Senandika

Arrival Section on The Airport

Salah satu tempat paling menyenangkan di dunia ini adalah terminal kedatangan di bandara. Setiap perjalanan pasti memiliki tujuan. Dan, sampai di tempat yang dituju lalu bertemu dengan hal yang diimpikan adalah sebuah kebahagiaan. Terminal kedatangan selalu dihiasi oleh senyum dan tawa. Di detik awal pertemuan, selalu ada dua tangan yang berjabat, dua tubuh yang saling memeluk, serta dua jiwa yang akhirnya bersatu setelah sekian waktu menahan rindu. Terminal kedatangan selalu menjadi tempat membagi buah tangan – bisa dalam bentuk souvenir maupun kisah perjalanan.

Menoleh ke pintu kedatangan dari dalam bandara adalah momen favorit saya. Ketika mengantre ambil bagasi, saya suka deg-degan sendiri karena nggak sabar untuk melewati pintu demi bertemu ia yang menanti saya di balik sana. Semua barang bawaan terasa ringan, langkah diayunkan panjang-panjang, sementara mata ke sana ke mari mencari sosok yang dari tadi menunggu.

Pulang, tidak ada yang menyaingi kenikmatannya.

 

Saya rindu merasa pulang setelah menempuh perjalanan jauh nan lama. Saya rindu merantau, merangkum kisah untuk dibagikan di rumah. Saya rindu menahan lapar demi bisa nabung untuk beli tiket pulang. Saya rindu menghabiskan kuota tengah malam untuk membandingkan harga tiket. Saya rindu menghitung hari sebelum keberangkatan. Saya rindu packing berjam-jam. Saya rindu mengobrol dengan orang asing di ruang tunggu dengan topik ringan seputar asal dan tujuan. Saya rindu terbang dengan perasaan tak sabar. Saya rindu mengirimkan pesan singkat berbunyi, “off dulu ya, sudah mau take off,” ke beberapa orang tersayang. Saya rindu disambut dengan peluk erat. Saya rindu merasakan leganya menuntaskan rindu.

 

Tapi, rindu yang satu ini selamanya tetap jadi rindu. Sejak enam tahun lalu, terminal kedatangan tak lagi terasa sama. Ia berubah sepi. Tak ada lagi perasaan deg-degan yang membuat saya buru-buru ingin melewati pintu kedatangan. Semua terasa biasa saja, ia tak lebih dari sebuah pintu. Barang bawaan masih terasa sama beratnya seperti ketika masuk ke terminal keberangkatan.

Terminal kedatangan kini sekedar tempat singgah. Ia tak lagi jadi ladang kisah. Ia hanya sebuah tempat tanpa makna. Ia terasa dingin dan tak bersahabat. Kini yang saya cari setelah keluar pintu hanyalah driver taksi yang siap mengantarkan saya ke lokasi selanjutnya.

“Dari mana, mbak?” biasanya driver memulai obrolan.

“Pulang,” jawab saya singkat. Selalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *