskinan dengan memberikan subsidi ini itu. walaupun tak mudah dan masih sering disalahgunakan, tapi semoga upaya ini berhasil memberikan dampak yang baik bagi anak jalanan. Karena, mau anak jalanan atau anak rumahan, anak Indonesia tetap anak Indonesia. Punya hak dan kesempatan yang sama di negara ini.

 

 

sumber gambar :

  1. http://ceritakota.info/2015/02/anak-anak-di-perempatan-jalan.html
  2. https://twitter.com/lentera_net/status/762193312820453376

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *